Tiap Tahun, Catat 200 Penderita HIV/AIDS

KEPANJEN Secara kumulatif, jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang terus bertambah tiap tahun. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang sudah mencatat jumlahnya sejak 1991. Hingga 2018, tercatat sudah ada 2.509 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Malang. Dari rekapitulasi yang ditunjukkan pada koran ini, terlihat bila peningkatan cukup drastis mulai tersaji sejak 2013.

Sejak saat itu, rata-rata per tahun ada 200-an penderita HIV/AIDS baru yang teridentifikasi. Rekap terakhir di tahun 2018 lalu, diketahui ada 262 penderita baru. ”Kalau ditarik lebih jauh lagi, faktor utamanya (penderita HIV/AIDS) akibat perilaku seksual yang menyimpang,” terang Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah SKM MM.

Di satu sisi, penambahan jumlah penderita tersebut memudahkan Dinkes Kabupaten Malang untuk melakukan langkah penanganan dan pencegahan. Karena itu, Chairiyah menyatakan, masyarakat tak perlu menyudutkan orang yang positif HIV/AIDS. ”Saya harap masyarakat menghilangkan stigma negatif terhadap orang yang mengidap HIV/AIDS tersebut,” terang dia.

Sebab, menurut dia, tidak semua orang yang mengidap penyakit tersebut disebabkan perilaku seksual menyimpang. ”Bisa jadi diakibatkan transfusi darah atau melalui ibu yang menyusui. Jadi, saya harap mulai sekarang masyarakat tidak ada lagi stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” imbuhnya.

Untuk menekan penyebaran HIV/AIDS, dia meyakinkan bila dinkes sudah bergerak dengan sejumlah program. Salah satunya yakni program Zero New HIV Infection, Zero AIDS Related Deaths, Zero Discrimination. ”Penjabaran program itu yaitu target 90 persen pengidap ditemukan dan 90 persen akan diobati,” terangnya.

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Malang dr Ratih Maharani mengaku bila pihaknya saat ini terus melakukan screening di 33 kecamatan. ”Jadi, peningkatan itu juga hasil dari screening kami dari tahun ke tahun,” ujarnya. Dia menyebut bila langkah itu dilakukan lewat program Warga Peduli AIDS (WPA) yang dalam aplikasinya turut melibatkan Komisi Peduli AIDS (KPA).

”Kalau sebelumnya kami screening di kawasan tempat prostitusi, saat ini melalui WPA itu kami juga melakukan screening di tingkat kecamatan. Bahkan, sampai ke pedesaan. Oleh karena itu, dari yang sebelumnya tidak teridentifikasi, akhirnya mereka semua mulai terlihat. Ya, wajar kalau tiap tahun mengalami peningkatan,” papar Ratih. Sejumlah langkah penyuluhan ke beberapa sekolah juga aktif dilakukan pihaknya. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk pencegahan dini.

Bentuk pencegahan lainnya juga dilakukan dengan memberikan kondom gratis di sejumlah puskesmas. ”Selain kondom gratis, sekarang tiga puskesmas di antaranya Turen, Ampelgading, dan juga Sitiarjo yang sudah ada klinik khusus untuk menangani pasien AIDS,” pungkasnya.

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya