Tiap Malam Masih Terdengar Jeritan, Diusulkan Bangun Memorial Park

Di sela-sela penyaluran donasi untuk korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, Jawa Pos Radar Malang berkeliling ke sejumah titik bencana. Salah satunya di Perum Petobo, Jalan Soeharto, Palu Selatan. Seperti apa kondisinya setelah tiga bulan pascabencana?

ABDUL MUNTHOLIB

Sejauh mata memandang, hanya hamparan bongkahan lumpur kering dan bekas bangunan yang hancur. Area seluas lebih dari 50 hektare itu bak kuburan terbesar. Di tengah-tengah hamparan itu, terlihat ada empat rumah yang kondisinya rusak dan miring. Dan ternyata, rumah-rumah itu awalnya berada sekitar satu kilometer dari lokasi saat ini.

Ya, rumah itu adalah salah satu dari lebih dari seribu korban likuifaksi (tanah yang menggulung dan menyedot) di Perumnas Petobo, Palu Selatan, yang terjadi akhir September 2018. Lebih dari 3 ribu warga ikut tergulung tanah hingga terkubur hidup-hidup bersama rumah dan seluruh bangunannya. Di area seluas itu, terlihat tidak ada satu pun rumah yang aman. Semuanya hancur dan terkubur lumpur setinggi tiga meter.

Salah satu saksi mata likuifaksi, Armin, 65 tahun, yang ditemui di lokasi, menjelaskan, dia selamat dari gulungan tanah berlumpur saat itu karena cepat melompati tanah yang terbelah. Hanya yang dia sayangkan, Armin gagal menyelamatkan keponakan dan cucunya. Sebab, saat itu kondisinya semua panik, gelap, sehingga dia tidak sempat mencari keluarganya. ”Saya lihat sendiri rumah saya bergerak dan berjalan. Tapi, saya memilih yang penting saya aman dulu sambil melompati tanah yang sudah pecah. Saya telat sedikit saja melompat, bisa saja jadi korban juga,” kenang Armin sembari menunduk.

Armin terlihat cukup berat saat akan melanjutkan cerita kelamnya itu. Apalagi dia masih merasa berdosa karena tidak bisa menyelamatkan anak dan cucunya. Namun, dia mengaku tidak boleh  bersedih terus. Dia harus bekerja sebagai petani lagi meski kini tinggal di pengungsian di bukit Petobo. ”Harus saya jalani kenyataan ini. Mau gimana lagi,” terang dia.

Selain di Petobo, likuifaksi juga menelan lebih dari 2.000 korban jiwa di Perum Balaroa. Sekitar 700 jenazah berhasil dievakuasi. Sisanya terpendam di dalam tanah.

Saksi mata likuifaksi di Perum Balaroa, Asfin, 70, menjelaskan, dia sangat beruntung tidak jadi korban. Padahal, rumahnya sekitar 15 meter saja dari lokasi likuifaksi. Saat itu, dia bersama anak dan cucunya sedang berada di depan rumah karena ada guncangan gempa. Betapa kagetnya ketika banyak orang berteriak minta tolong dari Perumahan Balaroa. ”Mereka teriak-teriak tidak karuan saat itu. Ada yang lari ke rumah saya juga minta bantuan. Padahal, saya sendiri juga panik menjaga keluarga,” kenang ketua RW 02, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, ini.

Asfin menjelaskan, saat itu dia memang tidak berani menolong para korban. Yang dia tahu, ada ratusan orang yang menyelamatkan diri di tengah lapangan. Nah, saat banyak orang itulah, tiba-tiba tanah lapang itu terbelah. Jadi, ada  ratusan orang masuk ke dalam lubang menganga itu dan tergulung. Disusul kemudian, rumah-rumah ikut tenggelam seperti tersedot ke dalam tanah. ”Saya hanya bisa lihat, tapi tidak bisa bantu apa-apa,” kata Asfin.

Menurut dia, area perumahan itu dulunya memang semacam kubangan rawa-rawa. Lalu, ditimbun tanah selama bertahun-tahun. Setelah terlihat rata, sejak 1990-an, mulai ada rumah hingga berkembang menjadi perumahan. Lokasinya tepat di samping bekas aliran sungai dari kaki gunung. Namun, sungainya itu sudah tidak dialiri air lagi. ”Bisa jadi karena bekas rawa itu sehingga di dalam tanah tersebut seperti area kosong dan berair,” ungkap pria asli warga Balaroa tersebut.

Yang membuat warga sekitar tak nyaman saat ini karena hampir tiap malam, warga masih mendengar jeritan-jeritan minta tolong. Terkadang suara anak kecil, suara perempuan. ”Barangkali mereka minta kami doakan. Kami warga sini juga sudah menggelar tahlilan 40 hari lalu,” tandas dia.

Di lokasi tersebut, saat ini masih ada satu keluarga yang tidak mau pindah. Rumahnya ikut bergeser cukup jauh. Namun, masih bisa ditempati. Saat kejadian, satu keluarga ini selamat karena sedang di luar rumah.

Ke depan, Asfin dan warga Balaroa berharap, Pemkot Palu menjadikan tempat tersebut jadi destinasi wisata berupa Memorial Park. Termasuk di Petobo. ”Yang jelas area ini tidak bisa dijadikan rumah lagi, harus dijadikan lokasi khusus untuk mengenang tragedi tersebut oleh pemerintah,” tandas Asfin.

Pewarta               : *
Copy Editor          : Dwi Lindawati
Penyunting          : Ahmad yani
Fotografi              : Abdul Muntholib