The Power Of Brand

KETIKA menyebut nama CocaCola, apa yang langsung ada di benak Anda? Mungkin ini: seger. Ketika menyebut nama Marlboro, yang ada di benak kita mungkin ini: petualang.

Mengapa, ketika sebuah brand disebut, konsumen langsung punya persepsi yang kuat tentang brand-brand itu? Inilah yang disebut sebagai brand association Brand association berkaitan erat dengan brand image, yang didefinisikan sebagai serangkaian asosiasi merek dengan makna tertentu.

Sebelum sampai pada tahapan brand association, pertama kali yang harus dibangun adalah
brand awareness. Ini adalah kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat,
bahwa sebuah brand merupakan anggota dari kategori produk tertentu.

Di Malang Raya, banyak terdapat brand yang bercokol.  Mulai dari brand-brand internasional, nasional, maupun yang lokal. Semuanya saling berkompetisi, memenangkan pertarungan hingga akhirnya dipilih oleh konsumen. Perilaku konsumen pun beragam. Ada konsumen yang mengedepankan kualitas. Ada konsumen yang me ngedepankan harga. Ada juga konsumen yang mengedepankan pelayanan atau service.

Untuk menilai semua brand yang ada, cukup banyak kompetisi yang diadakan. Mulai dari kompetisi di tingkat internasional, maupun kompetisi di tingkat nasional. Top Brand Award,
misalnya. Ini adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada brand-brand yang meraih
predikat Top. Penghargaan ini diberikan berdasarkan penilaian yang diperoleh dari hasil survei berskala nasional, di bawah penyelenggaraan Frontier Consulting Group. Selain Top
Brand Award, juga ada Indonesia Best Brand Award (IBBA). Majalah SWA setiap tahun juga
me-launching hasil penilaiannya terhadap brand-brand yang ada di Indonesia.

Nah, di Malang Raya, belum ada kompetisi yang secara khusus menilai brand-brand yang ada. Maka itulah, Radar Malang mengawali (lebih tepatnya: memberanikan diri) membuat
sebuah kontestasi antar brand melalui: Radar Malang Awards (RMA). Tahun ini adalah pelaksanaan RMA yang keempat. Brand-brand yang berkontestasi di RMA harus mendaftar. Ini mengandung maksud, ketika brand mendaftar ikut RMA, maka dapat diasumsikan bahwa brand tersebut berani untuk ber kontestasi dan berani untuk dinilai.

Dan untuk menilai brand-brand tersebut, juri terbesarnya adalah konsumen. Dalam artian,
penilaiannya adalah berbasis suara atau pilihan konsumen. Penilaian atau suara konsumen
diambil melalui dua mekanisme. Pertama, melalui balot yang ditayangkan selama 20 hari di
koran Radar Malang, dengan bobot penilaian 40 persen. Kedua, melalui Instagram, dengan bobot penilaian 40 persen. Sedangkan penilaian juri yang datang ke lokasi tempat brand berada, 20 persen.

Mengapa penilaian visitasi juri paling sedikit bobot? Pertimbangannya, agar hasil akhir dari
penilaian lebih banyak berasal dari penilaian atau suara konsumen. Dengan kata lain, penilaian juri boleh dibilang yang akan mengkalibrasi hasil akhir dari akumulasi penilaian
balot koran dan Instagram. Nilai akhirnya, adalah agregat dari ketiga jenis penilaian tadi (balot koran, Instagram, dan juri). Khusus untuk juri, kami melibatkan pihak-pihak yang berkom peten dan kredibel di bidangnya.

Dan pada kontestasi RMA ini, sengaja tidak menyebut ”pemenang” bagi yang nantinya
mendapatkan penghargaan. Tapi, kami menyebutnya: ”terfavorit”. Kami memaknai,
bahwa semua peserta yang ikut dalam kontestasi RMA, adalah ”pemenang”. Sebab, di antara sekian banyaknya brand yang ada di Malang Raya ini, mereka (brand-brand) berani ikut berkontestasi dalam RMA. Karena sudah membuktikan keberaniannya untuk ikut
berkontestasi dalam RMA, maka cukup layak untuk kami menyebutnya sebagai ”pemenang”. Itulah sebabnya, brandbrand nanti yang akan terpilih, disebut sebagai ”terfavorit”.

Bukan ”pemenang”. Karena itu, bagi yang belum ter pilih sebagai ”terfavorit” bukan berarti kalah. Tetap saja menjadi pemenang. Setidaknya, menjadi pemenang karena sudah
berbesar hati untuk belum terpilih sebagai ”terfavorit”. Bukankah risiko dalam sebuah
kontestasi itu, ada pihak yang terpilih, dan ada pihak yang belum terpilih? Ketika seseorang atau sebuah brand berani berkon testasi, maka kami menyebutnya ”maqomnya” sudah lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak berani berkontestasi. Sebab, bisa jadi, mereka yang tak berani berkontestasi, alasannya karena takut tidak terpilih. Apakah memang demikian? So… kita ikuti saja pertunjukannya. Besok malam di Taman Krida Budaya
Jatim. Saksikan….brand-brand apa saja yang terpilih sebagai yang terfavorit? (kritik dan
saran: ibnuisrofam@gmail.com/ IG: kum_jp)