Tertinggi, ”Omzet” UB Tembus Rp 1,4 T

MALANG KOTA – Pendapatan perguruan tinggi negeri (PTN) di Malang ini sepertinya cukup besar. Setiap tahunnya, PTN diperkirakan mengelola uang hingga triliunan rupiah. Universitas Brawijaya (UB) misalnya, sepanjang 2018 lalu mendapat pemasukan Rp 1,4 triliun. Sementara Universitas Negeri Malang (UM) pada 2017 lalu mengelola sekitar Rp 1,1 triliun dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim sekitar Rp 300 miliar.

Pendapatan tersebut berasal dari bantuan pemerintah, uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa baru (maba), dan unit usaha. Dengan demikian, banyak atau sedikitnya jumlah mahasiswa yang diterima suatu kampus, berdampak pada ”omzet” kampus tersebut.

Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menyatakan, pendapatan yang diterima UB sepanjang 2018 lalu itu merosot jika dibanding tahun sebelumnya. ”Kadang merosot, kadang juga naik (pendapatan kampus),” ujar Nuhfil.

Dari UKT Mahasiswa Terkumpul Sekitar Rp 463 M

Nuhfil merinci, dari Rp 1,4 triliun tersebut, sekitar Rp 936,15 miliar dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP); Rp 463,85 miliar dari UKT; dan sisanya Rp 50 miliar dari beberapa unit bisnis. ”Badan usaha milik kami terbagi dua. Ada yang akademik dan nonakademik. Totalnya ada 13 badan usaha,” kata mantan dekan fakultas pertanian (FP) itu.

Di antara badan usaha akademik adalah Yayasan Brawijaya Smart School (BSS). Pada 2017 lalu menghasilkan Rp 11 miliar. Lalu, Institut Atsiri UB mendapat dana hibah Rp 3 miliar per tahun dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sementara dari usaha nonakademik UB, perkiraan pendapatannya mencapai Rp 30 miliar.

”Di antara dua sektor ini, memang lebih besar yang nonakademik. Misalnya RS UB, kantin, dan sport center itu kan sering digunakan untuk umum,” ujarnya.

Nuhfil mengaku, UB pernah diberi aplaus Menristekdikti karena sumber pendapatan mandirinya termasuk tinggi. ”UB sendiri, malah setor pajak di Kota Malang paling tinggi,” kata dia.

Meski pendapatannya tinggi, Nuhfil tetap berusaha mengefisiensi pengeluaran anggaran. Pada 2018 lalu, angka pengeluaran UB ditekan hingga Rp 754 miliar dari pengeluaran 2017 yang mencapai Rp 1 triliun.

Yang tidak bisa ditekan Nuhfil adalah gaji pegawai. ”Kalau gaji pegawai itu besar. Ya, karena ada kenaikan gaji,” singkat dia.

Sesuai rencana strategi (renstra) UB, aspek kesejahteraan pegawai memang lebih diutamakan daripada pembiayaan pembangunan fisik (gedung).

Pos pengeluaran UB terbesar ada di belanja barang dan jasa yang mencapai Rp 311,5 miliar, kemudian pengeluaran terkecilnya ada di pos belanja langganan daya dan jasa yang hanya Rp 1,31 miliar.

2017 UB Menargetkan Pendapatan Rp 80 M

Sedangkan pada 2017 lalu, UB menargetkan pendapatan Rp 80 miliar dari aset yang dikelola. Namun, target tersebut tak terpenuhi karena hanya menghasilkan Rp 36,8 miliar. Di antaranya berasal dari Griya UB (asrama dan rusunawa) Rp 7,3 miliar. Kemudian disusul guest house Rp 3,8 miliar.

Sementara itu, Wakil Rektor (Warek) II UM Heri Suwignyo menyatakan, pendapatan yang diraih kampusnya tidak jauh beda dengan kampus lain yang berstatus badan layanan umum (BLU). ”Menyangkut pendapatan, UM sama dengan pendapatan BLU pada umumnya,” katanya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Malang, sepanjang 2017 lalu UM diperkirakan mempunyai pendapatan hingga Rp 1,1 triliun. Di antaranya, alokasi yang tercantum di APBN Rp 223,4 miliar; pendapatan jasa layanan dari masyarakat Rp 446,9 miliar; hibah tidak terikat Rp 2,6 miliar; dan badan usaha Rp 18,5 miliar.

UM Rajanya Sewa Gedung

Dari sisi unit usaha, bisa dibilang UM ”raja”-nya sewa gedung. Ada tiga gedung utama yang disewakan. Yaitu, Graha Cakrawala, Sasana Krida, dan Sasana Budaya.

Meski begitu, Suwignyo menyebut bahwa pendapatan dari UKT dan PNBP merupakan pendapatan utama. ”Untuk besarannya,  bergantung jumlah mahasiswa. Jelas lebih besar UB-lah pendapatannya karena mahasiswa banyak,” kata dia.

Dari sisi pusat bisnis, dia membenarkan bahwa UM punya gedung-gedung yang disewakan. Meski untuk pendapatan dari sewa gedung ini tidak dia rinci. Diperkirakan, dari sewa gedung per tahun bisa mencapai angka Rp 1 miliar.

Ini berdasarkan harga sewa gedung minimum. Untuk Sasana Krida harga terendah yang ditawarkan berkisar Rp 7,5 juta. Sasana budaya Rp 5,5 juta dan Graha Cakrawala mencapai Rp 50 juta. Harga yang ditawarkan ini pun bervariatif, bergantung jam dan tanggal sewanya.

Untuk gedung Graha Cakrawala, per malamnya bisa mencapai Rp 100 juta. UM juga memiliki percetakan dan lapangan yang bisa disewakan untuk umum. Sementara, dari sisi pengeluaran berkisar Rp 508 miliar per tahun. Pos pengeluaran terbesar untuk belanja pegawai, yakni Rp 263 miliar. Kemudian disusul pembayaran barang dan jasa BLU, yakni Rp 104 miliar.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Maliki Dr Hj Ilfi Nurdiana SAg MSi menyatakan, jumlah biaya operasional di kampusnya tahun  ini di bawah Rp 300 miliar. Jumlah ini untuk semua kegiatan yang ada di kampus. ”Kalau detailnya harus lihat data. Tapi, secara garis besar di bawah Rp 300 juta,” kata dia.

Pewarta               : Sandra, Imam Nasrodin
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan