Tersangka Habisi Nyawa Korban dengan 20 Adegan

MALANG KOTA – Hujan cemooh untuk tersangka pembunuhan sadis anak tiri, Ery Age Anwar, 36, tak bisa dibendung.

Kata-kata umpatan dari ibu-ibu terdengar lantang saat tersangka turun memerankan rekonstruksi pembunuhan di rumahnya, Perum Tlogo Indah Kedungkandang, Kamis siang (7/11).

Tersangka memerankan 20 adegan pembunuhan di rumah tersebut. Rekonstruksi dilakukan Polres Malang Kota tepat di waktu yang sama, saat tersangka melakukan pembunuhan anak tirinya siang hari. Sekitar pukul 13.30 WIB.

Kehadiran Ery yang dikawal ketat polisi, mengundang umpatan dari banyak warga yang menonton peragaan adegan. Hanya saja, garis polisi di luar rumah, tidak bisa memberi ruang warga untuk melihat langsung peristiwa di dalam rumah.

Di depan khalayak, Ery terlihat biasa saja. Raut wajah sedih dan penyesalan tidak ada, itu dibuktikan dari ketawanya yang selalu diperlihatkan.

Namun, polisi menyebut tersangka hingga kini dalam keadaan sehat dan waras. ”Rekonstruksi ini untuk melengkapi proses penyidikan. Sinkronisasi keterangan dan kejadian,” kata Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander, kemarin.

Secara singkat, masih kata Dony, sejumlah adegan yang diperagakan tersangka tidak sesuai dengan keterangan yang disampaikan saat penyidikan.

”Adegan keempat, tersangka mendorong korban ke kamar mandi. Ini tidak sama dengan keterangannya yang menyebut korban terjatuh,” imbuhnya.

Namun, kesadisan pembunuhan tersebut secara nyata diperagakan Ery. Dony merinci, saat korban menggigil dan menangis, tersangka kemudian melumuri korban dengan minyak telon dan meminumkan teh hangat.

Korban yang mulai mengorok kemudian kakinya dipanggang di atas kompor oleh tersangka. ”Hingga luka bakar, baru kemudian korban dilarikan ke RS Refa Husada,” terang perwira dua melati itu.

Dony menyebutkan, kondisi korban sudah tidak bernyawa saat tiba di rumah sakit. Namun, dari semua adegan menurut dia, tidak ada keterlibatan ibu kandungnya saat peristiwa berlangsung. ”Peristiwanya memang tidak ada keterlibatan ibu korban,” tandasnya.

Semantara Rendra, paman korban, sangat geram terhadap tersangka. Pihak keluarga, kata dia, berharap hukuman paling berat untuk Ery. Namun, hingga kemarin, keluarganya juga tidak pernah mendengar kabar ibu korban, Hermin.

”Keluarga ingin tersangka dihukum mati. Kalau Hermin memang tidak pulang ke rumah, tidak tahu di mana, tidak bisa dihubungi. Saat anaknya dimakamkan, juga tidak datang,” ucap dia.

Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Imam Nasrodin