Terketuk karena ”Orang Miskin Dilarang Sakit”

Kisah dr Hega Rahmantya terbilang unik. Di awal-awal kuliah, hatinya belum sepenuhnya tertambat pada dunia kedokteran. Dia justru ingin menggeluti dunia teknik sipil atau arsitektur. Namun, saat dia melakukan program dokter muda (koas) di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) sekitar tiga tahun silam, dia menjadi tahu kondisi dunia kesehatan.

Dia mendapati fakta bahwa banyak masyarakat yang kekurangan biaya pengobatan. Selain itu, sedikitnya orang yang peduli terhadap kesehatan semakin memperparah keadaan. Bisa dibilang, keadaan tersebut membuat orang miskin seolah dilarang sakit.

”Sedangkan yang tidak mampu malah tidak punya kartu (BPJS),” kata Hega, sapaan akrabnya, ketika ditemui di rumahnya, Jalan Candi Agung No 18, Kota Malang, kemarin (29/10).

Saat itulah hatinya terketuk. Dengan latar belakang pendidikan dokternya, dia ingin membantu masyarakat yang kesulitan biaya. Akhirnya, pada Februari 2016 dirinya bergabung dengan komunitas Malang Care, sebuah komunitas yang banyak melakukan kegiatan sosial di bidang pengobatan dan kesehatan secara gratis. Dia menjelaskan bahwa ingin menolong warga yang terkendala biaya pengobatan.

”Orang tidak mampu kok harus tetap bayar,” imbuh alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) itu.



Ketika di Malang Care, dokter di RSI Aisyiyah, Kota Malang, ini bekerja secara gratis dan tidak dibayar. Bahkan, tak jarang para anggota komunitas harus mengeluarkan biaya untuk mengadakan kegiatan-kegiatan komunitasnya.

”Ya, sistemnya seperti urunan antaranggota,” tambah alumnus SMA 1 Boyolangu, Tulungagung, itu.

Dia mengungkapkan, dalam setahun ini, pasien yang sudah ditangani komunitasnya sekitar 18.000 orang. ”Kami bukannya bangga akan jumlah itu. Tapi, itu adalah sebuah pecutan bagi kami. Ternyata ada warga sebanyak itu yang masih membutuhkan biaya pengobatan,” beber perempuan kelahiran 2 Oktober 1992 itu.

Sejak SMA, dia memang mengaku tidak tertarik pada dunia kedokteran. ”Saya ingin masuk teknik sipil, tapi orang tua menginginkan kedokteran,” bebernya.

Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya meluluskan diri sebagai dokter lantaran terpaksa. ”Saya tidak ingin membuat malu. Jadi, saya berusaha mengerjakan skripsi saya,” imbuh anak pertama dari dua bersaudara itu.

Baru, setelah dia melakukan praktik, magang, dan koas, minatnya untuk menekuni profesi sebagai dokter muncul. Akhirnya, dia bekerja keras untuk menyelesaikan pendidikan dokternya. Bahkan, Agustus 2016 lalu, saat dirinya mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter (UKMPPD), dirinya sedang sakit.

”Dulu saya kena sakit DBD (demam berdarah dengue) saat mengikuti tes,” ungkap perempuan kelahiran Malang 25 tahun silam itu.

Dia melihat bahwa selain banyak warga yang terkendala mengenai biaya pengobatan, kepedulian masyarakat akan kesehatan sangat minim. ”Bahkan, untuk Kota Malang yang saya kira sudah modern, masih banyak yang memilih dukun,” kata alumnus SMP 1 Tulungagung itu.

Oleh karena itu, ke depan dia ingin mengembangkan program-program dari komunitasnya. ”Inginnya, saya tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga mengedukasi masyarakat,” tandasnya.

Dia inign warga Kota Malang ini sadar akan kesehatan. ”Karena sehat itu kebutuhan pokok. Jika masyarakat sehat, mereka bisa melakukan berbagai macam aktivitas tanpa kendala,” pungkasnya.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Arief Rohman
Foto: dr Hega Rahmantya