Terkendala Bahasa Hingga Ditolak Wali Murid Karena Wajah

Guru

RADAR MALANG ONLINE – Menjadi guru sudah menjadi cita-cita Dessy Maria Ulfa, 24, sejak masih kecil. Akhirnya, dia mewujudkan mimpinya ketika dewasa. Serangkaian pengalaman pun didapat. Baik pengalaman manis maupun pahit. Termasuk pengalaman sempat ditolak hanya karena berwajah oriental.

Dessy lahir di Desa Waisarisa, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Dia mencoba menggapai mimpinya dengan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Setelah menjadi mahasiswa, keinginan Dessy menjadi guru semakin tinggi. Bukan hanya di dalam negeri. Dessy ingin merasakan pengalaman mengajar di negeri orang.

Ilustrasi. (Dok. RADAR MALANG ONLINE)

Dessy memulai peruntungan dengan mencoba mendaftarkan diri sebagai pengajar di program internasional pada 2016 silam. Negara yang dipilih adalah Jepang. Namun Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya. Dokumen yang diajukan ditolak.

Tidak patah arang, anak sulung dari tiga bersaudara itu kemudian mencoba mengalihkan negara tujuannya. Masih di tahun yang sama, dia mendaftarkan untuk program mengajar sebagai volunteer di Vietnam.

Dessy menjadi pengajar dalam program Hope of Children. “Tapi setelah ditolak di Jepang itu, saya mencoba untuk meningkatkan kemampuan saya. Syukur diterima di Vietnam,” kata Dessy, Sabtu (26/5).

Tidak puas dengan satu pengalaman, dia kembali mencoba mengambil peluang menjadi pengajar di Footprints International School Kamboja. Selama tiga bulan berada di negeri Angkor Wat, Dessy sempat mengalami kesulitan dalam berbahasa. “Kesulitan yang saya hadapi cuma dari segi bahasa. Terutama saat berkomunikasi dengan masyarakat umum,” ungkapnya.

Tak ingin berhenti di kawasan Asia Tenggara. Mahasiswa yang juga aktif di organisasi AIESEC itu kembali mengikuti program mengajar di Tiongkok pada awal 2017. Dia menjadi salah satu pengajar di Shenyang Forest International Kindergarten Tiongkok.

Dessy mendapat banyak pelajaran hidup yang luar biasa. Antara lain saat menjadi minoritas dan sempat dianggap tidak memiliki kemampuan mengajar yang bagus. Rasa putus asanya pun muncul. Saat itu, dia bahkan sempat ingin kembali ke tanah air.

Saat itu, Desy baru mengajar selama dua bulan di sekolah internasional yang ada di Negeri Tirai Bambu. Namun, Dessy sudah mengalami penolakan dari wali murid di sana.

Penolakannya karena Dessy dianggap tidak mampu mengajar hanya karena memiliki wajah oriental. Hampir sama dengan typical wajah orang Tiongkok. Sementara pengajar lain merupakan native speaker dari Rusia, Kanada, Inggris dan Pakistan.

Pakistan meskipun masih berada di kawasan Asia, namun type wajah penduduknya berbeda dengan Tiongkok. “Karena itu sekolah internasional ya, jadi orang tua kan ekspektasinya anak mereka diajar oleh guru dengan wajah bule. Sementara wajah saya dianggap sama dengan orang Tiongkok. Jadi kayak tidak ada yang istimewa,” kata mahasiswa semester akhir itu.

Bahkan, tidak sedikit wali murid yang memandang sinis atau melarang anaknya mengikuti kelas Dessy. Ada juga yang sampai wadul ke kepala sekolah setempat soal keberatan diajar Dessy. Tentu saja perempuan berbadan langsing ini kecewa dan putus asa.

Dia kemudian telepon ibunya, Ani. Kepada sang ibu, Dessy bercerita ingin kembali ke Indonesia. Karena di Tiongkok tidak sesuai dengan harapannya. Dia tidak mendapatkan penerimaan yang bagus.

Namun, Ani memberi semangat kepada Dessy. Ani berkata bahwa halangan adalah sebagian jalan untuk mewujudkan impian. “Telepon orang rumah, dibilang bahwa ini perjuangan. Saya harus bisa. Akhirnya semangat lagi” beber Dessy.

Semangat Dessy kembali berkobar Berkat dukungan sang bunda. Ia pun bertekad menyelesaikan kontrak kerjanya di negeri Tirai Bambu. Dessy gencar melakukan pendekatan kepada muridnya. Tidak butuh waktu lama bagi Dessy untuk membuat para siswa dekat dengannya.

Dengan kedekatan dan keakrabannya dengan siswa, lambat laun membuat orang tua juga menaruh simpati kepada Dessy. Dessy yang awalnya dianggap sebelah mata, di akhir masa mengajar mulai dihormati.

Tidak sedikit undangan kunjungan ke rumah wali murid yang diterima Dessy. “Meluluhkan anak-anak itu mudah. Asalkan tulus, ikhlas mereka akan dekat. Itu yang saya lakukan,” tutur Dessy.

Dessy mengaku senang dapat memaksimalkan waktu belajar di UMM dengan menimba ilmu di luar negeri. Saat ini, Dessy yang baru pulang dari Tiongkok dan tengah disibukkan dengan urusan kuliah. Perempuan ceria ini juga tengah berkutat dengan skripsinya.

“Sekitar dua tahun belajar di UMM, hidup saya diwarnai dengan berbagai pengalaman organisasi dan membuat saya mewujudkan cita-cita untuk pergi ke luar negeri,” pungkas Dessy.

(tik/JPC)