Terjebak 17 Hari di Gua, Bagaimana Tim Moo Pa Bisa Selamat?

Optimistis Selamat, Minta Disiapkan Makanan Enak - JPNN.COM

jpnn.com, MAE SAI – Berpuasa dari subuh hingga magrib bukan hal baru bagi umat muslim di seluruh dunia. Setiap Ramadan, mereka tidak makan dan minum selama 13 jam. Tapi, bagaimana rasanya menahan lapar selama lebih dari dua minggu? Hanya 12 anggota klub sepak bola Moo Pa dan asisten pelatihnya yang tahu.

Meditasi dan bugar. Itulah dua kunci bertahan Ekaphol Chantawong dan 12 anak didiknya saat harus menginap di perut Tham Luang Nang Non selama 18 hari. Karena tenang dan berstamina bagus, para korban mampu bertahan dalam kondisi gelap, sempit, dingin, dan pengap. Juga lapar dan haus.

’’Sebenarnya mereka membawa bekal makanan. Tapi, tidak banyak,’’ terang BBC mengutip keluarga salah seorang korban.

Pada 23 Juni, mereka sebenarnya hanya ingin merayakan ulang tahun ke-17 Peerapat Sompiangjai alias Night di gua yang memang tidak asing lagi bagi mereka tersebut.

Rencananya, petualangan ke gua yang identik dengan Moo Pa itu berlangsung sejam saja. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Mereka tidak hanya sejam di Tham Luang. Tidak juga satu atau dua hari, tapi 18 hari.

Setelah makanan yang menjadi bekal mereka pada 23 Juni habis, 12 remaja yang berusia 11–17 tahun tersebut mulai dilanda lapar. Tanpa makanan sedikit pun, para korban hanya mengandalkan tetesan air dari stalaktit gua sebagai air minum.

Puasa tidak makan adalah satu persoalan. Terjebak dalam gua tanpa tahu kapan bisa keluar menjadi persoalan lain. Mental 12 anak itu bisa jatuh dengan sangat mudah. Untung, mereka terjebak bersama Ekaphol. Pemuda 25 tahun tersebut menularkan ilmu meditasinya kepada 12 anak didiknya.

Beradaptasi dengan gua yang pengap, dingin, dan gelap menjadi satu-satunya cara untuk tetap hidup. Berteman dengan kesunyian sambil memelihara harapan membuat nyali anak-anak itu makin kuat.

Sumber : Jawa Pos