Terinspirasi Bencana, Sempat Deg-degan Robot Ngadat saat Presentasi

Bagi banyak orang, hobi membuat robot termasuk hobi mahal. Namun di tangan Kheeva Aleno dan Selvino Falahi, siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Malang, spare part dan komponen robot bekas didaur ulang hingga bisa menjadi robot penolong di lokasi bencana. Seperti apa proses kreatifnya?

MIFTAHUL HUDA

Usia Kheeva Aleno dan Selvino Falahi memang baru menginjak usia 11 tahun. Namun, dua siswa yang duduk di kelas V ini sudah lancar menjelaskan berbagai jenis komponen robot hingga fungsinya. Akhir 2018 lalu, keduanya ikut mengharumkan nama madrasahnya di ajang Kontes Robotic tingkat nasional yang diselenggarakan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI.

Dua jawara cilik di bidang robotik ini memang terlihat aktif dan punya rasa ingin tahu yang besar. ”Waktu masih TK, saya paling suka merakit lego. Dari situlah saya mulai suka merakitnya menjadi mobil Buggy dan bentuk-bentuk lainnya,” kata Aleno.

Tak jauh beda dengan Aleno, Falahi yang mengidolakan B.J. Habibie ini bersemangat menceritakan bagaimana proses merakit robot juara tersebut bersama Aleno. Mulai dari menentukan tema, memilih komponen robot yang dibutuhkan, hingga melakukan uji coba.  ”Kami empat hari di Depok. Lomba tersebut diselenggarakan di Depok Town Square. Alhamdulillah, kami menyabet juara I di kategori The Best Simple Technology,” sambung Falahi.

Konsep robotic simple technology itu didesain khusus untuk menolong korban di lokasi bencana. Dengan menggunakan sensor kamera, robot akan dengan sendirinya mendeteksi keberadaan korban melalui sensor warna.

Setelah berhasil mendeteksi objek, robot tersebut nantinya bisa mengangkut korban menuju ke tempat evakuasi atau lokasi yang lebih aman. Dalam sekali angkut, robot simple technology tersebut ditargetkan mampu membawa 3–5 korban.

”Pemilihan tema robot penyelamat korban bencana ini karena di wilayah Malang banyak terjadi tanah longsor dan banjir. Harapannya, dari robot ini bisa benar-benar dikembangkan hingga dapat dimanfaatkan untuk menolong korban di lokasi bencana,” sambung Aleno.

Menurut Aleno, sebagian besar komponen robot itu banyak yang menggunakan spare part daur ulang. Banyak di antara material yang digunakan merupakan sisa-sisa komponen yang tak terpakai. Mulai dari micro controller arduino (MCA), sensor kamera, motor penggerak, griper, dan buzzer. ”Beberapa komponen itu bekas dari robot lama yang masih bisa dimanfaatkan,” terang Aleno.

Hal itu dilakukan karena sempitnya waktu persiapan yang dimiliki untuk merancang robot tersebut. Namun, berkat kegigihan keduanya, mereka sukses meyakinkan dewan juri saat presentasi. ”Kami sempat deg-degan, khawatir  robotnya ngadat. Untungnya saat presentasi lancar waktu itu,” tambah Aleno.

Untuk mengoperasikan robot tersebut, semula sebuah program dibentuk dan disimpan pada komponen MCA. Program tersebut yang nantinya secara otomatis akan memerintahkan ke beberapa perangkat lainnya termasuk sensor kamera yang dapat mendeteksi keberadaan korban sekaligus melakukan evakuasi korban dengan cara diangkat menggunakan griper (tangan robot sebagai penjepit).

Untuk pembuatan robot tersebut, mereka membutuhkan biaya Rp 3 jutaan. ”Robot ini peka dengan warna merah karena kami identikkan dengan warna darah. Saat sudah terdeteksi, dengan sendirinya akan mengangkat korban yang sulit dijangkau oleh manusia menggunakan griper,” papar Falahi.

Meski tergolong anak cerdas, Aleno- putra dari Tri Wahyudiono dan Falahi–anak dari Yosi Kurniawan ini mengakui sempat mengalami kesulitan membagi waktu belajar. Namun, mereka bisa menyiasatinya  dengan menambah jam belajarnya di rumah. Menurut Aleno, selain belajar di kelas, dia sering menggunakan waktu dari pukul 15.00–20.00 WIB untuk mengulang pelajaran.

Untuk menambah pengetahuan soal robotik, dia menambah waktu belajarnya setengah jam, sesudah waktu belajar reguler habis. ”Di awal-awal sempat sulit juga sih. Tapi, karena seneng akhirnya menambah jam belajarnya gak masalah,” kata Aleno yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut.

Lain halnya dengan Aleno, Falahi justru tak ingin ambil pusing. Dia justru belajar robotik sebagai obat pengusir jenuh ketika pelajaran di kelas sudah mulai membosankan.

”Kalau saya biasanya tak jadikan selingan, biar gak bosen. Kadang pelajaran umum, kadang ya cari tahu soal robot,” tutup Falahi yang bercita-cita ingin seperti B.J. Habibie tersebut.

Sementara itu, sejak mengikuti ekstrakurikuler bidang robotik, keduanya memang tergolong unggul dibandingkan 20 siswa lain. ”Mereka memiliki minat yang sangat tinggi di bidang robotik,” terang koordinator ekstrakurikuler dan lomba MIN 1 Malang Uswatul Hasanah SAg MPdi. Karena itu, keduanya didapuk mewakili sekolah untuk tampil di lomba robotik.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Laoh Mahfud