Terima Suap Motor Harley, Eks Auditor BPK Dituntut 9 Tahun Penjara

Mantan Auditor BPK Sigit

Jaksa KPK menilai, Sigit terbukti menerima suap berupa satu motor Harley Davidson Sportster 883 Tahun 2000 seharga Rp 115 juta, serta fasilitas hiburan malam di Karaoke Las Vegas, Plaza Semanggi, Jakarta.

“Menuntut pidana penjara 9 tahun, pidana denda Rp 500 juta subsidair 6 bulan kurungan penjara,” kata jaksa KPK saat membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Menurut jaksa, suap tersebut diterima Sigit dari eks General Manager PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Setia Budi, yang kini telah mendekam dipenjara.

Jaksa menegaskan, Sigit menerima hadiah motor dan fasilitas karaoke tersebut karena karena telah mengubah hasil temuan keuangan di PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi pada tahun 2015-2016.

Sigit yang saat itu merupakan auditor BPK yang melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT), telah mengubah temuan keuangan Jasa Marga yang tadinya sekitar Rp 13 miliar menjadi Rp 842,9 juta. Dengan rincian pengubahan temuan keuangan pada tahun 2015 Rp 526,4 juta dan tahun 2016 Rp 316,4 juta.

“Hadiah diberikan karena terdakwa mengubah hasil temuan sementara tim pemeriksa BPK atas PDTT terhadap pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi pada PT Jasa Marga persero Tbk Cabang Purbaleunyi tahun 2015 dan 2016,” tutur jaksa.

Dalam pertimbangannya, jaksa menyertakan hal yang memberatkan dan meringankan. Menurut jaksa, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Selain itu, Sigit dinilai menyalahgunakan kewenangan dan kewajiban yang diberikan kepadanya untuk melakukan kejahatan, serta perbuatan Sigit dinilai menciderai kepercayaan masyarakat dalam peran penting Auditor BPK RI dalam pengawasan keuangan negara.

Namun terdapat hal yang meringankan, jaksa menganggap terdakwa belum pernah terjerat kasus hukum dan berlaku sopan di persidangan.

Atas perbuatanya, Sigit diduga melanggar Pasal 12 huruf b nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.


(rdw/JPC)