Terima Kunjungan Dubes Iran, Bamsoet Bahas Potensi Pariwisata

JawaPos.com – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, H.E. Mr. Mohammad Azad. Keduanya sepakat untuk sama-sama memajukan kerjasama di sektor pariwisata.

Kerja sama itu memiliki potensi besar untuk mendatangkan devisa bagi kedua negara. Bahkan, menurut Bamsoet, selama 2016-2019 terjadi peningkatan turis asal Iran mencapai 11.555 wisatawan.

“Iran sudah memberikan fasilitas Visa on Arrival kepada warga Indonesia yang ingin berwisata ke sana. Sebaiknya Indonesia juga memberlakukan hal yang sama, sehingga bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan Iran mencapai 15.000 lebih di tahun 2020 ini. Selain itu juga mendorong target 17 juta wisatawan yang dicanangkan pemerintah bisa tercapai,” jelas Bamsoet di Gedung MPR/DPR Senayan, Selasa (21/1).

Selain itu, sebagai salah satu negara emerging economy, Bamsoet yang merupakan, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini melihat besarnya potensi kerja sama ekonomi yang bisa dibangun antara Iran dengan Indonesia. Terbukti dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Iran pada Desember 2016 lalu, berhasil menandatangani tiga MoU.

MoU itu adalah pengembangan pembangkit antara PT PLN (Persero) dengan Mapna Group, pembelian Liquefied Petroleum Gas (LPG) antara PT Pertamina (Persero) dengan National Iranian Oil Company (NIOC), serta distribusi produk antara PT Mayora Indah Tbk dengan Nakhle Tuba Ariayi. Selain itu, sebelumnya sejak 2007 Indonesia dan Iran punya rencana mendirikan pabrik pupuk urea dan amonia.

Lebih lanjut, Bamsoet, melihat berbagai kesempatan tersebut harus ditindaklanjuti lebih jauh oleh berbagai kementerian terkait dan melanjutkan kesepahaman yang telah dibangun oleh Joko Widodo dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

“Selain itu, ketertarikan Iran di pengembangan pembangkit listrik berkapasitas 5.000 megawatt dengan nilai investasi mencapai USD 6 miliar, juga tak boleh kita diamkan. Harus ditindaklanjuti, jangan sampai investasi Iran tersebut justru lari ke negara lain,” ucap Bamsoet.

Bamsoet juga tidak lupa menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qassem Soleimani akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat. Kejadian ini bukan hanya dapat mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah, namun juga menjadi preseden buruk bagi kemanusiaan dan kemerdekaan negara bangsa.

“Sebagai Anggota Tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa 2019-2020, serta Anggota Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa 2020-2022, Indonesia punya kepentingan menjaga dunia tetap aman dan damai,” papar Bamsoet.

Menurutnya, penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara merupakan kunci agar dunia tetap damai untuk ditempati. Pertikaian apalagi perang, hanya akan membuat penderitaan bagi warga dunia.

Karena itu, ia menilai sangat penting bagi Amerika maupun Iran untuk kembali duduk bersama, saling membuka dialog dan membangun kesepahaman serta kesepakatan. Agar tidak terjadi perang terbuka yang bisa berdampak buruk terhadap kehidupan umat manusia.

Sebab, baik Iran maupun Amerika, keduanya merupakan sahabat Indonesia. Diharapkan keduanya bisa menahan diri. Jika seandainya ada komunikasi yang terputus atau tak bisa dijalankan antar keduanya, Indonesia siap menjadi jembatan komunikasi.

“Dunia kini sedang menghadapi banyak persoalan seperti perubahan iklim, kelaparan, hingga penumpukan sampah plastik di lautan. Tak perlu ditambah lagi dengan perang terbuka antar negara,” pungkasnya.