Tentang No Flare, Aremania Patut Jadi Contoh

Aremania pesta flare untuk merayakan HUT ke 29 AREMA di Alun-alun Tugu Kota Malang kamis 11/8 tepat pukul 00.00 WIB . Darmono/Radar Malang

MALANG KOTA – Upaya yang dilakukan Aremania saat mendukung tim kebanggaannya layak untuk dilanjutkan. Lantaran, hingga pekan ketujuh, Arema FC masih bersih dari hukuman. Salah satu penyebabnya, Aremania tertib dalam mendukung tim berjuluk Singo Edan ini.

Ketua Panitia Pelaksana Arema FC Abdul Haris mengapresiasi hal tersebut. Menurut dia, hingga saat ini memang belum ada Aremania yang melanggar, seperti menyalakan flare, petasan, hingga penonton masuk ke sentel ban. ”Saya mengapresiasi Aremania yang fair dalam mendukung, tidak menggunakan flare,” katanya kemarin (27/5).

Haris berharap, hal positif tersebut terus berlanjut saat Arema FC menjamu Mitra Kukar di Stadion Gajayana nanti malam (28/5). Meski bermain malam, flare dan hal lain yang memicu hukuman pelanggaran dari komisi disiplin Liga 1 harap ditinggalkan. ”Kami juga akan menerjunkan polwan serta petugas keamanan dari internal Arema FC di luar stadion,” imbuhnya.

Dia melanjutkan, panitia pun akan menyediakan layar lebar di luar apabila penonton membeludak. Selain itu, Aremania diharapkan tidak memukul bas drum sebelum pertandingan.


Hal itu untuk menghormati umat muslim yang melaksanakan salat Tarawih. ”Kami mengimbau agar suporter tidak mengganggu lingkungan sekitar, salah satunya membunyikan drum,” kata dia.

Untuk diketahui, beberapa tim Liga 1 terkena denda dari PSSI, seperti PS TNI sebesar Rp 70 juta. Lantaran, pemainnya bertindak kasar dan mendapat kartu kuning sampai tujuh kali dalam satu pertandingan.

Selanjutnya, Persib Bandung terkena denda Rp 60 juta karena penontonya menyalakan flare dan melempar botol ke dalam lapangan. Tim lain yang sudah mendapatkan denda, yaitu Madura United, Persela Lamongan, Persegres Gresik United, dan Sriwijaya FC. (asa/c3/riq)