Tengsoe Tjahjono: Nulis Cerpen Bisa Sambil Masak

Sastrawan Tengsoe Tjahjono menjelaskan cara penulisan pentigraf

KOTA MALANG – Pada dasarnya, semua orang bisa menulis terutama cerpen. Hanya saja terkadang individu kerap pusing jika menulis teks yang terlalu panjang. Padahal, tulisan tiga paragraf sudah bisa jadi karya cerpen yang indah loh. Cerpen tiga paragraf ini disebut dengan pentigraf.

Sastrawan Tengsoe Tjahjono mengatakan bahwa pentigraf menjadi solusi untuk orang-orang yang ingin bersastra tapi tak ingin panjang. Hal ini ia sampaikan dalam Bimbingan Teknis Gerakan Literasi Nasional yang diadakan Balai Bahasa Jawa Timur, Rabu (25/4) di Perpustakaan UM.

“Semua orang itu sebenarnya bisa nulis, hanya kurang motivasi saja. Saya pernah denger salah satu temen saya bahkan katanya nulis cerpen ini bisa sambil masak. Ya saya bilangin, awas gosong bawang goreng e,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam bimbingannya ia menekankan kepada peserta untuk memperhatikan alur. Sebab alur merupakan rangkaian konflik. Selain itu, di dalam pentigraf alur cerita harus mencakup konflik di tiga paragraf.

“Jadi ketika memasuki ruang pentigraf, tiga paragraf itu harus mencakup semuanya. Satu lagi, dalam satu paragraf tidak boleh ada lebih dari satu kalimat kutipan langsung. Tidak boleh ada dialog,” sambung penulis puisi Hompimpa tersebut.

Konflik yang diciptakan bisa bervariasi. Bisa antar manusia, manusia dengan dirinya sendiri. Bahkan dapat juga konflik dibuat antara manusia dengan budaya serta yang lebih seru antara manusia dengan tuhan.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan untuk selalu memperhatikan tokoh. Sebab tokoh adalah motor penggerak alur.

“Tidak harus manusia, bisa manusia, hewan, tumbuhan, dan alam. Seperti contoh cerita berjudul cangkir. Tokoh utamanya adalah sebuah cangkir. Imajinasikan tokoh sekreatif mungkin,” terang alumni Universitas Negeri Malang ini.

Salah satu peserta siswa dari SMAN 1 Kepanjen Pandu Satya mengatakan bahwa pentigraf sangat cocok dengan budaya anak milenial. Jalan ceritanya singkat dan padat sesuai dengan anak masa kini yang suka hal serba instan.

“Saya bener-bener awam sama pentigraf, baru tahu ini. Dan menurut saya pentigraf ini cocok sekali dengan anak zaman sekarang yang suka hal simpel tapi sudah mencakup semua. Mereka nggak suka yang panjang, berita aja jarang baca, lebih suka baca infografis,” beber siswa kelas 11 ini.

Usai menjelaskan materi ini, peserta diajak untuk menulis cepen 3 baris. Ia membuat 1 hingga 2 paragraf untuk dilanjutkan. Sehingga di pelatihan ini 15 murid dan 35 guru bebas berimajinasi dengan bimbingannya.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto: Rida Ayu