Tempe Berbahan Biji Nangka Bikin Penasaran

MALANG KOTA – Para juri Green School Festival (GSF) termasuk kepala Dinas Pendidikan Kota Malang dibuat keranjingan dengan tempe di SMPN 22 Kota Malang kemarin (21/9). Ya, mereka benar-benar dibuat penasaran dengan tempe tak biasa yang bernama Binang.

Disebut tak biasa karena bahan dasar tempe terbuat dari biji nangka. Tempe ini rasanya mirip dengan tempe berbahan dasar kedelai. Hanya, tekstur tempe kedelai lebih kasar dari tempe Binang. Abrisam Naufal Ransi, koordinator kader pembuatan tempe Binang, menyatakan, pembuatan tempe Binang ini cukup mudah.

”Biji nangka setelah dikeringkan, dipotong-potong, kemudian direbus, lalu ditiriskan,” kata siswa kelas 8 ini. Nah, baru selanjutnya dicampur ragi dan dibungkus dengan daun pisang atau daun jati seperti pembuatan tempe tradisional. Hanya butuh dua malam saja, tempe sudah siap dimasak. Sedangkan untuk bahan baku tempe Binang ini, diambil dari pohon nangka di sekitaran sekolah.

Untuk produksi tempe Binang, dilakukan seminggu sekali. Abrisam menyatakan, ada piket bergilir untuk memproduksi tempe. Selain itu, produksi makanan di SMPN 22 bukan cuma biji nangka saja. Ada es krim kulit pisang yang juga diproduksi setiap minggu. Bedanya, tempe Binang dikonsumsi pribadi, sementara es krim kulit pisang dijual di koperasi sekolah.

Sekolah yang terletak di Kecamatan Kedungkandang ini juga punya inovasi lain yang tidak kalah unik. Ada pengolahan sampah organik untuk dijadikan kompos. Pengolahannya bukan dengan alat kompos pada umumnya. Tetapi menggunakan cacing. Mahameru Eki M., koordinator kader pengolahan kompos cacing, menjelaskan cara kerja pembuatan kompos dengan cacing. Pertama, sampah organik yang dikumpulkan siswa akan dicampur dengan limbah jamur atau baglog. Setelah dicampur, disemprot cairan EM 4 dan tetes tebu. ”Ini agar sampah lebih lunak dan bisa dimakan cacing,” kata Eki.



Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Fotografer: Darmono