Telemarketing

Saya termasuk yang tidak suka dengan seseorang yang memberikan penawaran melalui telepon. Paling sering yang saya terima adalah penawaran kartu kredit, penawaran asuransi, dan penawaran menginap di hotel.

Setidaknya ada empat alasan mengapa saya tidak suka dengan penawaran melalui telepon. Pertama, saya tidak bisa memastikan, apakah orang yang memberikan penawaran melalui telepon itu berasal dari perusahaan atau bank yang kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Kedua, cara-cara seperti itu semakin menihilkan human touch.

Ketiga, cara-cara seperti itu adalah cara-cara yang menunjukkan kemalasan. Menihilkan kerja keras. Dan semakin menjauhkan dari interaksi antar manusia.

Keempat, sering kali telepon dari orang-orang yang memberikan penawaran itu datang pada saat yang tidak tepat. Misalnya pada saat sedang meeting. Atau pada saat sedang mengemudi.

Inilah yang disebut telemarketing. Prinsip dari telemarketing adalah memasarkan atau menyosialisasikan produk barang atau jasa melalui telepon. Saya terkadang heran, dari mana para pelaku telemarketing itu memperoleh nomor handphone masing-masing orang? Saya punya dua nomor handphone.

Dua-duanya sering terkena sasaran para pelaku telemarketing. Modus mereka bermacam-macam. Sampai saya hafal. Ada yang memunculkan kesan, bahwa si penerima telepon adalah sosok terpilih yang akan mendapatkan beberapa prioritas.

Tapi, ujung-ujungnya si penelepon menawarkan kartu kredit.  Gratis biaya ini, dan gratis biaya itu. Pokoknya dibikin menggiurkan. Ada yang memunculkan kesan bahwa si penerima telepon terpilih untuk mendapatkan undangan menginap di hotel tertentu di kota tertentu.

Tapi, ujung-ujungnya menawarkan kamar hotel dengan harga khusus. Macem-macemlah modusnya. Ujung-ujungnya ada produk barang atau jasa yang ditawarkan.

Khusus untuk produk keuangan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sebenarnya sudah meminta industri perbankan dan jasa keuangan untuk menghentikan penawaran melalui pesan pendek ataupun panggilan telepon.

Larangan ini tertuang dalam Peraturan OJK Nomor 1/POJK.7/2013. Menurut peraturan OJK, penawaran harus dilakukan atas persetujuan konsumen atau calon konsumen terlebih dahulu.

OJK sebenarnya telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Regulator Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk menangani operator yang kerap mengirim SMS atau menelepon langsung.

Pertanyaannya, mengapa sampai sekarang praktik-praktik telemarketing itu masih berlangsung?  Saya masih sering menerima telepon dari pelaku telemarketing yang mengaku dari bank-bank ternama.

Harusnya ini menjadi perhatian khusus OJK. Para pelaku telemarketing itu bisa mendapatkan nomor handphone orang lain tanpa izin, itu sebenarnya tidak etis. Karena sudah memasuki ranah privasi seseorang.

Saya masih sangat percaya, bahwa marketing itu harus berinteraksi langsung dengan konsumen. Ini yang disebut human touch atau human relation.

Praktik marketing itu, menurut saya, tak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan  telepon.  Apalagi di era sekarang ini, penipuan melalui telepon begitu maraknya. Dengan berbagai modus. Dan dengan berbagai muslihat.

Di Radar Malang, sudah cukup lama tidak menerapkan telemarketing. Penawaran harus dilakukan secara face-to-face. Tidak boleh hanya dengan mengandalkan telepon.

Kami punya regulasi yang sangat tegas, jika mengetahui ada kru marketing memberikan penawaran kepada klien hanya dengan mengandalkan telepon. Apalagi terhadap klien yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Jadi marketing itu adalah human touch. Marketing itu adalah human relation. Dan marketing itu sesungguhnya adalah menyelami tentang ilmu manusia. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)