Teledor Faktor Utama 19 Bangunan Terbakar

Petugas pemadam kebakaran Kota Batu menerobos kobaran api kemarin (23/7). Ini bagian dari simulasi di depan Balai Kota Among Tani Kota Batu.

KOTA BATU – Kesadaran warga Kota Batu akan bahaya kebakaran harus terus dipacu. Itu supaya angka kabakaran bisa terus ditekan seperti halnya tahun lalu. Pada tahun 2016, kebakaran terjadi sebanyak 25 kali. Di tahun berikutnya, yakni 2017, angkanya turun menjadi 19 kejadian. Dengan demikian, ada penurunan 6 kasus kebakaran.

Data Dinas Penanggulangan Kebakaran (DPK) Kota Batu menyebutkan, dari 19 kebakaran itu, yang terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Batu. Jumlahnya mencapai 11 kasus. Menyusul kemudian di Kecamatan Bumiaji 5 kejadian, dan di Kecamatan Junrejo 3 peristiwa.

Kabid Operasional Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Batu, Santoso Wardoyo menyatakan, secara kuantitas, kejadian pada tahun 2017 memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

”Namun, masyarakat masih perlu waspada dan tidak sampai teledor. Sebab, selama ini faktor penyebab utama kebakaran adalah aktivitas manusia,” kata dia.

Dia bahkan bisa menyebutkan bahwa 90 persen penyebab kebakaran itu karena human error. Pemicunya dari hal yang sepele. Di antaranya, listrik yang instalasinya tidak standar, tidak pernah dicek sehingga terjadi korsleting, hingga pemilik bangunan lupa mematikan LPG.



”Dari penyebab yang sepele dan kerap diabaikan oleh masyarakat itulah kebakaran bisa terjadi. Apalagi menjelang musim hujan sepeti saat ini, kerawanannya semakin tinggi,” beber dia. Korsleting listrik dari pemasangan yang tidak standar dan sempurna juga bisa jadi penyebab kebakaran.

Santoso bercermin dari kejadian tahun lalu. Selama menangani kebakaran, DPK mengalami banyak kendala. Mulai kendala secara eksternal sampai internal. ”Kendala eksternal itu kan karena di kampung itu jalannya kecil. Jadi, kami sulit menjangkau,” kata dia.

Selain itu, keberadaan kabel telepon atau listrik di jalan yang pemasangannya rendah juga menghambat petugas PMK menuju lokasi.

”Karena kami menggunakan mobil tangga, jadi karena ada banyak kabel telepon yang pemasangannya rendah, nyantol. Itu menghambat pergerakan kami. Kami hanya bisa berharap, minimal ketinggian pemasangan kabel itu 5 meter. Kurang dari itu, akan nyantoli,” kata Santoso.

Sementara itu, dari kendala internal, menurut Santoso, sekarang ini DPK memang masih kekurangan personel dan armada. ”Jumlah personel kami masih kurang. Sebenarnya kami sudah ajukan untuk penambahan, namun sampai sekarang belum bisa dipenuhi,” kata dia.

”Idealnya, keseluruhan sampai pos kecamatan butuh total 100. Untuk pemenuhannya sebenarnya juga bisa bertahap, tidak langsung 100 personel, tapi bisa 20 dulu, dan terus berlangsung,” kata dia.

Selain dari personel, ketersediaan armada juga jadi kendala. Sekarang ini, DPK Kota Batu hanya mempunyai 4 kendaraan PMK yang terdiri dari 3 mobil pompa dan 1 mobil tangga.

”Dari perhitungan analisa kami itu, mobil tangga cukup satu itu sudah ada. Namun, untuk mobil pompa butuh 7. Sekarang sudah ada 3. Kemudian, butuh 3 mobil rescue ringan (mobil peralatan rescue model jip), 2 mobil suplai (pengisi air), dan kendaraan bermotor,” kata dia.

Dia melanjutkan, kendalanya juga karena 2 di antaranya 3 mobil pompa DPK sudah tua. ”Yang keluaraan tahun 2003 dan 2008 sebenarnya sudah perlu peremajaan,” terang dia. Jika semuanya lengkap, tentu akan lebih optimal dalam menanggulangi kebakaran.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Ahmad Yahya
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono