Teknologi Tak Bisa Usik Pandai Besi

TUREN – Perajin pandai besi bisa dibilang salah satu pekerjaan yang tak lekang oleh waktu. Meskipun saat ini ada kecanggihan teknologi, tak mampu mengusik produsen alat pertanian seperti sabit, golok, cangkul, sekrop, cetok, linggis secara tradisional ini. Jadi, selama alat tersebut masih dibutuhkan oleh para petani, maka pandai besi akan tetap ada. Sebagaimana perajin pandai besi yang ada di Desa Gedog Wetan, Kecamatan Turen.

”Ya, selama petani masih ada, insya Allah pandai besi akan tetap hidup,” ujar salah satu pengusaha pandai besi yang ada di RW 11, RT 5, Desa Gedog Wetan, Nuratim.

Dia mengaku sudah sekitar 20 tahun bekerja sebagai pandai besi. Dari usaha ini, pendapatannya selalu stabil, yakni Rp 400 ribu–Rp 500 ribu per hari.

Di desa tersebut, menurut Nuratim, terdapat sekitar 60 orang yang mempunyai usaha pandai besi. Dalam sehari mereka dapat membuat 10–20 buah peralatan pertanian. ”Bergantung karyawannya, kalau banyak orderan yang membantu bisa sampai 25–30 orang dalam sehari,” tutur bapak tiga anak itu.

Setelah sejumlah peralatan jadi, kemudian mereka menjual peralatan tersebut ke beberapa pasar. Seperti Pasar Gondanglegi, Pasar Turen, dan Pasar Dampit dengan harga yang beragam. Paling murah Rp 45 ribu per buah untuk sabit, sedangkan harga paling mahal Rp 250 ribu per buah untuk alat cangkul.



Salah satu pedagang peralatan pertanian di Pasar Turen, Prayitno juga membenarkan bahwa alat pertanian yang diproduksi secara tradisional peminatnya lebih tinggi di pasaran dibanding peralatan berjenis stainless. ”Mungkin karena memang masyarakat Malang Selatan menilai alat seperti ini lebih kuat dibanding stainless, dan kalau tumpul cara mengasahnya pun lebih mudah,” tutupnya.

Pewarta               : Imron Haqiqi
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Abdul Muntholib
Fotografer          : Imron Haqiqi