Tekan Stunting, Dapat Support Bank Dunia

KEPANJEN – Penanganan problem stunting masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemkab Malang. Tahun depan Plt Bupati Malang H.M. Sanusi secara khusus menargetkan agar persentase stunting turun menjadi 9 persen.

Dari posisi sekarang yang masih berada pada skala 11 persen. Untuk diketahui sebelumnya, stunting adalah problem pertumbuhan anak. Cirinya bisa dilihat dari tinggi badan yang tak sesuai dengan standar usia anak.

Sebagai salah satu upaya penanganan stunting tersebut, Sabtu (24/8) Pemkab Malang yang diwakili Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) mendampingi pejabat Sekretariat Wakil Presiden dan Direktur Regional Bank Dunia untuk meninjau secara langsung program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi berbasis Masyarakat (Pamsimas).  Lokasi yang dipilih yakni Desa Gunungronggo dan Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan.

Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Dr Wahyu Hidayat MM menjelaskan, program Pamsimas itu telah dijalankan selama tiga tahun belakangan di 57 desa. Dari pertemuan tersebut, dia menuturkan bahwa sinergitas penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, juga ada peran dari akademisi serta masyarakatnya sendiri.

”Kebetulan tahun 2018 lalu Pamsimas Kabupaten Malang keluar sebagai juara III di tingkat provinsi. Jadi, dari pihak pemerintah pusat dan Bank Dunia ingin melihat secara langsung bagaimana program-program pengentasan stunting berjalan di tengah masyarakat,” kata Wahyu.



Sesuai dengan namanya, mantan Camat Tajinan itu menjelaskan bahwa Pamsimas bertugas untuk melaksanakan program-program yang telah disusun pemerintah daerah untuk menekan penyebab stunting.

Utamanya dalam hal penyediaan air bersih dan sanitasi. ”Karena sesuai dengan riset akademisi, faktor terbesar yang mengakibatkan stunting nyatanya bukan disebabkan kurangnya asupan gizi dan makanan. Tapi didominasi faktor lingkungan, baik air bersih maupun lingkungannya,” beber dosen Planologi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu.

Pasca kunjungan tersebut, Wahyu menuturkan bahwa tidak menutup kemungkinan Bank Dunia yang bermarkas dari Washington Amerika Serikat bakal memberikan sumbangsih berupa bantuan anggaran untuk penanganan stunting.

”Jadi, kedatangan mereka ke Tajinan itu dalam rangka verifikasi apakah benar program (pengentasan stunting) tersebut benar-benar diterapkan oleh masyarakat. Jika sesuai, maka ada peluang mereka (Bank Dunia) juga akan sharing pendanaan untuk membangun infrastruktur yang men-support masyarakat,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto mengaku bila 2020 mendatang pihaknya telah menyiapkan grand design untuk menekan stunting. ”Ke depan stunting kami upayakan agar tidak menjadi program yang berada pada level kabupaten saja, tapi nanti juga akan menjadi tanggung jawab desa,” kata dia.

Secara menyeluruh, mantan kepala dinas perikanan itu menyebut ada 20 unsur yang harus ditangani untuk menekan angka penderita stunting.  ”Unsur-unsur inilah  yang ke depan akan kami bagi, jika sebelumnya hanya dikerjakan oleh 16 organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, maka ke depannya pemerintah desa juga harus punya peran di dalamnya,” jelas Tomie.

Selain infrastruktur, program pemenuhan kebutuhan gizi untuk pangan seimbang juga bakal dilakukan. Lewat program Gemar Makan Ikan (Gemarikan), Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Endang Retnowati mengaku bila pihaknya masih perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan dengan gizi yang tepat. ”Salah satunya dengan cara mengonsumsi ikan,” kata Atik–sapaan akrabnya.

Data Dinas Perikanan Kabupaten Malang mencatat, indeks konsumsi ikan di kabupaten masih jauh dari rata-rata konsumsi ikan di tingkat provinsi maupun nasional. ”Konsumsi ikan kabupaten saat ini masih pada angka 28,3 kilogram per kapita per tahun,” kata dia.

Sementara di Provinsi Jawa Timur, saat ini indeksnya berada pada angka 34,62 kilogram dan nasional 50 kilogram per kapita per tahun. ”Padahal, untuk memacu pertumbuhan secara maksimal, omega tiga yang terkandung dalam ikan menjadi kebutuhan utama.

Terutama untuk 1.000 hari pertama kehidupan sejak dari kandungan, karena itu konsumsi ikan sangat diperlukan untuk menekan angka stunting,” tutupnya. 

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya