Tekan Pernikahan Dini, Inilah Cara yang Ditawarkan Mahasiswa Unikama

MALANG KABUPATEN – Pernikahan dini, masih marak ditemukan di wilayah Kabupaten Malang. Tak terkecuali di Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe).

“Banyak sekali yang menikah di usia muda, kebanyakan ya dorongan orang tuanya,” ujar Sriyati, Ketua PKK Desa Tambakasri.

Pernikahan dini, kerap memicu berbagai masalah. Di antaranya lantaran 80 persen pelaku pernikahan dini, belum memiliki pekerjaan. Bahkan, masih menumpang dengan orangtuanya.

“Kebanyakan dari pasangan ini menikah secara siri,” tambahnya.

Situasi itu, membuat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) tergerak. Tiga kelompok yang bertempat di Desa Tambak Asri memiliki Program Kerja (proker) inti salah satunya menggelar penyuluhan tentang pernikahan dini.



Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Unikama Desa Tambarasri, Drs. Iskandar Ladamay, M.Pd menyebut penyuluhan digelar di Balai Desa Tambakasri, Sumbermanjing Wetan.

“Penyuluhan berjalan baik dan lancar, warga sangat antusias. Kurang lebih, ada 50 warga yang ikut,” ujar dia.

Sementara itu, Dr. Dra. Suciati, SH, M.Hum, pemateri acara menjelaskan bahwa menikah di usia muda itu tidak salah. “Hanya saja waktu yang belum tepat. Maksudnya adalah menikah itu diperbolehkan asalkan umur keduanya sudah sesuai dengan peraturan Undang-Undang,” tukas Suciati.

UU itu dijelaskan dalam pasal 7 ayat (1) tentang ketentuan batas usia pernikahan untuk laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun.

“Untuk saat ini memang tidak terlalu kelihatan dampaknya. Tetapi untuk ke depan, pasti pasangan muda ini dan keluarga akan merasakan dampak dari pernikahan dini. Apalagi dengan umur masih sangat muda dan di bawah batasan usia yang ditentukan oleh Undang-undang,” sebut Suciati.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Humas Unikama
Editor : Indra Mufarendra