TEDxUniversitasBrawijaya – Grand Design of Tomorrow

TEDxUniversitasBrawijaya berhasil menyajikan beragam kajian edukatif dan informatif tentang kepekaan manusia terhadap masa depan di seluruh aspek kehidupan.

MALANG KOTA – Menjadi tema besar dalam penyelenggaran TEDxUniversitasBrawijaya pada Sabtu (24/11) lalu. Untuk kedua kalinya, program dibawah lisensi TED, organisasi non profit yang berfokus pada penyebaran ide dan gagasan ini kembali hadir di Kota Malang.

Bertempat di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, TEDxUniversitasBrawijaya berhasil menyajikan beragam kajian edukatif dan informatif tentang kepekaan manusia terhadap masa depan di seluruh aspek kehidupan. “ Grand Design of Tomorrow ini tentang bagaimana kita bisa bersikap optimis akan masa depan”, ungkap Michelle Theofany, team leader TEDxUniversitasBrawijaya 2018.

Sebagai instansi pertama dengan lisensi TED pertama di kota Malang, TEDxUniversitasBrawijaya memiliki tujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi berbagai kalangan mulai pelajar, pengajar, hingga komunitas lokal untuk membagikan ide-ide multidisipliner dari sains, teknologi, desain, dan lain sebagainya. Dengan tujuan ini, TEDxUniversitasBrawijaya akan melahirkan berbagai gagasan dengan sudut pandang technology, entertainment, dan design yang menjadi kunci pada setiap penyelenggaran TED.

Sejak pukul 9 pagi, ratusan audiences sudah terlihat memenuhi venue. Dengan antusiasme tinggi, mereka hadir untuk mendengar cerita dari para 8 tokoh inspiratif lokal dan nasional yang didapuk menjadi speakers pada TEDxUniversitasBrawijaya 2018. Berasal dari berbagai latar belakang, sudut pandang, budaya, dan disiplin ilmu, kedelapan speakers pun sukses membagikan ide, pandangan, dan gagasan visioner.

Salah satu pandangan inspiratif hadir dari seniman yang dikenal sebagai penyintas bipolar disorder, Hana Madness. Hana membawakan isu yang cukup hangat di kehidupan generasi muda masa kini yaitu mental health. Hana bercerita dirinya merubah ‘kegilaan’ miliknya menjadi sesuatu yang positif dengan seni. Di sesi lain, isu tentang disabilitas turut diangkat dengan menghadirkan Slamet Tohari sebagai speaker. Salah satu inisiator pembangunan fasilitas belajar bagi mahasiswa Universitas Brawijaya ini membagikan pandangannya akan konsep ‘normal’ dalam masyarakat dan bagaimana difabel diperlakukan.

Tak ketinggalan, tokoh lokal pun turut ambil bagian pada TEDxUniversitasBrawijaya. Dwi Cahyono, salah satu penggiat sejarah di Kota Malang, menyampaikan ide visioner tentang masa depan. “Membangun masa depan yang baik haruslah dengan melihat masa lalu dengan baik pula,” ujar Dwi sembari menyisipkan trivia sejarah Kota Malang. Membangun masa depan juga tidak bisa lepas dari adanya peran masyarakat.

Itulah poin yang disampaikan oleh speaker terakhir TEDxUniversitasBrawijaya 2018, Cania Citta Irlani. Influencer dan content creator situs GEOLIVE ID ini membagikan gagasannya bahwa pelaku industri konten yang meliputi seluruh masyarakat haruslah mempunyai integritas dalam bermedia sosial. “Dengan menggunakan nilai keterbukaan dan berbasis pada ilmu pengetahuan. Agar masyarakat bisa saling mencerdaskan dan mencerahkan,” tukasnya.

Aktivitas sharing ide dan gagasan oleh speaker semakin menarik dengan adanya sesi networking. Jika di dalam ruangan speaker hanya berbicara satu arah kepada audiences, pada sesi networking para speaker dan audiences dapat berdiskusi dan bertukar pemikiran secara langsung. Sesi ini juga menjadi wadah audiences untuk berkenalan satu sama lain.

Dikemas dalam konsep acara yang apik dan menarik, keseluruhan acara TEDxUniversitasBrawijaya 2018 sukses meninggalkan kisah yang berkesan. Ide, gagasan, dan pemikiran mengenai ‘Grand Design of Tomorrow’ tersalurkan dengan cara sederhan namun bermakna. Memberikan jawaban akan bagaimana manusia harus bertindak dalam mempersiapkan masa depan yang semakin mutakhir. (zha)