Taufikurrahman, Perita Tumor Mata Ganas Tak Bisa Berobat Sinergi Jawa Pos

Bocah-bocah bermain riang di halaman rumah di Dusun Selatan, Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Senin (4/12). Mereka kejar-kejaran, berteriak kecil, lalu tertawa terbahak-bahak.

Seorang remaja tertawa kecil di dekat kerumunan bocah-bocah itu. Dia tidak ikut main bersama mereka. Dia diam. Sesekali mengambil kelereng yang jatuh jauh dari titik lubang yang dituju.

Remaja yang mengenakan kaus oblong itu mengikuti secara saksama permainan kelereng. Terpancar di wajahnya ingin bergabung. Namun, dia seperti tidak memiliki keyakinan. Dia hanya diam melihat keriangan teman sepermainannya.

Remaja itu bernama Taufikurrahman. Dia lahir 6 September 1995. Penyakit ganas yang diderita sejak kecil membuat tumbuh kembangnya tidak normal seperti remaja pada umumnya. Meski sudah berusia 22 tahun, Taufik masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).



Dia mengenyam pendidikan di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Pamekasan. Penyakit yang diderita kadang menjadi penghalang semangat belajarnya. Sudah sebulan Taufik tidak masuk sekolah lantaran penyakitnya kambuh.

Taufik mengidap tumor mata. Penyakit itu tergolong ganas. Bola matanya menyembul, membesar seperti bola bekel. Mata kiri yang menjadi bulan-bulanan penyakit itu puluhan tahun tak berkedip. Juga tidak bisa melihat.

Akhir-akhir ini, tumor yang mulai menyerang saraf itu semakin menjadi. Tidak hanya kepalanya yang sakit dan ngilu. Kedua kakinya juga susah digerakkan. Tidak bisa berjalan. Itu semakin menyiksa kehidupan remaja tampan tersebut.

Siti Sulihah, ibunda Taufik, mengaku bersedih melihat kondisi anaknya. Penyakit tumor yang diderita sejak anak kesayangannya itu berusia empat tahun semakin ganas. Awalnya, hanya berbentuk benjolan.

Namun, lama-kelamaan membesar dan terus membesar sehingga membuat ngilu setiap mata yang menatapnya. Membuat pilu setiap Taufik mengeluh kesakitan. ”Semoga masih ada kesembuhan untuk anak saya,” ucap Sulihah lirih.

Dia menjelaskan, ketika berusia empat tahun, Taufik sempat dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Remaja malang itu ditangani tenaga medis di Surabaya. Pengobatan tersebut ada hasilnya. Minimal, ngilu tidak terasa.

Pihak rumah sakit meminta Taufik rutin dikontrol minimal sebulan sekali. Namun, karena keterbatasan biaya, saran dokter diabaikan. Apalagi, tidak berselang lama, Mohammad Sakur, ayahanda Taufik, juga sakit parah.

Sakur harus mendapat perawatan intens. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Namun, satu-satunya tulang punggung keluarga itu tak kunjung sembuh. Sampai akhirnya, dia meninggal pada 2006.

Ekonomi semakin terimpit. Taufik semakin jauh dari perawatan medis. Sulihah hanya mengandalkan pengobatan tradisional. ”Kami tidak punya biaya untuk membawa Taufik ke rumah sakit,” katanya.

Sulihah menyampaikan, pemerintah memberikan jaminan kesehatan. Dia dan kedua anaknya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS). Namun, gratis biaya perawatan belum cukup membangkitkan keberanian mengobati Taufik ke rumah sakit.

Sebab, biaya hidup selama perawatan membutuhkan uang banyak. Apalagi, pengobatan anak tercintanya itu tidak bisa dilakukan di Pamekasan. Harus ke rumah sakit yang peralatan medisnya lengkap di Surabaya.

”Saran dokter segera dioperasi karena takut semakin parah. Tapi, saya tidak punya biaya. Saya juga kasihan melihat Taufik kalau dioperasi. Kasihan. Semoga masih ada jalan sembuh,” harap Sulihah. 

(mr/pen/hud/luq/bas/JPR)