Tarik Ulur Bacabup Kaum Sarungan

KABUPATEN – Tarik ulur siapa figur kaum sarungan yang bakal diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2020 sepertinya masih alot.

Ada dua faktor yang membuat partai politik (parpol) pimpinan Muhaimin Iskandar itu belum mengerucutkan satu nama dalam pesta demokrasi di Kabupaten Malang ini.

Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, sejumlah nama yang muncul di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) hingga Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) sudah disorongkan ke jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Tapi DPP belum mengetahui siapa yang paling potensial untuk menang. Mulai dari modal finansial, modal sosial, dan modal politiknya.

Selain itu, partai dengan lambang bumi dikelilingi sembilan bintang itu mematok target tinggi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 2020 mendatang, yakni menguasai sembilan wilayah di Jawa Timur (Jatim).

Saat ini, PKB sedang melakukan ”tes ombak” terhadap lima bakal calon (balon) bupati-wakil bupati yang dianggap potensial. Mereka adalah Bupati Malang H.M. Sanusi, Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Hasan Abadi, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Malang dr Umar Usman, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang Kholiq, dan Ketua DPC PKB Kabupaten Malang Ali Ahmad.

Dari kelima figur kaum Nahdliyin tersebut, dua di antaranya menguji peruntungan di parpol lain. dr Umar misalnya, selain berharap rekomendasi dari PKB, dia juga mengikuti penjaringan di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Nasdem. Demikian juga Hasan Abadi, mengikuti penjaringan di PDIP dan Nasdem.

Gus Ali Dukung Sanusi?

Menanggapi kasak-kusuk di internal PKB, Ketua PPKB Kabupaten Malang Ali Ahmad menjawab diplomatis. Termasuk siapa yang potensial mendapatkan rekomendasi pencalonan dari PKB. ”Untuk saat ini saya memilih konsen di DPR RI.

Kalau suara arus bawah ingin Pak Sanusi (Bupati Malang H.M. Sanusi) maju lagi, juga oke. Itu menjadi pertimbangan. Untuk rekom tetap nanti melihat keputusan DPP,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ali tersebut.

Begitu pun terhadap nama-nama lainnya, anggota Komisi XI DPR RI itu pun optimistis bahwa seluruh nama tersebut punya peluang yang sama dalam kontestasi politik di Pilbup Malang 2020 mendatang.

”Semuanya punya peluang yang sama. Yang jelas dia (penerima rekom PKB) kader partai dan lebih utama lagi merupakan kader NU, karena PKB memang lahir dan milik warga Nahdliyin,” katanya.

Catatan lain yang tidak kalah penting, kata Ali, yakni solidaritas antara PC NU dengan DPC PKB. ”Bagaimana pun, PKB merupakan satu-satunya partai yang lahir dari rahim NU dan punya ikatan historis, ikatan ideologis, serta ikatan strategis dengan NU,” ujar Ali.

Jika sebelumnya DPC PKB memaparkan tidak akan membuka penjaringan cabup-cawabup, sumber internal koran ini mengungkap bahwa ada kemungkinan pola tersebut akan diubah. PKB akan tetap membuka pendaftaran cabup-cawabup tapi dilakukan secara tertutup.

Hasan Sebut PDIP dan Nasdem itu Parpol Besar

Hal tersebut juga diamini oleh Rektor Unira Hasan Abadi. ”Bisa juga pendaftaran tertutup, dengan syarat tertentu dan untuk kader tertentu,” kata Hasan saat dikonfirmasi kemarin (19/11).

Pria yang sebelumnya mendaftar sebagai calon bupati (cabup) di dua partai (PDIP dan Nasdem) tersebut menuturkan, sampai saat ini belum ada partai yang berani memastikan kepada siapa rekom mereka akan diberikan. ”Semuanya masih menunggu. Kalau PDIP sudah sampai di tingkat DPD, sedangkan Nasdem kayaknya masih penutupan pendaftaran,” kata Hasan.

Mantan ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang itu menyatakan bahwa dirinya mendaftar ke partai seberang bukan semata-mata keinginan pribadinya. ”Saya ini yang mendaftarkan kawan-kawan volunteer, di PDIP mereka yang mengantarkan saya.

Begitu pun ketika (mendaftar) di Nasdem, bahkan formulirnya saja saya diambilkan. Itu karena saking inginnya kawan-kawan volunteer ini supaya saja nyantol (lolos),” jelas Hasan.

Pertimbangan lainnya, Hasan menuturkan, PDIP maupun Nasdem merupakan parpol besar yang di dalamnya juga banyak kader NU. Meski idealnya kader NU berafiliasi dengan PKB, Hasan tidak melihat hal tersebut dari sudut pandang akademisi.

”Kalau mengacu data lembaga survei nasional, dari 2,8 juta penduduk Kabupaten Malang, 47 persen afiliasinya ke NU. Sementara yang ke PKB ada 20 persen. Sisanya, banyak orang NU yang berkiprah di Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Nasdem, dan PDIP. Malang itu afiliansinya NU, cuma tidak secara struktural,” bebernya.

Umar Usman: Kalau Ada Parpol Lain Buka Pendaftaran, Saya Daftar Lagi

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC NU Kabupaten Malang dr Umar Usman. Pria yang juga telah mengikuti penjaringan di PDIP dan Partai Nasdem itu menyatakan, dia sengaja mendaftar di banyak parpol untuk melenggang ke pringgitan. ”Yang buka pendaftaran dulu siapa, ya kami mendaftar,” kata Umar.

Pria yang juga direktur RSUD Kota Malang itu menuturkan, dirinya juga akan mendaftar kembali jika ada parpol lain yang membuka peluang bagi dirinya menuju kursi N1 (sebutan untuk jabatan bupati Malang). Terkait pembicaraan resmi dengan PKB, Umar menuturkan bahwa hal tersebut belum dilaksanakan.

”Kalau secara informal sebatas berkomunikasi saja ada. Kami juga sudah bersilaturahmi ke tingkat provinsi maupun pusat. Ke semua partai karena kami ingin seluruhnya terkomunikasikan dan syukur bisa tembus (lolos),” ujarnya.

Selain itu, Umar juga sudah membentuk tim sukses sejak lima bulan yang lalu. Personel yang tergabung di timsesnya mayoritas dari kalangan komunitas, baik dari internal maupun di luar NU. ”Mereka sudah bergerak. Sejauh ini membantu menyosialisasikan nama saya di segala lapisan dan wilayah, baik di tingkat kecamatan, desa, RW maupun RT,” kata Umar.

Sementara itu, Bupati Malang H.M. Sanusi yang juga menjadi salah satu sosok yang berpeluang mendapat rekomendasi dari DPP PKB lagi-lagi enggan berkomentar banyak perihal persiapan Pilkada 2020. ”Tanyakan ke DPC sajalah, itu nanti keputusan DPC dan DPP. Saya sebagai kader mengikuti saja,” katanya singkat.

Pun ketika ditanya soal pembentukan timses. ”Ya belumlah, wong rekom saja belum. Nanti saja menunggu keputusan DPP,” tukas Sanusi.

Pewarta : farik Fajarwati
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan