Tarif Cukai Naik, Rokok Ilegal Potensi Subur

MALANG KOTA – Jumlah produsen rokok ilegal diprediksi bakal melonjak. Ini menyusul rencana kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen mulai 1 Januari 2020. Para pengusaha rokok biasanya punya banyak cara untuk menyiasati harga cukai. Pihak bea cukai pun sudah menyiapkan cara menangkal peredaran rokok ilegal itu.

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Timur II Agus Hermawan menyebutkan tidak segan menangkap perusahaan yang nakal. Tidak hanya dengan didenda, tapi juga memblokir akses perusahaan tersebut. ”Kami tangkapi, denda administrasi dan kami blokir. Tujuannya ya kami ingin ada fairness (kejujuran, Red) dalam berbisnis,” tuturnya.

Sementara, untuk denda administrasinya selama ini Agus menyebutkan bergantung nilai cukai yang seharusnya dibayar. ”Tapi, kalau dia (perusahaan) melakukan sampai dua-tiga kali berulang kali. Nanti, penindakannya bahkan bisa dikalikan 6 kali,” tegasnya.

Selama ini dari paparan hasil penindakan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah II Malang, tren peredaran atau jual beli rokok ilegal meningkat. Diketahui, pada tahun 2017 ada 291 penindakan dan 397 penindakan di 2018.

Sedangkan untuk tahun 2019 hingga Agustus, sudah ada 268 penindakan. ”Jadi, naik lagi dan naik lagi. (Perkiraan) total keseluruhan hampir 5 juta batang (yang disita). Bayangkan,” tegasnya.

Maka dari itu, Agus sekali lagi menegaskan pihaknya terus-menerus melakukan penindakan. Baik dengan kerja sama dengan instansi lain atau bea cukai sendiri. Tentunya, dengan harapan bagaimana perusahaan rokok golongan tiga bisa tumbuh. ”Kami menekan tumbuhnya rokok ilegal. Dan golongan tiga kami dorong untuk tumbuh,” terangnya.

Di Malang Raya, ada beragam cara yang dilakukan pemilik produk rokok ilegal agar terhindar pajak cukai. Selain memanipulasi cukai, juga tempat produksi rokoknya berpindah-pindah. Artinya, tempat linting dan pengepakan berada di lokasi berbeda.

”Sekarang (yang sering) itu rokok polos. Dilinting di mana, nanti dibawa ke mana (untuk diproses lebih lanjut). Baru kemudian dibungkus dan diperjualbelikan,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang.

Sementara, praktik manipulasi cukai menurut Agus yaitu sigaret kretek mesin (SKM) menggunakan cukai sigaret kretek tangan (SKT). Dengan tujuan agar pembayaran pajak cukai murah. ”Memang untuk pajak SKT lebih murah daripada SKM. Tapi, (praktik itu) sekarang sudah mulai jarang,” tuturnya.

Dia menjelaskan, murahnya cukai untuk SKT karena orang yang terlibat dalam pengerjaannya lebih banyak. Artinya, melibatkan banyak pekerja. Berbeda dengan SKM. Jadi, pemerintah memberi keringanan kepada SKT pajaknya lebih murah. ”Makanya, saya harapkan kalau memang kretek mesin ya pakai mesin. Kretek tangan ya kretek tangan,” tegasnya.

Modus lain yang kini sudah jarang yaitu jual beli cukai. Di mana perusahaan rokok membeli cukai dari seseorang. Kemudian dipakai kembali untuk rokok yang baru. ”Ini juga sama sudah mulai jarang,” ucapnya. Tapi, meski melanggar dan ditindak, praktik tersebut masih kerap kali dilakukan dengan tujuan pajak yang dibayar sedikit.

Dia memaparkan, untuk pajak dari cukai rokok sebanyak 60 persennya masuk ke pemerintah Indonesia. Sedangkan 40 persennya sudah menjadi hak pemilik perusahaan. Jadi, tidak salah jika harga rokok mahal. ”Bisa dilihat peraturannya memang seperti itu,” terang dia.

Pewarta : M.Badar Risqullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Munthlib