Tak Percaya Quick Count, Contoh Nyata Era Post Truth

KOTA MALANG – Kondisi literasi di Indonesia saat ini berada dalam krisis matinya kepercayaan kepakaran. Berita hoax, fake news, media sosial, membuat keadaan saat ini menjadi post truth. Keadaan post truth sendiri yakni dimana kebenaran bukan lagi dari literasi kepakaran namun dari sisi emosi masing-masing individu.

Hal ini disampaikan oleh Sastrawan Balai Bahasa Jawa Timur, Mashuri, M.A. dalam Bimbingan Teknis yang diadakan Balai Bahasa Jawa Timur untuk menyokong Gerakan Literasi Nasional. Gelaran ini diadakan Rabu (24/3) di Perpusatakaan Universitas Negeri Malang (UM) dan dihadiri 35 guru serta 15 siswa se-Kabupaten Malang. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan beberapa fenomena kekinian terutama yang menimpa generasi millenial.

“Hari ini ada yang namanya fenomena post truth, dimana masyarakat mempercayai sesuatu hanya berdasarkan emosinya. Nggak tahu ini benar apa nggak yang penting menurut dirinya benar. Meskipun pakar atau ahli yang ngomong, mereka nggak akan percaya. Mereka baru percaya kalau banyak orang atau kabar yang beredar banyak yang seperti itu,” papar alumni Universitas Gadjah Mada ini.

Ia mencontohkan keadaan post truth pada fenomena quick count di Pemilu 2019. Dimana jutaan masyarakat sudah tidak percaya dengan hasil quick count dari lembaga-lembaga survei. Kebenaran yang mereka anut bukan lagi dari ahli-ahli survei namun berdasarkan emosi siapa yang mereka pilih.


“Ini merupakan bukti matinya kepakaran. Bayangkan mereka itu ahli survei, ahli statistik, tapi jutaan orang masih tidak percaya. Mereka baru percaya hasil yang sesuai dengan emosi mereka,” sambung dia.

Lebih lanjut Mashuri menjelaskan bahwa keadaan ini juga bersamaan dengan merebaknya hoax atau fake news. Generasi millenial sangat berbeda dengan generasi 20 tahun yang lalu. Secara kepekaan, sensitifitas, dan emosi mereka lebih tinggi. Inilah yang kerap kali menimbulkan ketegangan.

“Sekarang ini apa-apa serba gadget serba media sosial. Berita-berita hoax mulai dari foto, video, konten tulisan. Mereka percaya pada hal-hal viral di media sosial. Malah nggak baca berita aslinya dari koran atau portal berita,” beber pria kelahiran 1976 ini.

Oleh karena itu dengan adanya bimbingan teknis ini, ia berharap agar masyarakat mulai sadar literasi. Sehingga tidak sampai mengimani sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Penyunting: Fia