Tak Cukup Jago Ngaji, Santri Perlu Kuasai Teknologi

MALANG KOTA – Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh punya maskot dan logo baru. Namanya Sadalino. Ini adalah maskot karya mahasiswa Vokasi Universitas Brawijaya (UB) yang didesain khusus untuk pesantren asuhan Prof Dr KH M. Bisri itu. Logo dan maskot itu memiliki makna filosofi berupa kecerdasan, kreativitas, dan juga teknologi. Logo dan maskot itu secara resmi diserahkan Ketua Vokasi Dr Ir Darmawan Ockto Sutjipto kepada Prof Dr M. Bisri kemarin.

Pengasuh ponpes Prof Bisri menjelaskan, ada 4 aspek yang dimiliki lulusan pesantren yang dia asuh. Pertama mantap agamanya, memiliki jiwa entrepreneur, cakap berbahasa (Arab dan Inggris), serta pandai dalam hal teknologi.  Maskot baru Sadalino ini representasi dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan di pesantren.

Mantan rektor UB itu menambahkan, selain digembleng ilmu agama, santri Bahrul Maghfiroh juga mendapatkan kelas entrepreneur. Para lulusan bukan hanya jago ilmu agama, tapi juga lihai perekonomian. Karena itu, pesantren ini sudah memiliki minimarket, kolam lele, dan pengolahan keju yang bisa jadi laboratorium para santri.

Di pondok yang dia asuh itu, santrinya yang sekolah di SMP dan SMA gratis tidak perlu bayar, tapi tetap pendidikan berkualitas. Karena itu, pada masa pendaftaran gelombang pertama tahun ini, pendaftar sudah mencapai 80 orang. Tidak semuanya bisa masuk karena berdasarkan hasil tes.

Dalam kesempatan ini, Ketua Vokasi UB Dr Ir Darmawan Ockto Sutjipto menjanjikan akan terus mendampingi pesantren ini. Setelah logo dan maskot, selanjutnya akan dibuatkan website untuk memudahkan khalayak mengakses apa saja yang ada di pesantren. Juga di website nanti akan bisa digunakan sebagai market place untuk produk hasil para santri Pesantren Bahrul Maghfiroh.



Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad yang hadir kemarin memberi pesan kepada para santri bahwa nyantri adalah kesempatan untuk latihan mandiri, belajar multitasking, dan disiplin. Karena di sinilah tempat yang tepat untuk belajar agama, dari guru yang benar dan baik sehingga hasilnya pun demikian.

Beda cerita dengan belajar agama via YouTube atau Google, yang jadi guru belum tentu runtut sanadnya. Dalam kitab Ta’limul Muta’alim dijelaskan bahwa murid harus bisa mencari guru yang baik, bagus akhlaknya, dan bisa menjadi panutan. Satu lagi yang ditekankan bahwa nyantri adalah salah satu cara untuk mencari keberkahan hidup.

Pewarta : Darmono
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib
Fotografer : Darmono