Syarif Oemar Said, Kolektor Dokumen Kuno dan Arsip Kemerdekaan

Berawal dari kegemarannya mengoleksi dokumen kuno, Oemar Said turut andil mengungkap sejarah Kota Malang. Kini, ada ribuan dokumen berharga hasil perburuannya dari Madiun, Probolinggo, Solo, dan berbagai daerah lain di Indonesia.

MOH. BADAR RISQULLAH

MEMASUKI rumah di Jalan Pajajaran, Klojen, Kota Malang, Jawa Pos Radar Malang disambut dokumen kuno yang hampir memenuhi ruangan. Ada yang tertata rapi di rak buku, ada pula yang berserakan di lantai.

Di salah satu ruangan itu, tampak dua pria sibuk memilah-milah dokumen, sambil membersihkan debu yang menempel di lembaran tersebut. Mereka adalah Syarif Oemar Said dan temannya, Mario Hadi Santoso.

”Saya sedang mencari kuitansi zaman dahulu,” ujar Ico Oemar, panggilan Syarif Oemar Said saat ditemui di rumahnya kemarin (19/8).

Sembari menutupi mulut dan hidungnya dengan masker, Oemar tampak berhati-hati membersihkan dokumen kuno itu. ”Kalau salah membuka lembaran, ya bisa sobek kertasnya,” kata pria berusia 45 tahun itu.

Aktivitas bersih-bersih itu dilakukan hampir setiap hari, selama puluhan tahun silam. Ya, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), Oemar kecil sudah tertarik dengan dokumen kuno. Dia merasa ada yang spesial dengan catatan tempo dulu. ”Tapi, dulu hanya sebatas prangko yang dikumpulkan,” terang bapak satu anak itu.

Dari kegemarannya mengumpulkan prangko itulah, lalu merembet ke buku. Beragam buku kuno telah dikoleksi pria kelahiran 1974 itu. Khususnya buku bergambar. Misalnya buku Lima Sekawan. ”Saya sisihkan uang jajan sekolah itu untuk membeli buku,” kata dia.

Kesukaannya sejak SD itu pun berlanjut hingga SMA. Namun, kesukaannya mulai bertambah dengan menyukai majalah dan buku remaja. Ketika tidak ada perkuliahan, Oemar keliling mencari buku lawas di toko-toko buku bekas.

”Sampai kuliah saya masih sering cari-cari buku,” terang pria alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Kemudian, setelah lulus dan meninggalkan kota kelahirannya, Oemar bekerja di salah satu perusahaan mebel di Bali. Ketika ada waktu senggang, Oemar yang berada di Bali sekitar 1999–2000 itu berburu buku kuno. Termasuk buku-buku zaman kolonial Belanda. ”Dari sana saya kembali cari buku kuno seperti biasanya,” imbuhnya.

Selang beberapa tahun kemudian, sekitar 2004, Oemar bekerja sebagai penjual handphone di Kota Malang. Sama halnya saat di Bali, dia juga tidak lupa mencari buku untuk menambah koleksinya. ”Kadang saya yang cari. Tapi, kadang juga ada yang datang ke konter dan menawarkan buku kuno,” ungkapnya.

Di tahun yang sama, perburuannya juga membuahkan hasil. ”Nah, saya dapat buku Preanger terbitan 1920. Satu seri empat jilid. Dan itulah yang membuat saya semakin semangat mengoleksi buku hingga sekarang,” tuturnya.

Perburuan buku kuno tidak hanya dilakukan di Malang. Namun, juga berbagai daerah lain di luar kota. Di antaranya Madiun, Probolinggo, hingga Solo (Jawa Tengah). ”Setiap datang ke suatu daerah, yang pertama saya tuju ya toko buku kuno,” kata Oemar.

Puluhan tahun melakukan perburuan, ribuan dokumen kuno dia hasilkan. Mulai buku, majalah, foto, kartu pos, koran, hingga dokumen penting seperti desain Tugu Kemerdekaan yang belakangan dikenal Tugu Malang. Di antaranya, surat peresmian tugu oleh Presiden Ke-1 R1 Soekarno pada 20 April 1953.

Surat peletakan pertama yang masih tertulis dengan mesin ketik. ”Saya dapatnya dari teman sesama kolektor barang antik,” ungkapnya.  ”Yang paling berharga ya itu. Gambar desain Monumen Tugu Malang. Ada lima lembar,” ucapnya sambil menunjuk lembaran kertas bergambar Monumen Tugu.

Selain berburu, Oemar juga tahu cara merawatnya. Misalnya disimpan di dalam wadah plastik setelah dibersihkan. ”Kalau disimpan begini (plastik) agar tak dimakan serangga. Atau jika hujan atau banjir tidak rusak,” jelasnya.

Apalagi, sebagian kertas dokumen yang dimilikinya itu sudah berusia ratusan tahun. ”Itu yang rawan rusak dan harus dirawat secara ekstra. Sekaligus berhati-hati, salah perawatan dan penataan saja bisa sobek atau hancur,” ungkapnya.

Blueprint pembangunan tugu di Alun-Alun Kota Malang itu pernah ditawar orang, tapi tidak dilepas. ”Nggak mau dijual. Saya simpan buat galeri,” ungkapnya.

Gambar tersebut berskala 1:100. Meski gambarnya terlihat terang dan jelas, namun tidak tertera nama pembuatnya. Sehingga Oemar tidak mengetahui siapa yang menggambar dan merencanakan monumen tugu tersebut.

Untuk mendapatkan dokumen tersebut, dia mengeluarkan uang yang tidak sedikit. ”Besaran harganya tidak saya sebutkan. Yang jelas, dokumen ini ditemukan saat pembongkaran kantor bank,” katanya.

Oemar rela mengeluarkan biaya besar dan berpetualang untuk mendapatkan dokumen kuno karena kecintaannya terhadap Malang. Oleh karena itu, semua dokumennya didominasi Malangan. ”Makanya nggak saya jual. Kalau bisa ditukar dengan satu rumah,” candanya.

Ada juga gambar yang diperolehnya lima tahun lalu. Kini, gambar tersebut merupakan koleksi yang tidak ternilai harganya. Karena bisa jadi koleksinya tersebut hanya satu-satunya. ”Ini akan disimpan agar bisa diteliti. Tapi, tidak boleh dibawa,” tuturnya.

Dengan memiliki ribuan koleksi, Oemar berencana membuka galeri di rumahnya. Dengan harapan, galeri tersebut bisa memberikan edukasi kepada generasi muda. Sehingga bisa mengerti sejarah Malang. ”Agar anak muda tahu mengenai sejarah kotanya (Malang). Dan ini masih mempersiapkaan semuanya,” kata Ico Oemar.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan