Sutiaji: Saya Satu Periode Saja

MALANG KOTA – Wali Kota Malang terpilih Sutiaji baru akan dilantik Senin mendatang (24/9). Namun, politikus Partai Demokrat ini memastikan kalau dirinya akan memimpin Kota Malang satu periode saja. Itu artinya, lima tahun lagi, dia akan absen dalam kontestasi Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Malang pada 2023 mendatang.

Hal ini ditegaskan Sutiaji saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema Mengembangkan Politik Kemaslahatan Bangsa; Mengambil Pelajaran Masalah Kepemimpinan Politik di Malang. Acara ini digelar oleh Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Malang di Hotel Sahid Montana kemarin (20/9). Menurut dia, dengan tidak berniat maju di periode berikutnya, dia bisa fokus bekerja. Ini karena dirinya tidak lagi butuh pencitraan dalam menjalankan tugasnya.

”Saya pastikan satu periode saja. Ini biar saya bisa fokus dan dilandaskan karena amanah,” ucap Sutiaji, kemarin.

Dia juga menyinggung perihal perannya dengan Wakil Wali Kota terpilih Sofyan Edy Jarwoko. Dia bercerita, beberapa waktu lalu dia sudah menyuruh stafnya untuk mengecek rumah Sofyan Edy. Menurut dia, perlakuan staf terhadap rumah Sutiaji dan rumah Sofyan harus sama.

Tak hanya itu, dia juga berjanji akan memperlebar ruang kerja wakilnya itu. ”Sudah saya katakan ke Pak Edy, nanti kami berdampingan. Sesekali Pak Edy yang akan memimpin apel pagi. Kami akan balance,” imbuh mantan politikus PKB ini.

Apa yang disampaikan Sutiaji ini, seolah ingin memastikan kalau harmonisasi kepala daerah sangat diperlukan. Dia tidak ingin, antara wali kota dan wakil wali kota ”bercerai” di tengah jalan.
Sutiaji berharap, masyarakat juga ikut menyoroti program Pemkot Malang. Dia juga selalu mengingatkan kepada dirinya, untuk berlaku adil sebagai seorang pimpinan.

”Makanya ini, media juga terus menyoroti kinerja. Karena sebagai pemimpin, saya belum menemukan resep antikorupsi, kecuali keterbukaan informasi. Selain itu, pemimpin harus punya kompetensi, integritas, dan moral,” tambahnya.

Perihal korupsi, menurut Sutiaji, salah satu penyebabnya adalah biaya politik yang mahal. Ini jugalah yang dia rasakan saat duduk di kursi DPRD Kota Malang. Menurut dia, bagi calon legislatif (caleg) yang tidak kaya, sulit untuk tidak berutang terlebih dahulu.

”Makanya, sekarang saya sudah naikkan gaji dewan. Asumsinya setahun menjabat, utang saat mencalonkan diri sudah terbayarkan,” ujarnya.

Selain legislatif, jabatan penting di Pemkot Malang juga bakal dinaikkan gajinya. Dengan harapan mengurangi celah pejabat melakukan ”transaksi” di bawah meja. ”Sekretaris kota (sekkota) Rp 50 juta lah. Dengan maksud, biar tidak melirik sana-sini. Saya ingin pejabat itu mengabdi dan bekerja sebagai ibadah. Maka, finansial yang seperti ini harus terpenuhi,” bebernya.

Dalam kesempatan kemarin, Sutiaji sempat menyayangkan saat dia menjadi wakil wali kota. Jika dihitung, pendapatannya selama lima tahun sekitar Rp 5 miliar. Tapi, dia melanjutkan, uang tunai yang didapat jauh dari angka tersebut. Karena dana itu tidak bisa dicairkan. Sudah berbentuk keperluan transportasi dan akomodasi.

”Saya itu mandi ya dari air di ember dengan gayung, tempatnya sempit,” katanya disambut tawa para hadirin.

Selain Sutiaji, hadir dalam diskusi kemarin sejumlah narasumber. Yakni, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Prof Dr Unti Ludigo, dosen FISIP UB Prof Ali Maksum, dan Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad.

Dalam paparannya, Kurniawan Muhammad menyatakan, pemimpin yang berpolitik harus menginternalisasi visi dan membentuk sistem yang baik. Sehingga, lahir habit yang baik dari seorang pemimpin yang mempunyai jiwa leadership.

”Untuk poin leadership ini, berpengaruh seberapa kepala daerah bisa membentuk dream team dalam pemerintahan,” pungkasnya.

Sementara itu, Prof Unti menyatakan, akhlak dan syariah akan menjadi tameng bagi para politisi untuk menjaga diri. Jika tidak, maka bisa masuk dalam golongan yang disebut zoon politicon atau binatang yang berpolitik. ”Proses yang dijalankan tidak benar, sehingga politisi dimaksud berperilaku seperti hewan,” katanya. (jaf/c1/riq)

Pewarta : Fajrus Shidiq
Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Darmono
Penyunting : Irham Thoriq