Survei KedaiKOPI Gambarkan Betapa Ketatnya Pilgub Jatim

Survei KedaiKOPI Gambarkan Betapa Ketatnya Pilgub Jatim

Dari kiri: Emil Dardak, Khofifah Indar Parawansa memegang pigura nomor urut satu. Lantas, Gus Ipul-Puti mendapat nomor urut dua.
(DITE SURENDRA/JAWA POS)

RADAR MALANG ONLINE – Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) merilis survei untuk Pilgub Jatim. Hasilnya, menunjukkan kalau persaingan di Jatim sangat ketat. Bahkan, bisa dikatakan kedua pasangan calon punya kesempatan yang sama untuk jadi pemenang.

Peneliti Senior KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo menjelaskan, potensi ada pada pasangan Syaifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Puti). Sebab, secara angka survei, elektabilitas pasangan tersebut berhasil meraih angka 53,7 persen. Sedangkan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto mendapat dukungan 46,3 persen suara di Jawa Timur.

Kendati demikian, kata Kunto, pendukung Gus Ipul-Puti belum boleh bernafas lega. Sebab, perbedaannya sangat tipis. Ada margin of error atau kesalahan saa survei yang berpotensi untuk membalik keadaan.

“Selisihnya sekitar 7,4 persen saja. Tapi, itu (bisa jadi) modal awal bagi Gus Ipul-Puti, apalagi jika melihat bahwa popularitas mereka masih dibawah kompetitornya masing-masing,” ucap Kunto kepada RADAR MALANG ONLINE, Kamis (22/2).

Dari kiri: Emil Dardak, Khofifah Indar Parawansa memegang pigura nomor urut satu. Lantas, Gus Ipul-Puti mendapat nomor urut dua.
(merilis survei untuk Pilgub Jatim. Hasilnya, menunjukkan kalau persaingan di Jatim sangat ketat.)

Jika elektabilitas Khofifah lebih rendah dari Gus Ipul, menurut survei KedaiKOPI tidak untuk popularitas. Perbedaannya tetap tipis. Mereka menyebut Khofifah unggul  94,1 persen, disusul oleh Gus Ipul 90,9 persen.

Kunto menyebut Pilgub Jatim makin unik karena elektabilitas dan popularitas harusnya berbanding lurus. “Apalagi pada sebelum masa kampanye. Seharusnya popularitas berkorelasi tinggi dengan elektabilitas,” ungkapnya.

Sementara itu, Kunto menuturkan, faktor yang menentukan naiknya elektabilitas pasangan Gus Ipul-Puti adalah faktor petahana. Sehingga dipersepsi oleh pemilih sebagai calon yang lebih berpengalaman dan faktor religi yang melekat pada sosok Gus Ipul.

Apalagi, kata Kunto, faktor agama merupakan rujukan utama untuk memilih kepala daerah. Sehingga faktor ini disebut-sebut menentukan kemenangan. “Seseorang yang memilih berdasarkan pendekatan regiliutas 75,4 persen disusul oleh faktor kesukuan 40,1 persen dan faktor petahana atau pengalaman 30,5 persen,” ucapnya.

pilgub jatim, khofifah, gus ipul, puti, emil

Calon Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno memegang ponsel untuk foto bersama calon pemimpin Jatim yaitu Gus Ipul, Emil Dardak, dan Khofifah.
(merilis survei untuk Pilgub Jatim. Hasilnya, menunjukkan kalau persaingan di Jatim sangat ketat.)

Sedangkan faktor kenapa Khofifah bisa menempel ketat elektabilitas Gus Ipul sama-sama memiliki latar belakang dari Nahdlatul Ulama (NU). Seperti diketahui, Khofifah adalah tokoh muslimat NU. Selain itu, faktor bahwa dia adalah salah satu menteri dari Presiden Jokowi juga menentukan.

Sebagai menteri sosial, membuat Khofifah lekat dengan peduli rakyat. “Responden yang menjawab Khofifah dikenal sebagai menteri sosial sebesar 50,4 persen, tokoh muslimat NU sebesar 18,7 persen sedangkan dikenal sebagai calon gubernur jatim hanya 8,3 persen, sementara yang menjawab lainnya sebesar 22,6 persen,” ungkapnya

Tidak hanya itu, Kunto menjelaskan, saat ini preferensi pemilihan di Pilgub Jawa Timur juga dinilainya sangat unik. Sebab, setidaknya 43,7 persen pemilih akan menentukan pilihannya di hari-hari tenang dan bahkan di hari H pemilihan.

Mereka yang menentukan pilihannya di fase akhir pilkada tersebar secara merata sebagai pendukung kedua pasangan calon. “Kedua pasangan calon harus bekerja keras untuk meyakinkan mereka yang akan menentukan pilihannya di etape akhir pilkada,” pungkasnya.

Sebagai informasi, survei dilakukan dengan metode tatap muka, melibatkan 600 responden yang dipilih dengan metode acak bertingkat di kabupaten dan kota di Jawa Timur. Survei ini memiliki margin of error (MoE) +/- 4 persen pada interval kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan pada  2 sampai dengan 8 Februari 2018.


(aim/JPC)