Supermoto ”Milik” Pembalap Bali

Pembalap asal Bali, Diva Ismayana, menjadi bintang pada ajang Indonesia Supermoto Championship (ISC) 2017 di halaman Stadion Kanjuruhan kemarin (8/10). Dia yang tampil di dua kategori, yakni SM Open Pro Kejurnas dan SM 250 Open Pro/Internasional, berhasil membawa medali. Di kelas SM Open Pro Kejurnas, dia berhasil menjadi juara. Sedangkan untuk kelas  SM 250 Open Pro/Internasional, dia meraih runner-up. (Data para pemenang baca grafis).

KABUPATEN – Pembalap asal Bali, Diva Ismayana, menjadi bintang pada ajang Indonesia Supermoto Championship (ISC) 2017 di halaman Stadion Kanjuruhan kemarin (8/10). Dia yang tampil di dua kategori, yakni SM Open Pro Kejurnas dan SM 250 Open Pro/Internasional, berhasil membawa medali. Di kelas SM Open Pro Kejurnas, dia berhasil menjadi juara. Sedangkan untuk kelas  SM 250 Open Pro/Internasional, dia meraih runner-up. (Data para pemenang baca grafis).

Sejak babak kualifikasi kelas SM 250 Open Pro, Ismayana harus bersaing dengan 20 pembalap lain. Di babak ini, persaingan begitu seru. Sebab, Ismayana juga harus bersaing dengan pembalap Supermoto dari luar negeri. Di antaranya, dari Belanda, Australia, Jepang, Singapura, Filipina, dan Latvia.

Butuh waktu 15 menit plus 2 lap bagi Ismayana untuk menyisihkan pesaingnya. Dia dikuntit pembalap kawakan Doni Tata asal Jogja dan Farhan Hendro dari Jawa Barat.

Sementara sebelum gelaran Supermoto dimulai, ribuan penonton disuguhi beragam atraksi yang memacu adrenalin. Di antaranya, aksi freestyle akrobatik dengan motor. Ribuan penonton dibuat merinding dengan aksi stunt rider. Salah satu aksi yang menarik perhatian ketika seorang rider menunjukkan aksi salto dengan motornya. Motor trail yang dia gunakan itu dimodifikasi dengan tambahan besi berlapis karet di atasnya sehingga berbentuk seperti roda. Ketika direm, motor langsung berguling-guling.

Setelah suguhan aksi itu sekitar 20 menit, acara pembukaan dilanjutkan dengan penampilan seni reog Ponorogo. Tak hanya reog, pertunjukan tersebut juga ditambah dengan kesenian kuda lumping yang dibawakan Sanggar Suryo Jayaningrat dari Donomulyo. Konsep acara ini memang lebih menarik dengan suguhan atraksi modern dan tradisional (budaya).



Bupati Malang Dr H. Rendra Kresna mengaku bangga dengan gelaran Supermoto ini. Sebab, dampak dari ajang ini, nama Kabupaten Malang terangkat di tingkat internasional. Selain itu, akan berdampak ada melonjaknya wisatawan yang datang. Ini sejalan dengan misi Kabupaten Malang yang mengusung konsep sport tourism. ”Olahraga yang digabungkan dengan pariwisata bisa membawa keuntungan untuk masyarakat. Ini yang menjadi perhatian pemerintah ke depan,” terangnya.

Dia juga berharap, tahun depan ajang seperti ini bisa kembali digelar di Kabupaten Malang. Ini bisa menjadi agenda tahunan yang menarik perhatian dunia internasional. ”Tahun ini antusiasmenya semakin tinggi, bisa dilihat dari banyaknya jumlah rider yang ikut. Baik rider dari luar negeri maupun dalam negeri secara kualitas juga meningkat,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Jawa Timur tersebut.

Dengan banyaknya ajang yang digelar Pemkab Malang memang mampu meningkatkan daya tarik wisatawan. Dari data yang dihimpun setiap tahun, sudah ada peningkatan wisatawan yang berkunjung. ”Dari 2016 lalu saja, sudah ada peningkatan dari 3 juta menjadi 5 juta kunjungan. Tentu ini menjadi peluang untuk membuat lebih banyak event lagi,” terangnya.

Sementara itu, Direktur EWSports702 Endiyatmo Widadgo mengaku cukup puas dengan penampilan pembalap lokal. Sebab, mereka mampu meruntuhkan dominasi pembalap dari luar negeri. Untuk tahun ini memang pembalap lokal memiliki persiapan yang cukup matang. ”Pembalap lokal sudah bagus penampilannya. Mereka seperti tertantang untuk tampil lebih baik. Mungkin juga karena banyak pembalap luar negeri yang ikut balapan,” terangnya.

Secara kualitas, pembalap dari luar negeri bukan berada di bawah rata-rata. Sebab, mereka merupakan juara di masing-masing negara. Namun, dari segi penyesuaian cuaca dan lintasan, itu bisa menjadi kendala. ”Mereka ini juara di negaranya, cuma banyak faktor yang harus diperhatikan,” katanya.

Yang agak disayangkan ketika balapan dimulai, hujan turun cukup deras. Jadi, lintasan dari tanah tidak bisa dimanfaatkan karena ada risiko tinggi bagi pembalap. ”Kami tidak ambil risiko,” tegas dia.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Abdul Munthalib
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Falahi Mubarok