Super Blue Blood Moon, Fenomena 150 Tahun Sekali

Super Blue Blood Moon, Fenomena 150 Tahun Sekali

Ginanjar/Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Kegiatan nobar dan salat jamaah ini, terbagi dari tiga aspek kegiatan, di antaranya aspek dzikir, edukasi, dan wisata. Aspek dzikir cenderung dengan kegiatan ibadah yang dilakukan umat muslim saat terjadinya gerhana bulan atau matahari. 

PENASARAN: Warga yang berkumpul di area Masjid Agung Nasional Al Akbar Surabaya untuk mensaksikan fenomena alam gerhana total.
(GINANJAR/RADAR SURABAYA)

“Selain aspek ibadah, aspek edukasi ini juga sangat penting bagi pengetahuan anak-anak tentang terjadinya gerhana bulan,”ujar Helmy M Noor, Humas Masjid Nasional Al-Akbar, tadi malam.

Ia menjelaskan selain dua aspek tersebut juga dijadikan sebagai tempat objek wisata. Lapisan masyarakat dapat melihat langsung proses terjadinya Super Blue Blood Moon. ”Saya sudah menyediakan empat layar lebar dua plasma TV, agar masyarakat dapat mengamati pergerakan bulan secara real”, jelas Helmy.

Acara nobar ini juga melibatkan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur dalam pengamatan proses terjadinya gerhana total. Shofiyullo selaku Ketua Falakiyah PWNU Jatim mengatakan persiapan ini memiliki berbagai proses sebelum terjadinya gerhana total. 

Pukul 18.48, memastikan terjadinya gerhana dengan menggunakan alat teropong yang diberinama Nomo (Nahdlatul Ulama Observatorium), dalam pengamatan ini terdapat empat titik obeservasi, yaitu awal terjadinya gerhana bulan, awal terjadinya gerhana bulan total, akhir gerhana total, dan akhir dari gerhana bulan.”Jadi hasil dari hitungan itu nantinya kita cocokkan sebagai penentuan awal tahunijiriyah”, jelas Shofiyulloh.

Untuk pengamatan observasi ini pihaknya telah menyiapkan dari dua hari sebelumnya, dengan menggunakan teropong yang sama sebagai penentuan terjadinya super blue blood moon.”Saya senang bisa melihat super blue blood moon lewat teleskop di Masjid Al-Akbar. Ini kesempatan langkah ,” ujar Adrian, salah satu siswa SMAN 16 di Surabaya. 

FENOMENA ALAM LANGKAH

Kepala Seksi Observasi dan informasi Badan Meteorologi dan Geofisika(BMKG) Stasiun Meteorologi Perak, Surabaya, Zem I Padama membenarkan fenomena itu sangat langkah terjadi ratusan tahun.“Ini merupakan fenomena alam langka karena hanya terjadi per 150 tahun,” ujarnya kepada Radar Surabaya, kemarin.  

Menurutnya, pada 31 Januari ini menjadi kali kedua sejak peristiwa yang sama terjadi pada 31 Maret 1866. Di mana terjadi bulan purnama dua kali dalam satu bulan, pada 5 Januari dan pada 31 Januari. Bulan purnama muncul bersamaan dengan posisi bulan yang berada di titik terdekat dengan bumi. 

“Saat gerhana, posisi bulan juga sangat berdekatan dengan bumi. Fenomena ini dinamai dengan supermoon blue moon, blood moon dan supermoon yang terjadi bersamaan yang dinamai dengan super blue blood moon.

Zem I Padama menjelaskan, supermoon adalah peristiwa di mana bulan purnama nampak lebih besar 14 persen dan 30 persen lebih terang dari biasanya. Fenomena blue moon muncul ketika  bulan purnama terjadi dua kali dalam satu bulan. “Sedangkan, blood moon adalah suatu peristiwa di mana bulan nampak kemerah-merahan akibat dari atmosfer yang menyerap cahaya biru dari matahari. Sehingga bulan tampak kuning kemerahan seperti darah,”terangnya. (*/no) 

(sb/jpg/jek/JPR)