Summer Camp Jadi Ide Tulisan, Yakinkan Juri dengan Contoh Manajemen Waktu

Bagi banyak pelajar, menuangkan ide ke dalam tulisan seringkali dianggap tak mudah. Namun, bagi Khoiroh Yeroh, hal itu justru membuatnya tertantang menepis anggapan umum tersebut. Hasilnya, dia tampil sebagai juara 1 penulisan karya tulis tingkat Jawa Timur.

Bagi banyak pelajar, menuangkan ide ke dalam tulisan seringkali dianggap tak mudah. Namun, bagi Khoiroh Yeroh, hal itu justru membuatnya tertantang menepis anggapan umum tersebut. Hasilnya, dia tampil sebagai juara 1 penulisan karya tulis tingkat Jawa Timur.

BISA meraih prestasi di bidang karya ilmiah tingkat regional tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Khoiroh Yeroh. Apalagi, lomba karya tulis ilmiah (LKTI) itu merupakan event pertama yang diikuti siswi SMK Muhammadiyah 7 (Mutu) Gondanglegi ini. Digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), karya tulisnya diputuskan dewan juri menjadi yang terbaik di ajang Muhammadiyah Education (ME) Awards 2017. ”Pesertanya dari SMA, MA, dan SMK Muhammadiyah se-Jawa Bali. Jadi, saingannya cukup berat juga waktu itu,” katanya.

Dalam lomba tersebut, Yeroh membuat karya tulis tentang program unggulan di sekolahnya. Yakni, program Summer Camp atau kemah sekolah selama liburan. Jika biasanya kegiatan menginap hanya dilakukan saat kegiatan Pramuka atau pondok Ramadan, kali ini kegiatan menginap dilakukan saat masa libur sekolah. Siswa diwajibkan menginap selama 3 hari 3 malam. ”Saya ambil program itu menjadi karya tulis karena bagus untuk penguatan karakter siswa. Karena kami dididik untuk disiplin dalam menjalani keseharian,” terangnya.

Dia melakukan proses penelitian hingga penulisan selama satu bulan. Hasilnya, proposal yang dia tulis berhasil masuk untuk lolos ke babak utama. ”Sempat tidak percaya saat diundang untuk masuk babak 35 besar. Sebab, kebanyakan membuat produk, sedangkan saya hanya mengulas program sekolah,” kata putri dari pasangan Hasan-Saifah tersebut.

Benar saja, ketika harus tampil di hadapan juri, kebanyakan peserta membawa produk. Sementara Yeroh hanya membawa lembaran proposal. Namun, dia tetap percaya diri untuk memaparkan hasil karyanya. ”Yang lain bisa menjelaskan dengan menunjukkan produk. Saya yakinkan juri dengan konsep dan ambil contoh sederhana saja,” beber siswi kelas XII tersebut.

Demi meyakinkan juri, dia mengambil contoh bahwa dari hasil penelitiannya, lewat kegiatan Summer Camp tersebut, ibadah atau salat siswa menjadi lebih tertib. Dia menjelaskan, jika salat sudah tertib, otomatis siswa akan pandai dalam mengatur waktu. ”Saya tonjolkan kepribadian dari manajemen waktu yang bagus. Itu ternyata bisa membuat juri yakin dengan hasil karya saya,” terang gadis kelahiran 25 April 2000 tersebut.

Usahanya pun membuat namanya masuk 10 besar. Di babak ini, dia harus memamparkan karyanya dalam tiga menit. Bahkan, dia sempat mendapat pertanyaan yang membuanya ragu. ”Ada juri yang tanya tentang nama kegiatan, saya langsung tidak konsen. Padahal sepele, tapi sempat bingung. Untung, saya bisa menjelaskan kalau nama bisa beda yang penting konsepnya,” kenangnya.
Keyakinannya dalam menjawab pertanyaan juri ternyata mampu memberikan predikat juara baginya. Hal itu tentu di luar prediksinya bisa mengalahkan peserta lainnya yang dianggap tampil bagus.

Setelah memenangkan kompetisi tingkat regional, kini dia sedang persiapan untuk maju tingkat nasional. Rencananya pada pertengahan Oktober, dia akan berlaga di level tersebut. ”Yang jelas sekarang persiapan mental saja, untuk materi sudah beres semua. Karena levelnya sudah beda, kemampuan lawan juga pasti lebih,” tandasnya.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Indah Setyowati
Fotografer : Hafis Iqbal