Sulap Warung Jadi Kedai Buku, Ada Ruang untuk Diskusi

Membangun relasi yang unik dengan pelanggan bisa dilakukan dengan banyak cara. Seperti yang dilakukan Hendro Prasetyo, pemilik kedai Semut Alas yang menjadi jujukan mahasiswa dan aktivis ini. Uniknya, ada kopi maupun teh gratis bagi pengunjung yang ingin berlama-lama di kedai buku di kawasan Tlogomas, Kota Malang, ini.

Bulan puasa tidak membuat toko buku sepi pengunjung. Contohnya Kedai Buku Semut Alas di Jalan Tlogomas 18, Kota Malang. Sejumlah mahasiswa terlihat sedang mencari buku di rak bertingkat. Sang pemilik, Hendro Prasetyo terlihat santai stand by di mejanya.

Dari luar, memang tak tampak jika ruko tersebut merupakan kedai buku. Namun saat memasuki ruangan, terlihat rak penuh berisi buku baru. Ada juga rak buku baru. Hendro menyatakan, buku tersebut memang dijual untuk umum. Tapi, bagi Anda yang hanya ingin melihat maupun membuka buku untuk mencari referensi juga diperbolehkan. ”Kalau baca-baca saja tidak masalah,” tuturnya.

Di dalam kedai tersebut, pria kelahiran 16 Februari 1988 ini menyiapkan tempat khusus layaknya kafe. Para pengunjung yang ingin membaca buku bisa memanfaatkan tempat tersebut. Nah, yang lebih unik lagi, Hendro menyediakan kopi maupun teh gratis untuk para pengunjung yang membaca buku. Boleh jadi yang seperti ini jarang ditemui di toko buku lain. ”Tapi, saya tanya dulu pengunjungnya, masih lama atau sebentar. Kalau tidak terburu-buru, saya bikinkan kopi. Kecuali bulan puasa ini, ya enggak,” kata pria berusia 31 tahun itu.

Tentu ada biaya yang harus dia keluarkan untuk sekadar menyediakan kopi. Namun, bagi Hendro, hal itu dianggapnya sebagai sedekah. Karena dari penjualan bukunya itu, Hendro menyatakan, dia sudah mendapatkan untung. ”Saya juga lupa dari mana ide ini muncul, tapi yang saya lakukan ini untuk membangun keakraban dengan pengunjung,” kata lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Meski tidak mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan buku, Hendro mengaku yang dilakukannya adalah bagian dari passion. Ide toko bukunya itu berawalnya sekitar 2014 lalu. Saat itu, dia bersama sejumlah rekannya merasa kesulitan mendapatkan buku yang dicari. Apalagi untuk buku yang sudah tidak lagi dicetak atau diedarkan oleh penerbit. ”Karena dulu memang tidak banyak buku anak muda, seperti filsafat dan sosial,” kata putra pasangan almarhum Said Efendi- Kholifah ini.

Lagi pula, Hendro juga menekankan agar tidak membajak buku. Hak cipta penerbit menurutnya harus dijunjung tinggi. Makanya, dia berusaha mendapatkan buku asli dari penerbit ataupun dari sesama pedagang. Meski menurut dia, membeli buku dari pedagang buku juga mahal harganya. ”Buku yang tidak cetak lagi di penerbit, saya coba cari dan beli. Itu lebih baik daripada harus melihat buku bajakan,” kata suami Ikrotul Fitriah ini.

Hendro mengakui, tidak semua penerbit bisa dia jangkau untuk mendapatkan buku edar. Namun, dia terus berusaha agar bisa memenuhi kebutuhan pasar. Yaitu, buku-buku yang dibutuhkan pembaca kritis. ”Ya itu, meskipun ke pedagang lain saya juga beli, walaupun harganya lebih mahal dari biasanya, tapi kan buku yang seperti ini (sosial, Red) pasti banyak dicari,” imbuhnya.

Kedai buku tersebut memang sudah dia mulai sejak 2014 lalu. Bermodalkan Rp 20 juta, dia nekat untuk jualan buku. Kedai tersebut menurut dia, awalnya adalah warung makan yang dikelola bersama kakaknya. Sementara toko bukunya waktu itu masih kecil, berada 4 meter di dekat kedai yang dia tempati saat ini. ”Dulu ini warung makan, saya kelola sama kakak. Akhirnya saya putuskan ambil alih jadi kedai buku,” tukasnya.

Nah, dari usahanya yang juga menggratiskan minuman kepada pengunjung, Hendro mengaku mendapatkan manfaat. Dia merasa lebih dekat dengan pelanggan. Misalnya saat ini, ada mahasiswa yang sudah lulus dan pulang ke daerah asalnya Kalimantan. ”Mereka masih menghubungi saya tanya buku atau sekadar ngabari. Jadi dari jauh, tanya bukunya ke saya, kalau ada saya kirim. Jadi, pelanggan sudah seperti saudara, seperti teman,” terangnya.

Tidak hanya terkenal di kalangan mahasiswa, Kedai Buku Semut Alas juga sudah dikunjungi sejumlah orang penting. Karena di kedai tersebut, juga sering kali diadakan diskusi oleh sumber dari luar internal kedai tersebut. Saat ini, pihaknya masih menyiapkan jadwal diskusi untuk pejabat Kemen PAN-RB. ”Rocky Gerung (filsuf, akademisi dan intelektual publik Indonesia) juga pernah main ke sini lihat-lihat buku,” ujarnya sambil menunjukkan foto Rocky saat ke toko bukunya.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Fajrus Shidiq