Sulap Lahan Bengkok Telantar Jadi Jujukan Kicau Mania Nasional

Menjamurnya kampung tematik di Kota Malang, membuat kelurahan saling berinovasi. Salah satunya Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, yang punya wisata Gantangan Klabang Tori. Tempat ini menjadi jujukan para pencinta burung berkicau (kicau mania) level nasional untuk berburu gelar juara. Seperti apa?

Suasana di Jalan Ketapang 1A, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, bak di tengah hutan saat pagi hari. Selain udaranya yang sejuk, terdengar kicau ratusan burung yang bersahut-sahutan.

Keberadaan burung-burung tersebut memang dibawa oleh para pencinta burung berkicau atau kicau mania. Mereka datang dari berbagai daerah untuk berebut juara di Gantangan Klabang Tori.

Ya, gantangan atau tempat untuk lomba burung tersebut kini menjadi ikon penting kelurahan yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, itu. Menempati luas lahan 13×13 meter persegi, terdapat 64 gantangan untuk menaruh sangkar burung yang dilombakan.

Karena rutin menjadi tempat menggelar lomba burung kicau, otomatis menjadi destinasi wisata atau jujukan bagi para kicau mania dari berbagai daerah. Tidak hanya di Malang Raya, namun juga daerah lain di Indonesia. Praktis, gantangan ini tidak pernah sepi setiap harinya.



Bahkan, saat malam tiba, tempat ini juga masih ramai. Sebab, tempat ini tidak pernah mengenal kata libur. Hanya saja, untuk gantangan malam hari, hanya dibatasi hari Sabtu (malam Minggu) dan Selasa malam saja. Dari cerita Ketua RW 5, Kelurahan Bakalan Krajan, Sugito, dulunya tempat gantangan itu adalah tanah bengkok (tanah kas desa) yang tidak termanfaatkan. ”Ya, tidak terpakai, ditumbuhi tanaman liar semuanya,” kata dia kemarin.

Karena di RW 5 terdapat cukup banyak penghobi dan peternak burung berkicau, lalu dibuatlah gantangan. ”Oleh Pak RW yang dulu (Agus Wahyudi) dibuat gantangan, namun masih dari bambu pada 2017 lalu,” kata dia. Lama-kelamaan, gantangan terus ramai dan menjadi jujukan oleh kicau mania.

Saat itulah, oleh Sugito gantangan dibuat permanen. Bentuknya lumayan bagus. Dengan rangka besi dan atap galvalum. ”Ini sudah standar, mulai tinggi sampai jarak antarsatu gantangan ke gantangan lainnya,” kata pria berusia 47 tahun itu. Malah, ada peredamnya.

”Atapnya kami beri peredam, agar saat hujan tidak berisik. Karena kalau berisik, burung tidak mau berkicau,” lanjut Sugito. Karena bangunannya yang bagus dan lomba yang fair, gantangan ini terus dikenal. Setiap hari, selalu saja ada yang datang. ”Dibukanya memang setiap hari, mulai Senin sampai Minggu,” kata dia. Mulai pukul 14.00 sampai menjelang Magrib.

Begitu juga untuk malam hari juga tetap buka. ”Dulu setiap malam, namun kami batasi karena jika terlalu ramai kami khawatir mengganggu warga. Jadi saat ini dibuat malam minggu (Sabtu) dan Selasa malam saja,” kata pria kelahiran Madiun itu. Sehingga, saat ini tidak ada kekhawatiran mengganggu lagi.

Adanya gantangan ini, Sugito menjelaskan, memang dirasakan oleh warga sekitar. Perekonomian warga menjadi lebih baik. ”Mulai ada warung, toko, dan peternak burung juga semakin banyak,” ungkapnya.

Di RW 5 saja, jelas Sugito, ada kurang lebih 20 peternak burung. Adanya Gantangan Klabang Tori juga menjadi pemasukan bagi kelurahan. Sebab, dikenakan sewa bagi klub atau komunitas burung yang bersaing. Sekali sewa, mereka dikenakan biaya Rp 150 ribu. ”Jadi setiap bulan, rata-rata ada pendapatan Rp 4 jutaan,” ungkap Sugito.

Ke depan, gantangan ini juga akan terus dipercantik. ”Kami juga mendapat tawaran dari Pemkot Malang agar gantangan ini bisa dimaksimalkan lagi fungsinya dan kami juga sudah kirimkan proposal,” ungkap Sugito.

Rencananya, pengajuan proposal itu memang digunakan untuk memoles Gantangan Klabang Tori. Mulai menambah ruang loket permanen sampai membuat pujasera di area gantangan. Sebab, jelasnya, masih ada lahan yang bisa dimanfaatkan. ”Kami harap nanti bisa terealisasi,” kata Sugito.

Adanya gantangan ini, lanjut dia, juga mengenalkan Kelurahan Bakalan Krajan dan Kota Malang ke daerah sekitar. Sebab, yang datang tidak hanya kicau mania dari Malang Raya. ”Ada yang datang dari Bali, Jogjakarta, dan juga Kalimantan,” ungkap dia.

Setiap tiga bulan sekali, jelas Sugito, agenda besar di gantangan juga digelar. ”Ada memperebutkan piala apa, ini yang diikuti banyak peserta dari berbagai daerah,” tandasnya.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Laoh Mahfud