Sukses Karir di BUMD, Ingin Bangun Masjid

Karir Juara Duta Hijab Radar Malang (DHRM) 2014, Tiara Ulfa Yanuesti, begitu moncer. Usai ”pensiun” dari DHRM, dia berkarir di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Blitar. Dia juga sukses di dunia pendidikan.

Pengalaman 7 April 2014 masih jelas di ingatan Tiara Ulfa Yanuesti hingga saat ini. Hari itu di atrium Mal Olympic Garden (MOG), perempuan asal Blitar itu dinobatkan sebagai Duta Hijab Radar Malang (DHRM) 2014. Kala itu namanya masih Duta Puteri Hijabers.

Tiara yang saat itu masih menyandang status mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) tidak pernah menyangka bisa memakai mahkota DHRM 2014. Segudang pengalaman pun dia dapatkan selama satu tahun menjadi ketua Paguyuban DHRM 2014. Mulai dari ilmu agama, karakter diri yang semakin kuat, relasi yang bertambah luas, serta memperbanyak saudara sesama muslimah.

”Berkat DHRM, saya punya saudara baru dan terus bertambah jumlahnya, yaitu para finalis yang lain dari semua angkatan,” terang dia.

Sarjana perpajakan itu mengatakan, satu tahun bergabung di DHRM 2014 bukanlah hal mudah. Sebab, dia adalah angkatan kedua dari DHRM dan memiliki tanggung jawab dalam membentuk struktur organisasi di paguyuban tersebut mulai dari nol. Awalnya belum terbentuk paguyuban yang dibina Belinda Ameliyah itu. Namun, karena keuletannya, dia pun berhasil melewatinya.

Dia mengakui, tertarik ikut ajang yang digelar Jawa Pos Radar Malang itu karena terinspirasi juara DHRM 2013, Erenda Ifria Safri. ”Saya mengenal Mbak Erenda sebagai seseorang yang santun dan ramah, menurut saya itu adalah refleksi dari DHRM,” tutur dia.

Berbagai pembelajaran yang dia dapatkan di DHRM pun mengantarkan dia ke prestasi-prestasi selanjutnya. Baik ketika menjadi mahasiswa maupun di saat sudah bekerja. Di antaranya, juara harapan I Putri Jilbab Indonesia Tabloid Nurani (2014), juara III Fashion Show Muslim Dies Natalis UB (2015), dan juara III Duta Ekonomi Syariah Jawa Timur Bank Indonesia (2016).

Ya, perempuan yang pernah tergabung sebagai Paskibra itu kini menjadi karyawan di salah satu perusahaan perbankan milik daerah. Tidak hanya itu, dia juga tengah melanjutkan studi pascasarjana di Jurusan Akuntansi UB. Meski sempat diragukan ketika tes interview, tapi dia berhasil menunjukkan bahwa kedua hal itu bisa dia jalani dengan optimal.

”Dulu waktu interview kuliah pascasarjana sempat diragukan oleh salah satu profesor. Karena khawatir tidak bisa membagi waktu. Namun, setelah melihat curriculum vitae dan melihat saya pernah ikut DHRM dan resimen mahasiswa (menwa), beliau tidak ragu lagi,” tuturnya.

Karena menurut dia, profesor tersebut yakin bahwa dirinya memiliki mental yang kuat dan tangguh. Mental yang kuat itu dia katakan, salah satunya adalah berkat pembina DHRM, Belinda Ameliyah, yang selalu mengingatkan bahwa menjadi seorang perempuan harus tahan banting di kondisi yang sulit.

”Saya juga berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Malang karena selalu memberikan dukungan penuh kepada kami saat itu dan selalu memfasilitasi dengan total,” ungkap dia.

Pekerjaan profesionalnya pun tetap dia jalani dengan maksimal. Bahkan, berkat public speaking yang dia pelajari di DHRM 2014, Tiara kerap didapuk sebagai master of ceremony (MC), serta mewakili perusahaannya di kompetisi modeling.

Tidak puas dengan pendidikan dan karir, dia juga tengah mengembangkan bisnis sebagai make-up artist (MUA). Saat ini dia telah memiliki 2 karyawan freelance. Meski begitu, Tiara tetaplah manusia biasa yang memiliki rasa lelah. ”Sebisa mungkin saya tidak menunjukkan rasa lelah, saya harus selalu tersenyum,” terangnya.

Setelah sukses di organisasi, punya pekerjaan mapan, akademisnya oke, apa sudah puas? Ternyata belum. Ada satu keinginan yang segera dia wujudkan. Yaitu, membangun sebuah masjid.

Keinginan membangun masjid itu muncul ketika dia menjalani salah satu program kerja di DHRM bersama finalis lainnya. Yakni, membagikan mukenah, Alquran, tasbih, hingga alas kaki ke masjid-masjid di Kota Malang. ”Ternyata sedikit banyak yang kita berikan, selalu bermanfaat untuk ibadah orang lain,” pungkasnya.

Hal itulah yang membuatnya semakin menggebu-gebu untuk bisa membangun tempat ibadah ini. ”Supaya pahala jariah mengalir walau sudah meninggal nanti,” tutup dia. ARLITA ULYA KUSUMA (*/c2/abm)