Suguhkan Napak Tilas Sejarah, Sulap 125 Rumah Warga Jadi Homestay

Potensi wisata budaya dan sejarah di Kabupaten Malang tak hanya seputar candi atau upacara adat di Desa Ngadas semata. Tak banyak terekspos, Desa Peniwen yang terletak di Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, juga punya warisan budaya yang sayang untuk dilewatkan. Adalah Babat Peniwen yang sejak tahun 2018 lalu menjadi salah satu agenda rutin yang dilaksanakan masyarakat sekitar.

 FARIK FAJARWATI

Toleransi menjadi salah satu kearifan lokal yang dimiliki Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan. Meski 70 persen penduduknya adalah umat Nasrani, bersama-sama dengan golongan minoritas, warga Desa Peniwen nyatanya berhasil hidup berdampingan tanpa ada sekat. Salah satunya dalam hal melestarikan warisan budaya nenek moyang mereka, yakni Babad Peniwen.

Kegiatan ini kali pertama dirintis akhir 2018 lalu oleh masyarakat sekitar. Sesuai dengan namanya, babad adalah naskah yang berisi runtutan sejarah di suatu daerah. Babad Peniwen merupakan salah satu cara masyarakat setempat memaparkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat di Desa Peniwen.

Ketua Wisata Budaya Desa Peniwen (WBDP) Didik Baskoro menjelaskan, Babad Peniwen merupakan salah satu pertunjukan rutin yang digelar di sela-sela waktu antara Hari Raya Natal dan tahun baru. Pertunjukan ini biasanya digelar dalam bentuk pertunjukan wayang yang diiringi dengan alunan musik dari gamelan. ”Di dalamnya kami ceritakan kisah-kisah sejarah yang bercerita tentang filosofi lahirnya Desa Peniwen,” kata Didik.

Pria paro baya itu mengisahkan, dulunya ada tokoh yang bernama Zangkioes Kasanawi. Zangkioes adalah orang pertama yang mengajarkan agama Kristen di Desa Peniwen. ”Beliau jugalah yang punya andil besar dan menjadi tokoh sentral dalam lahirnya Desa Peniwen termasuk berdirinya gereja pertama di sini tahun 1830 silam,” terangnya.

Selain berkisah tetang asal mula menyebarnya agama Kristen di Peniwen, Babad Peniwen juga menyelingi kisahnya dengan sejarah yang tak kalah dramatis yang terjadi di desa tersebut. Selain gereja tua yang syarat akan sejarah, di Desa Peniwen juga terdapat Monumen Peniwen Affair yang konon katanya hanya dua di dunia. ”Yang satu ada di Swiss, dan yang satu lagi ada di sini (Peniwen),” kata Didik.

Monumen tersebut berkisah tentang  peristiwa gugurnya 12 anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan lima warga saat bertempur melawan penjajah Belanda pada bulan Februari di tahun 1949 lalu. Catatan sejarah itu lalu diabadikan melalui Monumen Peniwen Affair yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Peniwen.

Keduanya kini menjadi masterpiece bagi wisatawan yang berkunjung ke desa yang berjarak 31 kilometer dari pusat Kota Malang tersebut. Selain napak tilas sejarah, belakangan Babad Peniwen juga dikolaborasikan dengan paket wisata yang dikelola oleh penggerak wisata dari organisasi WBDP.

Tak hanya mendengar dan menyaksikan pertunjukan napak tilas sejarah, pengunjung juga diajak untuk merasakan hidup layaknya warga desa setempat selama beberapa hari. Konsepnya semacam live in di mana wisatawan bakal diajak merasakan sensasi bertani maupun membajak sawah bersama warga setempat. ”Untuk hiburan kami gelar juga lomba-lomba tradisional seperti gepuk bantal dan beberapa permainan tradisional lainnya seperti gasing dan engklek,” terangnya. Dalam kegiatan tersebut, pengunjung diajak untuk merasakan suasana desa yang sebenarnya.

Sebagai rangkaian Babad Peniwen, para pengelola wisata juga memamerkan Galeri Injil. Dalam pameran tersebut, pengelola wisata Desa Peniwen menampilkan 80 lukisan soal Yesus Kristus yang menjadi koleksi GKJW Peniwen.

”Kebanyakan mereka datang dari kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, dan bahkan Kalimantan. Selain untuk mendalami agama (Kristen), mereka juga tertarik dengan kehidupan asli pedesaan,” sambung Didik. Belakangan, meski tidak sedang digelar Babad Peniwen, banyak wisatawan yang berdatangan untuk mencoba sensasi hidup di pedesaan tersebut.

Perlahan namun pasti, desa yang terkenal dengan bangunan peninggalan bersejarahnya itu kini mulai dilirik wisatawan Nusantara. Dalam satu minggu, rata-rata sebanyak 100 orang rombongan datang untuk menginap dengan model live in di desa tersebut. Apresiasi pun diberikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara.

Made menuturkan, dari segi sumber daya manusia pun, masyarakat Desa Peniwen boleh dibilang sudah sangat siap. ”Tanpa kami dampingi pun masyarakat di sini sudah jalan pengelolaan wisatanya, manajemen homestay oleh masyarakat juga sudah terstruktur. Di sini kurang lebih sudah ada 125 homestay yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat,” beber Made.

Yang masih perlu dievaluasi guna pengembangan Desa Wisata Peniwen, masih kata Made, yakni penyusunan paket-paket wisata yang bisa menjadi pilihan bagi pengunjung yang datang. Kehadiran Desa Wisata Peniwen sekaligus melengkapi destinasi wisata religi di kabupaten.

Seperti diketahui, beberapa desa dan kecamatan telah ditetapkan sebagai kawasan wisata otentik yang memiliki keunggulan di bidang religi. Di antaranya seperti wisata Buddha di Gunung Kawi, wisata religi Hindu di Pantai Balekambang dan Wonosari, dan wisata islami di Masjid Tiban, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani