Sudah Tujuh Generasi Kepala Desa yang Meneruskan Tradisi Monggang

BANYAK cara untuk mengungkapkan rasa syukur. Salah satunya melalui ritual dengan mengantarkan monggang ke Petilasan Belik Gedong.

Bagi warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, ritual upacara monggang memiliki nilai maupun pesan tersendiri. Selain wujud mempertahankan budaya leluhur, ritual tersebut memiliki keunikan. Khususnya saat prosesi pengiringan monggang ke Petilasan Belik Gedong.

Seperti diketahui, Belik Gedong adalah sebuah mata air jernih yang ada di kelurahan setempat dan dipercayai tidak mengalami kekeringan. Ketua Paguyuban Kawula Keraton (Pakasa) Hadiningrat Surakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hasta Surantara mengungkapkan, warga Kelurahan Sumbergedong melaksanakan budaya leluhur monggang dengan cara lain, yakni mengiringi monggang dengan alunan gamelan.

’’Monggang adalah sebuah sesajen berupa makanan yang diletakkan di kulit atau pelepah pisang berbentuk persegi,’’ ucapnya.

Filosofi monggang, lanjut dia, layaknya perwujudan rasa syukur yang ditujukan semata-mata kepada Sang Pencipta. Ritualnya dilakukan dengan cara mengantarkan monggang ke Petilasan Belik Gedong milik Eyang Patih Singoyudo Manggoloyudo.

Menurut Hasta, Petilasan Belik Gedong memiliki rekam sejarah leluhur warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek. Betapa tidak, petilasan Eyang Patih tersebut dulunya digadang-gadang sebagai sumber air yang bisa mencukupi kebutuhan untuk bercocok tanam warga setempat. ’’Dulu petilasan tak berupa bangunan seperti itu, tapi area persawahan,’’ katanya.

Benar sekali, di dalam petilasan tersebut terdapat sumur berukuran 1,5 meter berisi air yang cukup jernih. Kedalaman mata air itu sekitar 1 meter dari daratan sehingga untuk mengambil airnya tak membutuhkan usaha ekstra. ’’Ada tutur lisan lain jika sumur tersebut juga mencegah Kelurahan Sumbergedong mengalami kekeringan terlalu lama,’’ jelasnya.

Hal senada diungkapkan carik Lujito Winarno. Menurut dia, upacara monggang merupakan wujud pelestarian budaya leluhur warga Kelurahan Sumbergedong. Upacara tradisi monggang diperingati tiap Jumat Kliwon pada bulan Sela. ’’Tradisi itu merupakan serangkaian kegiatan yang disebut bersih desa,’’ ungkapnya.

Tradisi leluhur tersebut merupakan peninggalan leluhur Eyang Patih Singoyudo Manggoloyudo sebagai sosok yang membabat daerah Kelurahan Sumbergedong. ’’Sudah sekitar tujuh generasi kepala desa yang meneruskan tradisi ini,’’ ungkapnya.

Sementara itu, ritual budaya leluhur juga dilestarikan di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, tepatnya di Dam Bagong. Namun, prosesi ritual yang digelar di Dam Bagong sedikit berbeda lantaran di tengah upacara adat ada prosesi larung sesaji.

Acara tersebut juga diikuti Bupati Trenggalek M. Nur Arifin. Dia menyatakan, tradisi yang dilakukan di Dam Bagong adalah tradisi nyadran dan larung sesaji. Namun, tradisi itu tak sebatas melestarikan budaya leluhur, tapi juga untuk memperingati pahlawan pertanian Eyang Menak Sopal. ’’Pelaksanaan tradisi nyadran tersebut rutin digelar tiap tahun,’’ ungkapnya.

Dia mengapresiasi warga Kelurahan Ngantru. Sebab, adanya warga yang antusias terhadap tradisi nyadran membuat budaya leluhur tidak terputus dari generasi ke generasi. Setiap digelar, ritual tersebut diawali dengan upacara adat lebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan nyadran atau larung sesaji dengan melempar kepala kerbau ke dasar Dam Bagong.

Tradisi itu digelar sebagai simbol bahwa masyarakat Trenggalek tidak meninggalkan sejarah, budaya, dan leluhurnya. Mereka bersyukur karena persawahan Trenggalek mampu ditanami padi serta mempunyai irigasi yang sangat bagus. Agar tidak hilang, ke depan tradisi tersebut ditargetkan pemkab untuk dilaksanakan lebih besar.

Arifin menyampaikan, tradisi itu merupakan tasyakuran rutin dengan melaksanakan larung kepala kerbau sebagai cara mengenang jasa leluhur, khususnya Eyang Menak Sopal, yang membangun Dam Bagong tersebut sejak abad ke-16. Dahulu Eyang Menak Sopal mampu membuat Dam Bagong itu hingga dapat mengairi beberapa hektare sawah di Trenggalek. Khususnya di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan.

Dari situ, masyarakat terus mengenang jasanya. Bahkan, tasyakuran tersebut terlaksana berkat sedekah para petani yang tergabung di gapoktan. Intinya, Eyang Menak Sopal mampu menjadikan Trenggalek yang dulu terkenal akan kekeringan bisa teraliri air berkat Dam Bagong itu.

Dalam sejarah, Eyang Menak Sopal memang tidak membangun dam tersebut sendirian. Dia menerima bantuan masyarakat sekitar melalui kerukunan serta gotong royongnya. Ke depan, tradisi itu akan tetap menjadi agenda tahunan yang terus dipertahankan agar tidak sampai hilang.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : tra/tri/c22/diq