Sudah Dipenjara, Digugat Cerai Pula

Pada 27 November 2015 merupakan hari yang berbahagia bagi Markucel, 26, dan Markonah, 21. Sebab, di bawah janji suci, keduanya bertekad untuk sehidup semati. Tapi apa daya, kisah cinta mereka seperti layu sebelum berkembang.

Awalnya pernikahan keduanya begitu bahagia. Keduanya saling mencintai karena pernikahan mereka bukanlah hasil perjodohan. Saat malam mulai larut, keduanya terbiasa melaksanakan ritual yang mereka sebut Cinta (ciuman nikmat tanpa penghalang).

Tapi, perkara mulai datang di pertengahan 2016 lalu. Markucel yang merupakan preman kampung di daerah Kedungkandang, Kota Malang, mulai terbiasa dengan kebiasaan buruknya. Dia suka mabuk-mabukan, tidak pulang selama dua hari tanpa izin kepada istrinya, hingga mengonsumsi narkoba.

Perempuan sabar ini mencoba bertahan. Tapi, seperti batu yang kokoh, jika terus-menerus terkena badai akan goyah juga. Itulah yang dialami Markonah. Dia sudah tidak tahan lagi, apalagi sudah berbulan-bulan dia tidak dinafkahi Markucel.

Uang Markucel selalu habis meski dia memiliki pemasukan tetap sebagai karyawan di restoran. Usut punya usut, Markucel kini sudah kecanduan narkoba. Hal ini terkuak setelah Markucel pada Juli 2017 lalu pesta narkoba dengan seorang perempuan muda. Lalu, ngapain Markucel di sela-sela pesta itu dengan seorang perempuan muda? Hemm.. entahlah.

Tidak lama setelah itu, Markonah mengajukan gugatan cerai karena sudah tidak kuasa menahan HSTB (hidup sendiri tanpa belaian). Akhir 2017 lalu, PA (Pengadilan Agama) Kota Malang mengabulkan gugatannya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Grafis: Andhi Wira