Sudah 13 Orang Meninggal karena DBD di Kabupaten Pasuruan Selama 2017 Sinergi Jawa Pos

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi menyampaikan, musim penghujan memang berisiko terhadap penyebaran penyakit DBD. Genangan air yang ada di mana-mana, menjadi lokasi berkembang biak bagi aedes agypti.

“Untuk itulah, kami mengimbau masyarakat untuk aktif dalam membersihkan lingkungan. Ini penting untuk membatasi berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti,” ungkapnya. 

Agus –sapaan akrabnya – mengatakan, sejauh ini kasus DBD masih tergolong tinggi. Meski diakuinya, jumlah kasus yang ditemukan, jauh mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelum-sebelumnya. 


Tahun 2015 lalu misalnya, jumlah kasus DBD yang ditemukan mencapai 686 kasus. Dari jumlah tersebut, 28 orang meninggal dunia. Jumlah kasus DBD tahun 2016 mengalami peningkatan. Sebanyak 764 kasus berhasil ditemukan. Dari jumlah itu, 27 orang diantaranya meninggal dunia. 

Agus menjelaskan, kasus DBD tahun ini memang mengalami penurunan. Jumlahnya mencapai 290 kasus. Meski begitu, kasus tersebut kembali merenggut nyawa yang tak sedikit. Diketahui, ada 13 orang yang meninggal dunia. Deretan kasus DBD yang masih muncul itulah, membuat status KLB belum dicabut.

“Karena deretan kasusnya masih cukup banyak, makanya status KLB DBD belum dicabut sampai sekarang,” bebernya. Itu sebabnya, Dinkes setempat mengimbau masyarakat untuk gencar menjaga lingkungan. Hal ini, untuk menghindari resiko penyebaran DBD semakin parah. (one/rf)

(br/fun/one/fun/JPR)