Suara USU Dibubarkan Buntut Cerpen LGBT, Rektor Dianggap Otoriter

JawaPos.com – Seratusan mahasiswa menggelar unjuk rasa di Jalan Universitas, Kampus USU (Pintu 1), Kamis (28/3). Mereka menamai dirinya sebagai Solidaritas Mahasiswa Bersuara (Somber). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap keputusan rektor yang membubarkan para pengurus Pers Mahasiswa Suara USU.

Rektor USU Runtung Sitepu disebut diktator karena melakukan pembubaran yang dianggap sepihak. Unjuk rasa sempat diwarnai kericuhan.

Massa yang memaksa masuk ke sekretariat Suara USU berhadapan dengan satpam. Namun beruntung kericuhan bisa diredam. Kejadian ini, berawal saat pihak keamanan kampus meminta mantan pengurus mengeluarkan barang-barang kecuali aset dari dalam sekretariat.

Massa mahasiswa saat memasang poster penolakan SK pencabutan pengurus Suara USU. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Yael Stefani Sinaga dan mantan pengurus lainnya pun pasrah. Mereka mengeluarkan barang-barang itu dari dalam ruangan. Diluar gerbang sekretariat, massa Somber ingin masuk. Namun dihadang oleh keamanan kampus.



Massa Somber sempat terlibat adu mulut dengan keamanan yang bersikukuh tak mengizinkan mereka masuk. Saat itu juga, sejumlah massa nekat melompati pagar. Yang lainnya juga berupaya masuk dengan memaksa membuka pagar.

Barang barang yang sudah dikeluarkan, dimasukkan kembali ke dalam Sekretariat Suara USU. Itu dilakukan oleh massa mahasiswa dan mantan tim redaksi Suara USU yang diberhentikan rektor.

Mantan Pemimpin Umum Suara USU, Yael Stefani Sinaga, tidak mengetahui secara pasti mengapa pihak rektorat meminta barang barang yang berada di gedung Suara USU dikosongkan.

“Tidak tahu, pokoknya mereka minta dikosongkan semua. Tetapi barang (milik) USU tetap ditinggal di sini,” ujar Yael

Koordinator Aksi, Felix Cristiano mengatakan, aksi solidaritas itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap sujektifitas rektorat yang membubarkan kepengurusan.

Bahkan pembubaran itu dianggap sebagai bentuk pembungkaman. Dalam aksinya, massa membentangkan poster penolakan. Sebuah spanduk penolakan juga dipasang di depan sekretariat.

Sejumlah poster halaman depan Suara USU saat masih dalam edisi cetak juga di pajang.”Rektor saat ini sudah mengambil keputusan sepihak. Kami menolak pesekusi terhadap ide-ide dan kreatifitas mahasiswa,” ujar Felix

Somber katanya, akan terus berunjuk rasa hingga SK pembubaran itu dicabut oleh Rektor USU.

Terpisah, Wakil Rektor 1 USU, Rosmayati tak sepakat jika keputusan rektor dianggap otoriter. Keputusan itu, diambil karena pihak rektorat menganggap harus ada perbaikan di tubuh Suara USU.

“Rektor menyarankan anak-anak Suara USU belajar lagi ke kampus. Tekuni bidang akademisnya,” ujar Rosmayati yang ditemui di kantornya.

Pihaknya juga membantah, langkah pembubaran dianggap tindakan breidel terhadap Suara USU. Sehingga mereka juga akan merekrut pengurus baru.

Selama ini, lanjutnya, pihaknya juga membantu Suara USU. Baik dalam dukungan finansial atau yang lainnya. Pihaknya juga selalu mengambil langkah perauasif.

Bahkan sebelum pertemuan pada Senin (25/3), pembina Suara USU sudah berkomunikasi dengan kepengurusan untuk mencabut cerpen yang menjadi polemik. Namun, pengurus tetap bersikukuh mempertahankan argumentasinya, jika cerpen yang menyoal Lesbian Gay Biseksual dan Transgender itu merupakan karya seni. Sehingga dianggap lumrah.

“Kita sebagai orangtua melihat itu bukan sesuatu yang benar. Sehingga harus diperbaiki. Makanya kita kembalikan mereka ke Fakultas. Biar mereka memperbaiki diri dan introspeksi diri,” pungkasnya.

Pembubaran kepengurusan Suara USU memang menuai polemik dan reaksi publik. Pro dan kontra terjadi akibat pembubaran itu. Karena, cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”, laman suarausu.co sempat disuspensi penyedia server yang merupakan alumni mereka. Namun belakangan Yael Cs berpindah server. Sehingga laman suara USU kembali bisa diakses.

Untuk diketahui, Suara USU dulunya terbit dalam produk tabloid cetak. Tabloid terakhir kali terbit dengan edisi ke 109. Sedangkan majalah sampai edisi ke 7 di 2016 lalu.

Sejak 2017 suara USU sepenuhnya berbentuk daring. Pada era 2004, Suara USU juga pernah menerbitkan Buletin Kamu yang terbit empat edisi.

Suara USU memang dikenal kerap mengkritisi kampus. Bahkan, Suara USU pernah dibreidel di era reformasi. Suara USU dikenal sudah banyak menelurkan jurnalis andal baik di media nasional atau pun lokal.

Editor           : Budi Warsito

Reporter      : Prayugo Utomo