Suara DPD I dan II Bakal Jadi Penentu Nahkoda Baru Golkar

JawaPos.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat I dan II Golkar bakal menjadi penentu di Musyawarah Nasional (Munas) Desember nanti. Suara mereka akan menentukan sosok nahkoda baru partai berlogo beringin itu.

Ketua Bidang Kebudayaan Daerah DPP Golkar Ulla Nurahmawaty mengatakan, partai ini milik kader, mereka ada di DPD I dan DPD II. Tentunya, kader daerah itu yang merasakan nyaman atau tidaknya Golkar saat ini.

“Partai ini milik kader, mereka adanya di DPD I dan DPD II. Mereka objektif melihat partai, apa yang mereka rasakan selama ini, nyaman atau tidak. Kalau tidak nyaman, mereka berhak mengatur rumahnya sendiri,” kata Ketua Bidang Kebudayaan Daerah DPP Partai Golkar Ulla Nurahmawaty, Selasa (19/11).

Ulla yang merupakan bagian dari gerbong pendukung Bambang Soesatyo itu mengatakan, saat ini sebagian besar pemilik suara di DPD II (kabupaten dan kota, red) sudah menentukan pilihannya. Terbukti sebanyak 367 DPD tingkat II menyatakan dukungannya kepada Bamsoet untuk menjadi ketua umum Partai Golkar.

“Kami meyakini dukungan ini sebagai pilihan objektif kader setelah melihat kondisi Golkar saat ini,” ujar Ulla.

Ulla menilai, dukungan DPD II kepada Bamsoet cukup kuat. Meski demikian, konsolidasi tetap dilakukan agar peta suara tidak berubah hingga pemilihan ketua umum saat Munas, Desember nanti.

Sementara itu, terkait dukungan DPD I kepada Airlangga Hartarto yang disampaikan saat Rapimnas lalu, menurut Ulla, sah-sah saja. Tapi, dia berharap DPD I juga objektif melihat Golkar saat ini.

“Kader tentu merasakan perkembangan Golkar. Kalau dalam politik kan ukuran sukses itu suara. Kalau Airlangga sukses di kementerian, itu soal yang berbeda,” kata Ulla.

Pada Pileg 2019, suara Partai Golkar berada diperingkat tiga dengan perolehan 17.229.789 suara atau 12,31 persen. Di atasnya ada Partai Gerindra dan PDIP. Padahal saat Pileg 2014, Golkar berhasil meraih 18.432.312 suara atau 14,75 persen.

Turunnya suara Golkar saat Pileg 2019 karena banyak faktor, salah satunya internal partai berlambang Pohon Beringin itu tidak kondusif. “Karena itu butuh sosk yang mengakar dan bisa merangkul,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Korbid Penggalangan Khusus DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, di bawah kepemimpinan Pak Airlangga Hartarto yang memimpin 1,5 tahun menjelang Pemilu, Partai Golkar telah berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemenang kedua dalam Pileg 2019 ini dengan perolehan kursi diperkirakan 85 kursi, nomor dua setelah PDIP.

Dia mengungkapkan, hampir semua survei lembaga-lembaga survei ternama dan kredibel menyatakan bahwa suara untuk Golkar akan turun besar sampai satu digit, bahkan ada yang menyebut sampai dikisaran 6-9 persen.

“Dan hampir semua survei memprediksi Golkar akan menempati urutan ketiga bahkan ada yang menyatakan bisa turun ke urutan lebih bawah lagi. Banyak pengamat menyatakan Golkar tidak akan ada di papan atas lagi tetapi akan menjadi partai menengah,” ujar Ace.

Hasilnya, di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, Partai Golkar dapat menempatkan kadernya di DPR RI terbesar kedua mengungguli Gerindra yang mencalonkan Ketua Umumnya sebagai Calon Presiden.

“Selain itu, kita tahu bahwa sepanjang sejarah Partai Golkar pascareformasi, di tahun 2019 ini Golkar dapat memenangkan Pilpres dimana kita mendukung pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf. Ini tentu patut diapresiasi,” ujar dia.