Suamiku ”Hilang” ketika Makan Siang

BAGI seorang perempuan, mungkin uang adalah segalanya. Tapi bagi laki-laki, harga diri adalah segalanya. Setidaknya, prinsip itu yang dipegang oleh Markucel, 45, warga Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Sejak menikah dengan Markonah, 40, beberapa tahun lalu, rumah tangga mereka berjalan harmonis. Hampir setiap malam, Markucel memberi menu STMJ (siap tempur malam Jumat). Tentu saja Markonah bahagia. Apalagi Markucel juga tergolong pria RSJ (romantis sekaligus jago) di atas ranjang.

Namun, bahtera rumah tangga mereka mulai goyah ketika Markonah tidak bisa menjaga perkataannya. Suatu ketika, Markonah menuduh Markucel mandul sehingga tidak mampu memberinya keturunan. Bisa jadi, Markonah stres karena berbagai upaya sudah dilakukannya, tapi tetap tidak hamil juga.

Kala itu Markucel diam saja. Tapi, dalam hatinya tidak terima. Dia berpikiran untuk membuktikan bahwa bukan dia yang mandul. Tapi, kandungan Markonah tidak subur sehingga tidak bisa dibuahi.

Untuk mengobati kejengkelannya, akhirnya Markucel mendekati Srintil, 27, janda kampung yang bodinya aduhai. Mulai dari perkenalan, tukar nomor handphone, hingga keduanya akrab. Beberapa bulan berkomunikasi, akhirnya Markucel memadu kasih dengan Srintil.

Beberapa kali bercinta, hingga Srintil berbadan dua. Di satu sisi, Markucel puas karena terbukti dirinya tidak mandul. Tapi di sisi lain, dia bingung jika tiba-tiba Srintil minta dinikahi.

Kekhawatiran Markucel terbukti. Srintil datang bersama orang tuanya untuk meminta pertanggungjawaban Markucel atas benih yang kandungnya, tepat ketika dia sedang makan siang bersama Markonah.

Sontak saja nafsu makan Markonah hilang seketika. Atas kejadian itu, Markonah menggugat cerai Markucel di kantor Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. ”Saat ini perkaranya sudah putus,” terang kuasa hukum Markonah, Bisma Putra Mahardika SH.

Peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi perempuan lain. Jika tidak ingin suaminya jatuh ke pelukan pelakor (perebut laki orang), sebaiknya bisa menjaga perkataan di depan suaminya. 

Pewarta               : Imron Haqiqi
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan