SPBU Syariah, Ajak Karyawan Salat Tepat Waktu






JawaPos.com – Seberapa besar pendapatanmu hingga berani tinggalkan salat wajib lima waktu wahai pekerja? Pertanyaan ini memang sangat menyentil bagi seorang muslim yang bekerja habis-habisan 7×24 jam demi mengejar duniawi. Namun akhirat terlupakan karena tuntutan kebutuhan perut dan gaya hidup.





Perut dan gaya hidup memang tidak bisa dihindarkan dari kehidupan manusia. Menghalalkan segala cara, mengabaikan kewajiban, dan tidak mengiraukan panggilan sang maha pencipta.







Marilah kita belajar dari sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Buana Nur Barokah di Jalan Amir Mahmud, Kota Cimahi, Jawa Barat. Pemilik berani rugi material keduniawian demi keberkahan dan ibadah tepat waktu kepada Sang Maha pemberi rizeki.



SPBU Syariah di Cimahi, tutup saat waktu salat tiba. (Siti Fatonah/JawaPos.com)





SPBU berkonsep syariah ini tidak berbeda dengan SPBU lainnya. Dari jam operasional 24 jam, keramahan karyawan, fasilitas dan lainnya. Namun yang paling menarik dan istimewa SPBU yang konon ownernya adalah pemilik salah satu pesantren di Kota Cimahi ini lebih mengutamakan salat wajib tepat waktu dan berjamaah.





Dalam pantauan JawaPos.com, pukul 11.33 WIB terdengar bunyi bel dari pengeras suara SPBU. Dilanjutkan dengan informasi SPBU akan berhenti beroperasi dan siap-siap salat berjamaah. Begitu terdengar, seorang karyawan mendekati pintu masuk SPBU dan langsung memasang portal agar dengan imabuan ‘SPBU kami tutup 10-15 menit setiap awal waktu salat. Mari kita salat tepat waktu’.





Setelah portal dipasang di pintu masuk, semua karyawan bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan salat berjamah di musola SPBU. Baik laki-laki maupun perempuan semua wajib salat berjamaah. Tak sedikit calon konsumen pun yang terlanjur masuk ke area SPBU ikut salat berjamaah dengan karyawan sambil menunggu jam operasional kembali dibuka. Namun tak sedikit pula calon konsumen sekiranya belasan motor yang mutar arah menjauh dari SPBU.






“Iya begitu bel dan imbauan salat wajib berjamaah, karyawan secara otomatis menghentikan aktivitas,” kata Staff adminstrasi SPBU Syariah, Rizki Trianto di Kota Cimahi, Jawa Barat, Minggu (28/10).






Dalam pantauan, ada seorang karyawan perempuan yang masih melakukan transaksi di SPBU, kemudian sang rekan dan pengawas langsung menyuruhnya untuk berhenti. Dari kejauhan, si karyawan pun memberikan kode kalau itu adalah konsumen terakhir.





Menurut pengakuan staff SPBU, seluruh karyawan diwajibkan membawa alat salat. Bagi laki-laki membawa sarung dan peci sedangkan perempuan membawa mukena. Tak jarang sang pengawaspun memeriksa loker karyawan apakah membawa atau tidak.





“Bahkan pegawai setiap harinya harus bawa alat salat. Misal yang cowok bawa sarung sama peci dan perempuan bawa mukena yang harus ada di lokernya. Itu dicek, kita harus bawa dan kalau waktunya salat langsung salat kalau telat (tidak berjamaah) akan kena tegur atau ditanya alasan tidak berjamaah,” jelasnya.





Walaupun perihal ibadah adalah masing-masing personal yang menanggung, namun sesama muslim harus tetap mengingatkan dan mengajak saudara kita. Tak nanggung-nanggung, bukan hanya teguran namun juga akan ada evaluasi dan laporan kepada owner. Sehingga program ini dilakukan secara konsisten demi nilai ibadah dan usaha yang berkah.





Walaupun konsep ini terbilang baru, yakni tiga pekan terakhir namun selain kegiatan salat berjamaah juga adanya pengajian setiap malam Jumat yang didatangkan dari pesantren sang owner SPBU Syariah. Setiap salat Jumat pun dipastikan ditutup selama setengah jam.





“Program lainnya mungkin owner yang lebih tahu. Awalnya saya sempat kaget sih dengan konsep ini, tapi ya kita mah ngikutin. Kalau untung rugi itu mah urusan owner kalau karyawan mah tetap kerja dan dapat gaji yang sesuai. Jadi begitu bel langsung salat, dan badan pun jadi fresh lagi kena air wudhu. Alhamdulillah kerjanya enak, enggak terlalu tertekan,” tuturnya.





Sebagaimana diketahui, owner SPBU Syariah mendapti kerugian omset sekitar 5 persen setiap harinya karena harus tutup selama 75 menit per hari. Namun buakn masalah, dan owner pun tidak mempermasalahkan atau menyalahkan karyawan, karena akan ada keuntungan lain yang akan didapat yakni keberkahan dalam usaha.





Staf pengawas SPBU Syariah, Andriayana, 30 mengatakan sangat setuju dan mendukung dengan program baru ini. Bahkan dengan adanya konsep salat tepat waktu, bisa memperbaiki ibadah diri sendiri untuk lebih baik dan konsisten.





“Iya Alhamdulillah ngebantu jadi salatnya rada getol lah, bisa dibilang saya jarang (salat) sekarang jadi getol dan termotivasi untuk mengutamakan ibadah,” ucapnya.





Calon konsumen Rahmi Dini Gunawati, 23 mengatakan sangat respek dengan adanya konsep tersebut. Walaupun sedikit bingung karena pertama kali ada namun tidak menghiraukan. Dirinya dan temannya tetap akan mengisi bahan bakar di SPBU Syariah setelah salat berjamah.





“Wah ini bagus ya, kagum juga. Karena baru pertama kali ada kobsep gini. Kan biasanya cuma pas Jumatan. Ya qalauoun harus nunggu tapi malah jadi mengingatkan kita untuk ikut salat berjamah di musala SPBU ini,” ungkap Rahmi.





Setelah selesai salat dzuhur berjamaah, ada waktu senggang sekiranya dua menit sebelum kembali beraktivitas. Pukul 11.55 WIB bel kembali berbunyi ‘Mohon perhatian seluruh karyawan dipersilahkan untuk bekerja kembali, terima kasih dan selamat bekerja’.





Pintu masuk yang telah terportal imbauan pun dibuka kembali. Kurang dari satu menit belasan calon konsumen roda dua dan empat menggeruduk dan mengantri untuk mengisi bahan bakar. Semua karyawan pun sudah siap melayani para konsumen.





(ona/JPC)