23.3 C
Malang
Kamis, Februari 8, 2024

Mengenal Nadya Nakhoir, Atlet Malang yang Jaya di ajang SEA Games Vietnam

PERJUANGAN Nadya mendapatkan medali perunggu SEA Games 2021 mengingatkan orang pada kata-kata yang pernah diucapkan tokoh revolusioner Indonesia Tan Malaka. Terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk. Atlet kelahiran 1994 itu harus menunggu bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai hampir pada titik menyerah.

Malah, untuk bisa mencapai panggung kejuaraan level Asia Tenggara itu, dia sempat berganti lima cabang olah raga (cabor). Mulai dari pencak silat, wushu, muay thai, tinju, sampai berakhir di kick boxing. ”Saya itu orangnya ngeyel. Terus berusaha mencari jalan mewujudkan cita-cita,” kata dara berusia 28 tahun tersebut kepada wartawan koran ini kemarin. Selama ”pengembaraan” di beberapa cabor, Nadya merasa dunia tinju banyak memberikan pengalaman. Terutama merasakan atmosfer bertanding di luar negeri. Misalnya pada 2021 saat tampil di Australia melawan petinju wanita dari negeri tersebut

Dikatakan, perunggu yang didapatkan Nadya Nakhoir dari cabang olahraga kick boxing putri kelas 48 kg women’s full contact itu menyimpan banyak makna. Selain medali pertama untuk Indonesia, juga merupakan buah dari ketekunan tidak pernah menyerah. Nadya memang tidak mudah mencapai titik itu, banyak rintangan harus dilewatinya.

”Tapi saat tampil di partaipartai tambahan, hasilnya imbang,” kenang Alumnus Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang itu. Kesempatan tampil di cabor kick boxing SEA Games Vietnam bermula pada awal 2022. Ketika itu, Nadya masuk tim Pelatnas dan lolos dalam seleksi tingkat nasional. Dia menyisihkan puluhan atlet kick boxing dari berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari Medan sampai Makassar.

Selama seleksi, Nadya tidak hanya melawan atlet kick boxing yang tangguh. Namun usianya masih muda-muda. Semangat dan tenaga masih sangat besar. ”Mungkin karena saya punya pengalaman, akhirnya bisa menang selama proses tersebut,” terang dia. Bagi Nadya, keberhasilan masuk Pelatnas tahun ini merupakan pengalaman kedua. Dia pernah tergabung dalam pelatnas Wushu pada 2019 menjelang event SEA Games Filipina. Sayang, atlet dengan tinggi badan 153 cm itu gagal lolos pada seleksi tahap terakhir sebelum pemberangkatan.

Baca Juga:  Mereka yang Tetap Berpuasa di Tengah Pengobatan Panjang (4)

Setelah berhasil masuk tim Pelatnas Kick Boxing 2022, Nadya juga merasakan beberapa kendala. Perempuan yang tinggal di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu terpapar Covid-19 pada masa persiapan. Dia harus berlatih sembari menjalani karantina di Wisma Atlet Jakarta. Termasuk mencukupi kebutuhan hidup dengan uang pribadi. Namun dari semua itu, yang menurutnya paling berat selama masa persiapan adalah pengumuman bahwa hanya 8 atlet yang berangkat ke Vietnam. ”Saat itu ada 12 atlet yang bersiap. Jadi empat di antara kami harus pulang,” kata atlet berbobot 48 kilogram itu.

Kondisi itu memaksa Nadya berlatih ekstra keras karena siapa yang akan berangkat ditentukan dari penilaian performa selama di pelatnas. Hari-hari selanjutnya tidak hanya menguras kekuatan fisik dan mental. Nadya harus rela lebih sering bonyok terkena pukulan atau tendangan. Semakin berat tatkala harus menjalani sparing melawan atlet-atlet kelas di atasnya. Mulai dari melawan atlet kelas 52 kilogram, 56 kilogram, sampai 57 kilogram.

Pada sebuah momen, hidungnya pernah terkena pukulan keras. Darah pun mengucur, membasahi ring tempat berlatih. Nadya juga harus merasakan berlatih dengan berpindah-pindah tempat. Mulai dari melakukan pemusatan latihan di Sukabumi bahkan sampai ke Bali. Karena perjalanan berat itulah, perasaan Nadya campur aduk saat berhasil mendapatkan medali perunggu SEA Games. Di satu sisi sulit percaya, di sisi lain senang bukan kepalang. ”Bahagia karena pertama ikut SEA Games langsung dapat medali,” ujarnya.

Baca Juga:  Pengalaman Mahasiswa Asing Menjalani Ramadan di Indonesia (8)

Bagi Nadya, medali perunggu SEA Games adalah pembuktian kepada banyak orang. Sebab, banyak orang memandang sebelah mata sejak dia menekuni dunia olah raga yang berhubungan bela diri. Bahkan saat duduk di bangku SMP sudah ada yang meledek Nadya tidak akan berhasil karena bukan keturunan atlet. Begitu juga saat duduk di bangku kuliah. Karier Nadya diprediksi habis lantaran mengalami patah tulang lengan. ”Semua selalu bilang yang saya lakukan itu akan sia-sia,” paparnya. Beruntung Nadya malah bisa menjadikan semua itu sebagai pembakar semangat.

Selama di Vietnam, Nadya mengaku mendapatkan sebuah keberuntungan. Salah satunya adalah tidak melewati babak penyisihan karena lawannya mengundurkan. Dia langsung tampil di babak semifinal melawan atlet kick boxing Nguyen Thi Hang Nga. Menghadapi peraih emas kick boxing kelas women’s full contact Filipina 2019, dia kalah telak 3-0. Namun dia berhak atas medali perunggu. Nadya berharap medali perunggu itu bukan akhir dari kiprahnya di kejuaraan lintas negara. Alumnus MAN 1 Malang itu ingin bisa berpartisipasi di SEA Games 2023 yang akan digelar di Laos mendatang.

Di luar masalah karier, Nadya mengaku sangat bersyukur menekuni dunia olahraga sejak di bangku MTs Negeri 2 Malang. Awalnya memang hanya bertujuan punya bekal dalam menjaga diri. Ternyata manfaatnya jauh lebih banyak. Salah satunya, dia bisa masuk kuliah lewat jalur prestasi. Lalu selama di MAN 1 Malang sampai Universitas Negeri Malang tidak pernah membayar. Bahkan saat ini Nadya bisa mendapat penghasilan dengan memberikan latihan kick boxing atau muay thai secara privat. Dia membuka kelas seperti itu untuk mendapatkan penghasilan di saat kejuaraan tengah kosong. (lih/fat)

PERJUANGAN Nadya mendapatkan medali perunggu SEA Games 2021 mengingatkan orang pada kata-kata yang pernah diucapkan tokoh revolusioner Indonesia Tan Malaka. Terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk. Atlet kelahiran 1994 itu harus menunggu bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai hampir pada titik menyerah.

Malah, untuk bisa mencapai panggung kejuaraan level Asia Tenggara itu, dia sempat berganti lima cabang olah raga (cabor). Mulai dari pencak silat, wushu, muay thai, tinju, sampai berakhir di kick boxing. ”Saya itu orangnya ngeyel. Terus berusaha mencari jalan mewujudkan cita-cita,” kata dara berusia 28 tahun tersebut kepada wartawan koran ini kemarin. Selama ”pengembaraan” di beberapa cabor, Nadya merasa dunia tinju banyak memberikan pengalaman. Terutama merasakan atmosfer bertanding di luar negeri. Misalnya pada 2021 saat tampil di Australia melawan petinju wanita dari negeri tersebut

Dikatakan, perunggu yang didapatkan Nadya Nakhoir dari cabang olahraga kick boxing putri kelas 48 kg women’s full contact itu menyimpan banyak makna. Selain medali pertama untuk Indonesia, juga merupakan buah dari ketekunan tidak pernah menyerah. Nadya memang tidak mudah mencapai titik itu, banyak rintangan harus dilewatinya.

”Tapi saat tampil di partaipartai tambahan, hasilnya imbang,” kenang Alumnus Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang itu. Kesempatan tampil di cabor kick boxing SEA Games Vietnam bermula pada awal 2022. Ketika itu, Nadya masuk tim Pelatnas dan lolos dalam seleksi tingkat nasional. Dia menyisihkan puluhan atlet kick boxing dari berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari Medan sampai Makassar.

Selama seleksi, Nadya tidak hanya melawan atlet kick boxing yang tangguh. Namun usianya masih muda-muda. Semangat dan tenaga masih sangat besar. ”Mungkin karena saya punya pengalaman, akhirnya bisa menang selama proses tersebut,” terang dia. Bagi Nadya, keberhasilan masuk Pelatnas tahun ini merupakan pengalaman kedua. Dia pernah tergabung dalam pelatnas Wushu pada 2019 menjelang event SEA Games Filipina. Sayang, atlet dengan tinggi badan 153 cm itu gagal lolos pada seleksi tahap terakhir sebelum pemberangkatan.

Baca Juga:  Sindy Amani, Penulis Lagu dan Penyanyi Muda dari Kota Malang

Setelah berhasil masuk tim Pelatnas Kick Boxing 2022, Nadya juga merasakan beberapa kendala. Perempuan yang tinggal di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu terpapar Covid-19 pada masa persiapan. Dia harus berlatih sembari menjalani karantina di Wisma Atlet Jakarta. Termasuk mencukupi kebutuhan hidup dengan uang pribadi. Namun dari semua itu, yang menurutnya paling berat selama masa persiapan adalah pengumuman bahwa hanya 8 atlet yang berangkat ke Vietnam. ”Saat itu ada 12 atlet yang bersiap. Jadi empat di antara kami harus pulang,” kata atlet berbobot 48 kilogram itu.

Kondisi itu memaksa Nadya berlatih ekstra keras karena siapa yang akan berangkat ditentukan dari penilaian performa selama di pelatnas. Hari-hari selanjutnya tidak hanya menguras kekuatan fisik dan mental. Nadya harus rela lebih sering bonyok terkena pukulan atau tendangan. Semakin berat tatkala harus menjalani sparing melawan atlet-atlet kelas di atasnya. Mulai dari melawan atlet kelas 52 kilogram, 56 kilogram, sampai 57 kilogram.

Pada sebuah momen, hidungnya pernah terkena pukulan keras. Darah pun mengucur, membasahi ring tempat berlatih. Nadya juga harus merasakan berlatih dengan berpindah-pindah tempat. Mulai dari melakukan pemusatan latihan di Sukabumi bahkan sampai ke Bali. Karena perjalanan berat itulah, perasaan Nadya campur aduk saat berhasil mendapatkan medali perunggu SEA Games. Di satu sisi sulit percaya, di sisi lain senang bukan kepalang. ”Bahagia karena pertama ikut SEA Games langsung dapat medali,” ujarnya.

Baca Juga:  Dua Mahasiswa Unmer Meninggal Kecelakaan di Dau

Bagi Nadya, medali perunggu SEA Games adalah pembuktian kepada banyak orang. Sebab, banyak orang memandang sebelah mata sejak dia menekuni dunia olah raga yang berhubungan bela diri. Bahkan saat duduk di bangku SMP sudah ada yang meledek Nadya tidak akan berhasil karena bukan keturunan atlet. Begitu juga saat duduk di bangku kuliah. Karier Nadya diprediksi habis lantaran mengalami patah tulang lengan. ”Semua selalu bilang yang saya lakukan itu akan sia-sia,” paparnya. Beruntung Nadya malah bisa menjadikan semua itu sebagai pembakar semangat.

Selama di Vietnam, Nadya mengaku mendapatkan sebuah keberuntungan. Salah satunya adalah tidak melewati babak penyisihan karena lawannya mengundurkan. Dia langsung tampil di babak semifinal melawan atlet kick boxing Nguyen Thi Hang Nga. Menghadapi peraih emas kick boxing kelas women’s full contact Filipina 2019, dia kalah telak 3-0. Namun dia berhak atas medali perunggu. Nadya berharap medali perunggu itu bukan akhir dari kiprahnya di kejuaraan lintas negara. Alumnus MAN 1 Malang itu ingin bisa berpartisipasi di SEA Games 2023 yang akan digelar di Laos mendatang.

Di luar masalah karier, Nadya mengaku sangat bersyukur menekuni dunia olahraga sejak di bangku MTs Negeri 2 Malang. Awalnya memang hanya bertujuan punya bekal dalam menjaga diri. Ternyata manfaatnya jauh lebih banyak. Salah satunya, dia bisa masuk kuliah lewat jalur prestasi. Lalu selama di MAN 1 Malang sampai Universitas Negeri Malang tidak pernah membayar. Bahkan saat ini Nadya bisa mendapat penghasilan dengan memberikan latihan kick boxing atau muay thai secara privat. Dia membuka kelas seperti itu untuk mendapatkan penghasilan di saat kejuaraan tengah kosong. (lih/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/