25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Candra Marimar, Anak Petani yang Meraih Medali Perak SEA Games 2023

Terlahir dari keluarga petani yang tidak mengerti seluk-beluk atlet, Candra Marimar menjadi juara gulat Asia Tenggara. Uang pembinaan yang diterima setiap usai memenangkan pertandingan selalu disisihkan untuk orang tuanya, dan sebagian lagi untuk biaya pendidikannya.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

PERAWAKAN Candra Marimar tak terlalu meyakinkan sebagai atlet gulat. Badannya kurus, lebih kurus dibanding atlet gulat pada umumnya. Tapi di balik penampilannya yang tidak biasa itu, ada prestasi yang diraih.

Di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, Mei lalu, dia membawa pulang medali perak untuk cabang olahraga (cabor) gulat putri 55 kilogram. Gadis berusia 22 tahun itu mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia Tenggara.

Sebelumnya, anak seorang petani itu tidak menyangka bisa menjadi atlet gulat berprestasi. Dari silsilah keluarga, tidak ada yang berprofesi menjadi atlet, apalagi menyumbang medali untuk negara. ”Ibu saya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Kadang juga membantu Bapak di sawah,” tutur perempuan yang kini mengenyam pendidikan S1 di Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Terlahir dari keluarga petani yang sederhana, Candra kecil tidak punya cita-cita menjadi pegulat, apalagi sampai tanding di ajang SEA Games. Keikutsertaannya di olahraga gulat berawal dari ikut-ikutan saja.

Ketika di bangku SMP, beberapa temannya masuk ekstrakurikuler gulat. Kala itu, Candra langsung mengiyakan saja ketika diajak temannya bergabung di ekstrakurikuler gulat. Dia bersedia masuk dunia gulat karena ingin bertanding dan mendapatkan upah. Nantinya uang tersebut akan diberikan kepada orang tuanya. ”Harapannya waktu itu, dengan gulat saya bisa dapat uang,” kata dara kelahiran 13 Maret 2001 itu.

Baca Juga:  Cosplay asal Malang Tembus Pasar Hongkong hingga Amerika

Meski motivasi awalnya karena uang, lama kelamaan cintanya terhadap olahraga gulat tumbuh. Itu setelah Candra Namun dipercaya maju dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Lamongan. Anak kedua dari empat bersaudara itu berhasil menjatuhkan lawannya, sehingga menyabet juara satu. Dari situlah mulai tumbuh benih-benih cinta pada gulat.

Prestasinya terus meningkat hingga skala nasional. Di ajang pekan olahraga nasional (PON) 2021 di Papua, dia meraih medali emas. Kemudian dipercaya mewakili Indonesia di ajang SEA Games 2023 di Kamboja.

Kini, impiannya mendapatkan uang itu pun kesampaian. Uang pembinaan yang diterima setiap memenangkan pertandingan selalu dia sisihkan. Sebagian lagi diberikan ke orang tuanya. Dari olahraga gulat pula, dia bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. ”Bisa kuliah merupakan karunia besar dari Tuhan,” katanya. Maklum, kedua orang tuanya hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Baca Juga:  Startup Dominasi Pengguna Coworking Space Gajayana

Tak ada yang mengarahkan Candra menekuni olahraga tersebut. Semua mengalir. Namun ketika mulai mengoleksi prestasi, dukungan mulai mengalir kepadanya. “Orang tua dan keluarga juga support penuh,” ucapnya.

Ada kunci yang selalu dipegang Candra dalam setiap pertandingan, yakni sabar. Sebab jika dia emosi, konsentrasinya pecah. Kekuatannya juga berkurang. Itu rahasia dia bisa menumbangkan lawan-lawannya yang memiliki tubuh lebih berotot. “Mungkin kelebihan saya dari pegulat lain adalah sabar,” tuturnya sambil tersenyum.

Perjalanan Candra menuju atlet SEA Games tidak mulus. Dia pernah merasakan pahit getirnya cibiran dan cemoohan orang-orang yang tidak menyukainya. Selain terjun di olahraga yang tidak lazim bagi perempuan pada umumnya, dia juga kerap dicibir lantaran berhijab.

Meski begitu, dia tidak pernah melepaskan hijabnya. Dia hanya ingin menjawab cibiran dengan prestasi. Melalui prestasi, dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. ”Selama ini yang bekerja keras dan berdoa untuk saya ya mereka (kedua orang tua),” ucapnya. ”Medali saya itu saya persembahkan untuk orang tua saya,” tambahnya.

Ke depan, Candra akan lebih mempersiapkan diri untuk prestasi yang lebih gemilang lagi. ”Setidaknya saya bisa membuktikan bahwa saya bisa berprestasi. Saya yang dikucilkan. Saya yang sering dirusak mentalnya,” tutupnya. (*/dan)

Terlahir dari keluarga petani yang tidak mengerti seluk-beluk atlet, Candra Marimar menjadi juara gulat Asia Tenggara. Uang pembinaan yang diterima setiap usai memenangkan pertandingan selalu disisihkan untuk orang tuanya, dan sebagian lagi untuk biaya pendidikannya.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

PERAWAKAN Candra Marimar tak terlalu meyakinkan sebagai atlet gulat. Badannya kurus, lebih kurus dibanding atlet gulat pada umumnya. Tapi di balik penampilannya yang tidak biasa itu, ada prestasi yang diraih.

Di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, Mei lalu, dia membawa pulang medali perak untuk cabang olahraga (cabor) gulat putri 55 kilogram. Gadis berusia 22 tahun itu mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia Tenggara.

Sebelumnya, anak seorang petani itu tidak menyangka bisa menjadi atlet gulat berprestasi. Dari silsilah keluarga, tidak ada yang berprofesi menjadi atlet, apalagi menyumbang medali untuk negara. ”Ibu saya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Kadang juga membantu Bapak di sawah,” tutur perempuan yang kini mengenyam pendidikan S1 di Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Terlahir dari keluarga petani yang sederhana, Candra kecil tidak punya cita-cita menjadi pegulat, apalagi sampai tanding di ajang SEA Games. Keikutsertaannya di olahraga gulat berawal dari ikut-ikutan saja.

Ketika di bangku SMP, beberapa temannya masuk ekstrakurikuler gulat. Kala itu, Candra langsung mengiyakan saja ketika diajak temannya bergabung di ekstrakurikuler gulat. Dia bersedia masuk dunia gulat karena ingin bertanding dan mendapatkan upah. Nantinya uang tersebut akan diberikan kepada orang tuanya. ”Harapannya waktu itu, dengan gulat saya bisa dapat uang,” kata dara kelahiran 13 Maret 2001 itu.

Baca Juga:  Libur Imlek, Volume Kendaraan Naik 13 Persen

Meski motivasi awalnya karena uang, lama kelamaan cintanya terhadap olahraga gulat tumbuh. Itu setelah Candra Namun dipercaya maju dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Lamongan. Anak kedua dari empat bersaudara itu berhasil menjatuhkan lawannya, sehingga menyabet juara satu. Dari situlah mulai tumbuh benih-benih cinta pada gulat.

Prestasinya terus meningkat hingga skala nasional. Di ajang pekan olahraga nasional (PON) 2021 di Papua, dia meraih medali emas. Kemudian dipercaya mewakili Indonesia di ajang SEA Games 2023 di Kamboja.

Kini, impiannya mendapatkan uang itu pun kesampaian. Uang pembinaan yang diterima setiap memenangkan pertandingan selalu dia sisihkan. Sebagian lagi diberikan ke orang tuanya. Dari olahraga gulat pula, dia bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. ”Bisa kuliah merupakan karunia besar dari Tuhan,” katanya. Maklum, kedua orang tuanya hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Baca Juga:  48 Ribu Pemudik Balik ke Malang Pakai Angkutan Umum

Tak ada yang mengarahkan Candra menekuni olahraga tersebut. Semua mengalir. Namun ketika mulai mengoleksi prestasi, dukungan mulai mengalir kepadanya. “Orang tua dan keluarga juga support penuh,” ucapnya.

Ada kunci yang selalu dipegang Candra dalam setiap pertandingan, yakni sabar. Sebab jika dia emosi, konsentrasinya pecah. Kekuatannya juga berkurang. Itu rahasia dia bisa menumbangkan lawan-lawannya yang memiliki tubuh lebih berotot. “Mungkin kelebihan saya dari pegulat lain adalah sabar,” tuturnya sambil tersenyum.

Perjalanan Candra menuju atlet SEA Games tidak mulus. Dia pernah merasakan pahit getirnya cibiran dan cemoohan orang-orang yang tidak menyukainya. Selain terjun di olahraga yang tidak lazim bagi perempuan pada umumnya, dia juga kerap dicibir lantaran berhijab.

Meski begitu, dia tidak pernah melepaskan hijabnya. Dia hanya ingin menjawab cibiran dengan prestasi. Melalui prestasi, dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. ”Selama ini yang bekerja keras dan berdoa untuk saya ya mereka (kedua orang tua),” ucapnya. ”Medali saya itu saya persembahkan untuk orang tua saya,” tambahnya.

Ke depan, Candra akan lebih mempersiapkan diri untuk prestasi yang lebih gemilang lagi. ”Setidaknya saya bisa membuktikan bahwa saya bisa berprestasi. Saya yang dikucilkan. Saya yang sering dirusak mentalnya,” tutupnya. (*/dan)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/