25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Kisah Nathania Zerlina Setiawan, Anak Owner Toko Emas Sekar Sari Malang Plaza

Malang Plaza ibarat rumah kedua bagi Nathania. Sejak kecil, dia sudah akrab dengan pusat perbelanjaan itu. Dia adalah generasi ketiga dari usaha Toko Emas Sekar Sari milik keluarga besarnya.

NABILA AMELIA

Nathania kembali mengikuti rapat bersama pelaku usaha yang terdampak kebakaran Malang Plaza, kemarin siang. Rapat tersebut dilakukan di Alun-Alun Malang, Jalan Merdeka Selatan. Itu sudah kedua kalinya mereka berkumpul untuk membahas kejelasan nasib pasca kebakaran.

Jadwalnya saat ini bertambah padat karena harus membantu mengurus sisa-sisa usaha toko emas milik keluarganya di Malang Plaza. Ditambah lagi, Nathania juga perlu beberapa kali berkomunikasi dengan kuasa hukumnya. Meski begitu, dia masih menyempatkan waktu untuk berbagi cerita dengan Jawa Pos Radar Malang.

Nathania masih ingat, dia dan keluarganya baru mengetahui kabar kebakaran di Malang Plaza Selasa pagi (2/5) sekitar pukul 05.00. Dia mendapat informasi dari kerabat lainnya yang mengurus Toko Emas Sekar Sari cabang Pasar Besar Malang.

Usai mendapat informasi, keluarganya segera menuju Malang Plaza. Setibanya di sana, mereka hanya bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang telah terbakar. Tidak ada ucapan yang keluar karena semua telanjur lemas. Terutama orang tua Nathania, yang merupakan generasi kedua perintis Toko Emas Sekar Sari.

Berencana Pindah Sejak 2019, Rugi hingga Rp 5 Miliar  

Meski sudah sepekan dan lebih tenang, ibunya, yakni Inggrid Puspitarini belum sepenuhnya legawa. Sebab, kerugian yang dialami keluarga mereka cukup besar. Nathania memperkirakan nilainya di angka Rp 5 miliar.

Kerugian itu meliputi seluruh toko emas mereka di lantai satu Malang Plaza. Mulai dari perhiasan atau produk lain yang masih tersimpan di etalase hingga isi brankas. Brankas tersebut memuat aneka barang. Seperti emas, perhiasan, batu mulia, uang tunai, surat berharga, dan koleksi antik orang tuanya. Dia baru bisa mengecek barang-barang itu pada 4 Mei lalu.

”Karena brankasnya sangat besar dan kuat, saat diperbolehkan masuk saya harus membawa teknisi khusus,” kata perempuan berusia 33 tahun tersebut. Brankas milik mereka memang berukuran besar. Tingginya tiga meter. Beratnya sekitar empat ton. Selain anti maling, brankas itu juga bisa melindungi barang-barang dari kerusakan-kerusakan tertentu.

Baca Juga:  Jadi Biang Macet, Pasar Kebalen Bakal Direhab

Untuk membukanya, memang dibutuhkan teknisi khusus. Sebab ketika salah membuka, brankas itu bisa terkunci lebih dalam. Meski kemampuan brankasnya mumpuni, Nathania belum memeriksa seluruh barang yang tersisa. Dia juga tak yakin apakah seluruh barang yang tersisa itu bisa dijual kembali atau tidak.

”Satu brankas saja harganya Rp 250 juta, sementara milik kami ada dua. Jadi, bisa dibayangkan sendiri kerugiannya. Apalagi kalau kami harus memulai usaha kembali, tentu perlu membeli brankas baru,” ucap Nathania. Karena itu, dia dan keluarganya bertekad untuk menuntut tanggung jawab dari Malang Plaza pasca kebakaran.

Saat ini, dia rutin menjalin komunikasi bersama para pelaku usaha lain untuk memantau perkembangan proses hukum. Istri dari Woen Sutarja itu juga sudah menunjuk kuasa hukum, yakni Gunadi Handoko dari Kantor Hukum Law Firm Gunadi Handoko and Partners.

Lebih lanjut, keluarga Nathania berencana fokus menanti iktikad baik dari manajemen Malang Plaza. Terutama untuk menyelesaikan kepemilikan hak atas tanah dan bangunan, yang hingga kini belum mereka miliki. Padahal, sudah 38 tahun orang tuanya membeli toko di Malang Plaza. Selain itu, dia juga berharap ada ganti rugi yang diberikan manajemen mal.

Kepada koran ini, Nathania mengisahkan bahwa Malang Plaza ibarat rumah kedua baginya. Sejak lahir pada 20 Maret 1990, dia rutin diajak orang tuanya, yakni Budi Setiawan dan Inggrid Puspitarini untuk berdagang. Saking lamanya, Nathania dan keluarga sudah akrab dengan sesama pelaku usaha di sana.

Maklum, orang tua Nathania sudah berdagang emas dan perhiasan mulai bangunan dialihkan menjadi Malang Plaza sejak tahun 1985. Orang tua Nathania membeli toko langsung dari pemilik bangunan, yakni Handoko yang dikenal mereka cukup baik. Di sana lah mereka mengembangkan usaha kakek Nathania, yakni Toko Emas Sekar Sari cabang Pasar Besar, yang sudah berdiri sejak tahun 1960-an.

Baca Juga:  Ciptakan Nama Minuman Rempah dengan Filosofi Khusus

Saking akrabnya, kalau saya main keliling Malang Plaza atau kami butuh keluar sebentar, kami tidak khawatir barang hilang. Karena semua tahu barang milik Toko Emas Sekar Sari,” kenang anak kedua dari tiga bersaudara itu. Dalam kenangan Nathania, Malang Plaza dulunya adalah pusat perbelanjaan yang sangat ramai. Sebab di dalamnya ada bermacam-macam gerai.

Mulai dari restoran, toko baju, toko perhiasan, dan banyak lainnya. Namun, memasuki era 2000-an, saat ponsel mulai booming, pengelola mulai mengalihkan bangunan jadi sentra gadget. Sejak itu, perlahan usaha-usaha lama meredup dan beralih menjadi pusat gadget.

Sebenarnya, keluarga Nathania sudah pernah protes ke pemilik maupun pengelola Malang Plaza. Mereka memprotes karena Malang Plaza semakin sepi. Di sisi lain juga tidak ada upaya revitalisasi yang signifikan. Alhasil, mal itu menjadi ketinggalan zaman. Tapi respons pengelola di luar harapannya, sebab mereka pasrah karena tidak mampu menggaet investor.

Di samping kondisi yang semakin sepi, mereka juga pernah protes soal fasilitas di Malang Plaza. Seperti ventilasi dan area merokok. Terlebih area merokok. Meski sudah dipasang tanda dilarang merokok, masih ada saja yang merokok. Satpam yang bertugas pun tak berani menegur orang yang melanggar aturan.

”Ventilasi di sini kan banyak yang ditutup, sehingga semakin pengap. Mama saya sampai kena paru-paru basah pada 2012 lalu,” ungkap Nathania. Atas berbagai pertimbangan, keluarga Nathania sebenarnya hendak pindah ke pusat perbelanjaan lain. Rencana tersebut sudah tebersit sejak tahun 2019. Namun, ditunda karena kondisi ekonomi yang naik turun selama pandemi.

Karena sudah ikut terbakar, mau tidak mau mereka harus segera pindah. ”Karena di sini sudah semakin sepi juga kan. Omzet hanya dari para langganan saya. Mereka pun mengeluh malas ke Malang Plaza karena kondisinya yang demikian. Tapi masih belum tahu pindah ke mana,” tandasnya. (*/by)

Malang Plaza ibarat rumah kedua bagi Nathania. Sejak kecil, dia sudah akrab dengan pusat perbelanjaan itu. Dia adalah generasi ketiga dari usaha Toko Emas Sekar Sari milik keluarga besarnya.

NABILA AMELIA

Nathania kembali mengikuti rapat bersama pelaku usaha yang terdampak kebakaran Malang Plaza, kemarin siang. Rapat tersebut dilakukan di Alun-Alun Malang, Jalan Merdeka Selatan. Itu sudah kedua kalinya mereka berkumpul untuk membahas kejelasan nasib pasca kebakaran.

Jadwalnya saat ini bertambah padat karena harus membantu mengurus sisa-sisa usaha toko emas milik keluarganya di Malang Plaza. Ditambah lagi, Nathania juga perlu beberapa kali berkomunikasi dengan kuasa hukumnya. Meski begitu, dia masih menyempatkan waktu untuk berbagi cerita dengan Jawa Pos Radar Malang.

Nathania masih ingat, dia dan keluarganya baru mengetahui kabar kebakaran di Malang Plaza Selasa pagi (2/5) sekitar pukul 05.00. Dia mendapat informasi dari kerabat lainnya yang mengurus Toko Emas Sekar Sari cabang Pasar Besar Malang.

Usai mendapat informasi, keluarganya segera menuju Malang Plaza. Setibanya di sana, mereka hanya bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang telah terbakar. Tidak ada ucapan yang keluar karena semua telanjur lemas. Terutama orang tua Nathania, yang merupakan generasi kedua perintis Toko Emas Sekar Sari.

Berencana Pindah Sejak 2019, Rugi hingga Rp 5 Miliar  

Meski sudah sepekan dan lebih tenang, ibunya, yakni Inggrid Puspitarini belum sepenuhnya legawa. Sebab, kerugian yang dialami keluarga mereka cukup besar. Nathania memperkirakan nilainya di angka Rp 5 miliar.

Kerugian itu meliputi seluruh toko emas mereka di lantai satu Malang Plaza. Mulai dari perhiasan atau produk lain yang masih tersimpan di etalase hingga isi brankas. Brankas tersebut memuat aneka barang. Seperti emas, perhiasan, batu mulia, uang tunai, surat berharga, dan koleksi antik orang tuanya. Dia baru bisa mengecek barang-barang itu pada 4 Mei lalu.

”Karena brankasnya sangat besar dan kuat, saat diperbolehkan masuk saya harus membawa teknisi khusus,” kata perempuan berusia 33 tahun tersebut. Brankas milik mereka memang berukuran besar. Tingginya tiga meter. Beratnya sekitar empat ton. Selain anti maling, brankas itu juga bisa melindungi barang-barang dari kerusakan-kerusakan tertentu.

Baca Juga:  Di Malang, Dahlan Iskan Ingatkan Pengusaha agar Waspadai Tahun Politik

Untuk membukanya, memang dibutuhkan teknisi khusus. Sebab ketika salah membuka, brankas itu bisa terkunci lebih dalam. Meski kemampuan brankasnya mumpuni, Nathania belum memeriksa seluruh barang yang tersisa. Dia juga tak yakin apakah seluruh barang yang tersisa itu bisa dijual kembali atau tidak.

”Satu brankas saja harganya Rp 250 juta, sementara milik kami ada dua. Jadi, bisa dibayangkan sendiri kerugiannya. Apalagi kalau kami harus memulai usaha kembali, tentu perlu membeli brankas baru,” ucap Nathania. Karena itu, dia dan keluarganya bertekad untuk menuntut tanggung jawab dari Malang Plaza pasca kebakaran.

Saat ini, dia rutin menjalin komunikasi bersama para pelaku usaha lain untuk memantau perkembangan proses hukum. Istri dari Woen Sutarja itu juga sudah menunjuk kuasa hukum, yakni Gunadi Handoko dari Kantor Hukum Law Firm Gunadi Handoko and Partners.

Lebih lanjut, keluarga Nathania berencana fokus menanti iktikad baik dari manajemen Malang Plaza. Terutama untuk menyelesaikan kepemilikan hak atas tanah dan bangunan, yang hingga kini belum mereka miliki. Padahal, sudah 38 tahun orang tuanya membeli toko di Malang Plaza. Selain itu, dia juga berharap ada ganti rugi yang diberikan manajemen mal.

Kepada koran ini, Nathania mengisahkan bahwa Malang Plaza ibarat rumah kedua baginya. Sejak lahir pada 20 Maret 1990, dia rutin diajak orang tuanya, yakni Budi Setiawan dan Inggrid Puspitarini untuk berdagang. Saking lamanya, Nathania dan keluarga sudah akrab dengan sesama pelaku usaha di sana.

Maklum, orang tua Nathania sudah berdagang emas dan perhiasan mulai bangunan dialihkan menjadi Malang Plaza sejak tahun 1985. Orang tua Nathania membeli toko langsung dari pemilik bangunan, yakni Handoko yang dikenal mereka cukup baik. Di sana lah mereka mengembangkan usaha kakek Nathania, yakni Toko Emas Sekar Sari cabang Pasar Besar, yang sudah berdiri sejak tahun 1960-an.

Baca Juga:  Romo Peter Bruno Sarbini, Agen Toleransi Beragama di Keuskupan Malang

Saking akrabnya, kalau saya main keliling Malang Plaza atau kami butuh keluar sebentar, kami tidak khawatir barang hilang. Karena semua tahu barang milik Toko Emas Sekar Sari,” kenang anak kedua dari tiga bersaudara itu. Dalam kenangan Nathania, Malang Plaza dulunya adalah pusat perbelanjaan yang sangat ramai. Sebab di dalamnya ada bermacam-macam gerai.

Mulai dari restoran, toko baju, toko perhiasan, dan banyak lainnya. Namun, memasuki era 2000-an, saat ponsel mulai booming, pengelola mulai mengalihkan bangunan jadi sentra gadget. Sejak itu, perlahan usaha-usaha lama meredup dan beralih menjadi pusat gadget.

Sebenarnya, keluarga Nathania sudah pernah protes ke pemilik maupun pengelola Malang Plaza. Mereka memprotes karena Malang Plaza semakin sepi. Di sisi lain juga tidak ada upaya revitalisasi yang signifikan. Alhasil, mal itu menjadi ketinggalan zaman. Tapi respons pengelola di luar harapannya, sebab mereka pasrah karena tidak mampu menggaet investor.

Di samping kondisi yang semakin sepi, mereka juga pernah protes soal fasilitas di Malang Plaza. Seperti ventilasi dan area merokok. Terlebih area merokok. Meski sudah dipasang tanda dilarang merokok, masih ada saja yang merokok. Satpam yang bertugas pun tak berani menegur orang yang melanggar aturan.

”Ventilasi di sini kan banyak yang ditutup, sehingga semakin pengap. Mama saya sampai kena paru-paru basah pada 2012 lalu,” ungkap Nathania. Atas berbagai pertimbangan, keluarga Nathania sebenarnya hendak pindah ke pusat perbelanjaan lain. Rencana tersebut sudah tebersit sejak tahun 2019. Namun, ditunda karena kondisi ekonomi yang naik turun selama pandemi.

Karena sudah ikut terbakar, mau tidak mau mereka harus segera pindah. ”Karena di sini sudah semakin sepi juga kan. Omzet hanya dari para langganan saya. Mereka pun mengeluh malas ke Malang Plaza karena kondisinya yang demikian. Tapi masih belum tahu pindah ke mana,” tandasnya. (*/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/