25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Rika Agus, Warga Binaan Pemasyarakatan Seumur Hidup di Lapas Perempuan Sukun

Pidana seumur hidup ibarat ”kematian kecil” bagi Rika. Sepulang dari bekerja di Hongkong, dia tak pernah menyangka bakal ditangkap polisi di bandara dengan tuduhan membawa narkotika. Setelah 14 tahun menjalani pidana, Rika tetap menjaga keyakinan bahwa lapas yang dia tempati hanyalah rumah sementara.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

MATA perempuan berusia 40 tahun itu tampak menerawang saat mengawali cerita masa lalu. Pandangannya menyapu perlahan ruangan-ruangan yang dipenuhi jeruji besi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang, Senin lalu (5/6). Seolah mengingat kembali betapa lama dia sudah berada di dalamnya.

Dengan suara berat, Rika mengatakan sudah 14 tahun merasakan dinginnya lantai lembaga pemasyarakatan (lapas). Bermula saat kembali dari perantauan di Hongkong pada 1990, Rika justru tak pernah sampai menginjakkan kaki di rumah. Saat turun dari pesawat di bandara, polisi menangkap perempuan asal Kabupaten Malang itu atas tuduhan kepemilikan narkotika dalam jumlah banyak.

”Dulu saya memang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong selama delapan tahun. Bisa pulang satu tahun sekali. Asal ada uang bisa pulang karena memang tidak terikat kontrak,” kenangnya.

Rangkaian proses hukum dia jalani dengan penuh kebingungan. Sampai akhirnya, pengadilan tingkat pertama menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara. Berharap hukumannya bisa lebih ringan, Rika mencoba mengajukan upaya banding ke pengadilan tinggi. Di luar dugaan, hukumannya bertambah menjadi pidana seumur hidup.

”Itu seperti kematian kecil bagi saya. Tak tahu lagi apakah masih bisa menjalani hidup di luar penjara atau tidak,” ujar Rika kepada Jawa Pos Radar Malang sambil sesekali membetulkan posisi duduk.

Baca Juga:  Mohamad Sodikin, Relawan Tragedi Kanjuruhan yang Sempat Mengalami Trauma

Hukuman seumur hidup itu tidak pernah dia ceritakan kepada keluarganya. Waktu itu, keluarga maupun anaknya masih menganggap Rika akan menjalani hukuman selama 20 tahun. Bahkan mungkin masih bisa kurang jika mendapatkan remisi atau pemotongan masa hukuman rutin tiap tahun.

Sampai sekarang pun, ada keluarga yang menganggap bahwa hukuman Rika tersisa 6 tahun penjara saja. Selama 14 tahun penjara, sudah begitu banyak momen bersama keluarga yang dia lewatkan. Baik itu momen suka maupun duka. Misalnya, Rika tak bisa mendampingi putrinya saat menjadi salah satu lulusan terbaik di SMA-nya.

Bahkan dia tak bisa hadir saat putri satu-satunya itu menikah. Namun, yang paling berat bagi Rika adalah saat harus melepas kepergian ibunya menghadap sang Khaliq. Ibunya bahkan tak pernah tahu kalau Rika hidup di dalam penjara. ”Waktu itu ibu mengira saya masih bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Meski dijatuhi hukuman seumur hidup, Rika tetap menjaga asa bahwa lapas adalah rumah sementara saja. Dia masih berharap akan ada keajaiban yang membuatnya bisa menjalani hidup di luar penjara, kelak. Upaya meminta keringanan hukuman melalui grasi ke pemerintah dia ajukan tiap tahun, meski hingga kini belum dikabulkan.

Sembari upaya itu dilakukan, Rika juga tak mau larut dalam kesedihan setiap hari. Dia termasuk warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang tak pernah diam. Banyak kegiatan yang dia ikuti. Misalnya, keterampilan membuat rajutan, produksi roti, dan memasak. Yang pasti, Rika banyak menghabiskan waktunya di dapur lapas.

Baca Juga:  Urifah, Kolaborator Penghubung Kerja Sama Sekolah Antar-Negara

Kepiawaiannya mengutakatik resep dan bumbu masakan sebenarnya sudah dimiliki Rika sejak sebelum menjadi penghuni lapas. Bahkan sebelum menjadi TKW di Hongkong, perempuan asal Kabupaten Malang itu sempat punya usaha catering. Sayang usahanya tak
berjalan cukup baik.

Kondisi itulah yang memaksa Rika merantau ke negeri orang. Bisa dibilang, Rika pula yang mengawali adanya keterampilan bakery di lapas. Beberapa sajian untuk tamu-tamu penting pun selalu dipercayakan kepadanya. “Saya menguasai Chinese food dan masakan-masakan Jawa,” ucapnya dengan suara yang berubah menjadi semringah.

Kegiatan di dapur ibarat pelipur lara. Saat memasak, kerinduan kepada ibu dan anak semata wayangnya bisa sejenak teralihkan. Kemampuan memasaknya pun meningkat selama 14 tahun terakhir. ”Kadang setelah seharian berkegiatan dan capek, biasanya langsung istirahat atau ngobrol dengan teman. Tapi masih sering juga nangis karena kangen sama keluarga,” ucapnya.

Saat anak perempuan semata wayangnya masih sekolah, Rika kerap meminta buah hatinya itu datang berkunjung ke lapas. Tak sekadar untuk mengobati kerinduan, momen itu digunakan Rika untuk mengawasi perkembangan putrinya. ”Saya takut kalau anak saya gimana gimana di luar, karena tidak bisa mengawasi langsung. Jadi dulu saya minta ke sini setiap hari,” kisahnya.

Sekarang Rika lebih sering berkomunikasi dengan sang putri melalui telepon. Kadang juga video call melalui layanan wartel di dalam lapas. Sebab kekhawatiran pada putrinya itu tak sebesar dulu. ”Anak saya sudah punya suami. Tapi rindu saya kepadanya tak pernah berkurang sedikit pun,” pungkas Rika. (*/fat)

Pidana seumur hidup ibarat ”kematian kecil” bagi Rika. Sepulang dari bekerja di Hongkong, dia tak pernah menyangka bakal ditangkap polisi di bandara dengan tuduhan membawa narkotika. Setelah 14 tahun menjalani pidana, Rika tetap menjaga keyakinan bahwa lapas yang dia tempati hanyalah rumah sementara.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

MATA perempuan berusia 40 tahun itu tampak menerawang saat mengawali cerita masa lalu. Pandangannya menyapu perlahan ruangan-ruangan yang dipenuhi jeruji besi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang, Senin lalu (5/6). Seolah mengingat kembali betapa lama dia sudah berada di dalamnya.

Dengan suara berat, Rika mengatakan sudah 14 tahun merasakan dinginnya lantai lembaga pemasyarakatan (lapas). Bermula saat kembali dari perantauan di Hongkong pada 1990, Rika justru tak pernah sampai menginjakkan kaki di rumah. Saat turun dari pesawat di bandara, polisi menangkap perempuan asal Kabupaten Malang itu atas tuduhan kepemilikan narkotika dalam jumlah banyak.

”Dulu saya memang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong selama delapan tahun. Bisa pulang satu tahun sekali. Asal ada uang bisa pulang karena memang tidak terikat kontrak,” kenangnya.

Rangkaian proses hukum dia jalani dengan penuh kebingungan. Sampai akhirnya, pengadilan tingkat pertama menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara. Berharap hukumannya bisa lebih ringan, Rika mencoba mengajukan upaya banding ke pengadilan tinggi. Di luar dugaan, hukumannya bertambah menjadi pidana seumur hidup.

”Itu seperti kematian kecil bagi saya. Tak tahu lagi apakah masih bisa menjalani hidup di luar penjara atau tidak,” ujar Rika kepada Jawa Pos Radar Malang sambil sesekali membetulkan posisi duduk.

Baca Juga:  Dulu Ditolak Pedagang, Kini Laris di Eropa

Hukuman seumur hidup itu tidak pernah dia ceritakan kepada keluarganya. Waktu itu, keluarga maupun anaknya masih menganggap Rika akan menjalani hukuman selama 20 tahun. Bahkan mungkin masih bisa kurang jika mendapatkan remisi atau pemotongan masa hukuman rutin tiap tahun.

Sampai sekarang pun, ada keluarga yang menganggap bahwa hukuman Rika tersisa 6 tahun penjara saja. Selama 14 tahun penjara, sudah begitu banyak momen bersama keluarga yang dia lewatkan. Baik itu momen suka maupun duka. Misalnya, Rika tak bisa mendampingi putrinya saat menjadi salah satu lulusan terbaik di SMA-nya.

Bahkan dia tak bisa hadir saat putri satu-satunya itu menikah. Namun, yang paling berat bagi Rika adalah saat harus melepas kepergian ibunya menghadap sang Khaliq. Ibunya bahkan tak pernah tahu kalau Rika hidup di dalam penjara. ”Waktu itu ibu mengira saya masih bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Meski dijatuhi hukuman seumur hidup, Rika tetap menjaga asa bahwa lapas adalah rumah sementara saja. Dia masih berharap akan ada keajaiban yang membuatnya bisa menjalani hidup di luar penjara, kelak. Upaya meminta keringanan hukuman melalui grasi ke pemerintah dia ajukan tiap tahun, meski hingga kini belum dikabulkan.

Sembari upaya itu dilakukan, Rika juga tak mau larut dalam kesedihan setiap hari. Dia termasuk warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang tak pernah diam. Banyak kegiatan yang dia ikuti. Misalnya, keterampilan membuat rajutan, produksi roti, dan memasak. Yang pasti, Rika banyak menghabiskan waktunya di dapur lapas.

Baca Juga:  Usai Tampil di TV, Undangan Dakwah Full sampai September

Kepiawaiannya mengutakatik resep dan bumbu masakan sebenarnya sudah dimiliki Rika sejak sebelum menjadi penghuni lapas. Bahkan sebelum menjadi TKW di Hongkong, perempuan asal Kabupaten Malang itu sempat punya usaha catering. Sayang usahanya tak
berjalan cukup baik.

Kondisi itulah yang memaksa Rika merantau ke negeri orang. Bisa dibilang, Rika pula yang mengawali adanya keterampilan bakery di lapas. Beberapa sajian untuk tamu-tamu penting pun selalu dipercayakan kepadanya. “Saya menguasai Chinese food dan masakan-masakan Jawa,” ucapnya dengan suara yang berubah menjadi semringah.

Kegiatan di dapur ibarat pelipur lara. Saat memasak, kerinduan kepada ibu dan anak semata wayangnya bisa sejenak teralihkan. Kemampuan memasaknya pun meningkat selama 14 tahun terakhir. ”Kadang setelah seharian berkegiatan dan capek, biasanya langsung istirahat atau ngobrol dengan teman. Tapi masih sering juga nangis karena kangen sama keluarga,” ucapnya.

Saat anak perempuan semata wayangnya masih sekolah, Rika kerap meminta buah hatinya itu datang berkunjung ke lapas. Tak sekadar untuk mengobati kerinduan, momen itu digunakan Rika untuk mengawasi perkembangan putrinya. ”Saya takut kalau anak saya gimana gimana di luar, karena tidak bisa mengawasi langsung. Jadi dulu saya minta ke sini setiap hari,” kisahnya.

Sekarang Rika lebih sering berkomunikasi dengan sang putri melalui telepon. Kadang juga video call melalui layanan wartel di dalam lapas. Sebab kekhawatiran pada putrinya itu tak sebesar dulu. ”Anak saya sudah punya suami. Tapi rindu saya kepadanya tak pernah berkurang sedikit pun,” pungkas Rika. (*/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/