23.2 C
Malang
Jumat, Desember 8, 2023

Sempat Alami Culture Shock, Catatkan IPK Sempurna

Satu semester menempuh pendidikan di Michigan State University, Shafira Rafa Ardhani membawa nama baik Indonesia. Selain aktif memperkenalkan budaya, dia juga bisa mengakhiri perkuliahan di sana dengan IPK sempurna.

SHAFIRA Rafa Ardhani merupakan satu dari ribuan mahasiswa dari Indonesia yang mengikuti program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) tahun 2022 lalu. Dia juga termasuk dari sedikit mahasiswa yang sukses meraih prestasi akademik di luar negeri.

Perempuan kelahiran Kota Malang itu berhasil meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) sempurna, yakni 4, saat berkuliah di Michigan State University, Amerika Serikat.

Ya, Rafa, sapaan akrabnya tak pernah menyangka dirinya akan mendapat IPK sempurna. Perempuan yang kini menempuh semester enam Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (Filkom UB) itu mengaku sempat mengalami culture shock saat berkuliah di Michigan State University.

Rafa pernah celingukan di kelas sendirian akibat tak membaca silabus perkuliahan. Di Amerika Serikat perkuliahan dilakukan secara tertib sesuai silabus yang ada.

Sehingga, mahasiswa harus rajin membaca silabus itu untuk mengetahui materi dan sistem perkuliahan. ”Jadi saat saya nggak baca silabus itu, ternyata perkuliahan dilakukan secara daring,” ungkapnya tersipu.

Baca Juga:  Kursi Ijen Dicopot, Dewan : Sia-Siakan Anggaran

Refa pun akhirnya tak pernah absen membaca silabus setiap mengikuti perkuliahan. Tak ada ambisi khusus yang ingin dia capai.

Namun, Rafa selalu mengusahakan untuk mengikuti perkuliahan dengan baik. Salah satunya dengan membaca materi sebelum perkuliahan dan banyak bertanya.

”Sebenarnya itu yang saya lakukan. Barangkali dari situlah ada poin plus untuk saya,” imbuhnya. Kesempatan untuk mengambil perkuliahan selama satu semester di Amerika Serikat adalah mimpinya yang terwujud.

Karena itu, pada saat pendaftaran, Michigan State University menjadi pilihan pertamanya. Namun, sebenarnya ada dua kampus yang bisa dipilih.

Rafa pun tak melewatkan kesempatan itu. Selain Michigan State University, dia juga mendaftar di University of Liverpool, Inggris.

”Namun, Michigan State University menjadi pilihan pertama dan akhirnya diterima,” kata dia bangga.

Dalam satu semester, Rafa hanya mengambil maksimal empat mata kuliah. Di Indonesia, mahasiswa bisa mengambil 8 sampai 9 mata kuliah dalam satu semester.

Meski lebih sedikit, beban kuliahnya sama beratnya. Rafa setiap harinya harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan non akademik.

Baca Juga:  Pernah Jadi Korban Bencana, Termotivasi Bantu Sesama

Sebab, program IISMA juga banyak melibatkan mahasiswa Indonesia untuk beberapa even internasional. Ada dua kegiatan non akademik yang dilakukan Rafa.

Yakni yang dilakukan secara individu dan secara kelompok. Secara individu, Rafa harus aktif dalam penulisan artikel, IISMA Course Seriess, dan Good Day from Indonesia.

Sementara, untuk kegiatan yang berkelompok, Rafa mengikuti batik challenge. ”Itu kami harus interaksi dengan mahasiswa di sana,” terangnya.

Dia juga ambil bagian dalam program HEROES (Humanity, Diversity, Culture, Beyond Boundaries) challenge. Kegiatan itu berfungsi sebagai ruang untuk merangkul perbedaan antar-bangsa melalui nilai-nilai budaya dan kemanusiaan.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, Rafa menyadari kekayaan budaya Indonesia yang ada. Dia pun makin tertarik untuk mempelajari lebih banyak budaya Indonesia.

Bagi dia, setiap orang Indonesia yang berada di luar negeri adalah duta bagi tanah air. Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya, Rafa menyebut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mendaftar program IISMA. Salah satunya yakni pemilihan mata kuliah di universitas tujuan. (dre/by)

Satu semester menempuh pendidikan di Michigan State University, Shafira Rafa Ardhani membawa nama baik Indonesia. Selain aktif memperkenalkan budaya, dia juga bisa mengakhiri perkuliahan di sana dengan IPK sempurna.

SHAFIRA Rafa Ardhani merupakan satu dari ribuan mahasiswa dari Indonesia yang mengikuti program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) tahun 2022 lalu. Dia juga termasuk dari sedikit mahasiswa yang sukses meraih prestasi akademik di luar negeri.

Perempuan kelahiran Kota Malang itu berhasil meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) sempurna, yakni 4, saat berkuliah di Michigan State University, Amerika Serikat.

Ya, Rafa, sapaan akrabnya tak pernah menyangka dirinya akan mendapat IPK sempurna. Perempuan yang kini menempuh semester enam Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (Filkom UB) itu mengaku sempat mengalami culture shock saat berkuliah di Michigan State University.

Rafa pernah celingukan di kelas sendirian akibat tak membaca silabus perkuliahan. Di Amerika Serikat perkuliahan dilakukan secara tertib sesuai silabus yang ada.

Sehingga, mahasiswa harus rajin membaca silabus itu untuk mengetahui materi dan sistem perkuliahan. ”Jadi saat saya nggak baca silabus itu, ternyata perkuliahan dilakukan secara daring,” ungkapnya tersipu.

Baca Juga:  Raihan Hisyam Atha Rifqi, Pelajar SD Sabet Penghargaan Dalang Tingkat Jatim

Refa pun akhirnya tak pernah absen membaca silabus setiap mengikuti perkuliahan. Tak ada ambisi khusus yang ingin dia capai.

Namun, Rafa selalu mengusahakan untuk mengikuti perkuliahan dengan baik. Salah satunya dengan membaca materi sebelum perkuliahan dan banyak bertanya.

”Sebenarnya itu yang saya lakukan. Barangkali dari situlah ada poin plus untuk saya,” imbuhnya. Kesempatan untuk mengambil perkuliahan selama satu semester di Amerika Serikat adalah mimpinya yang terwujud.

Karena itu, pada saat pendaftaran, Michigan State University menjadi pilihan pertamanya. Namun, sebenarnya ada dua kampus yang bisa dipilih.

Rafa pun tak melewatkan kesempatan itu. Selain Michigan State University, dia juga mendaftar di University of Liverpool, Inggris.

”Namun, Michigan State University menjadi pilihan pertama dan akhirnya diterima,” kata dia bangga.

Dalam satu semester, Rafa hanya mengambil maksimal empat mata kuliah. Di Indonesia, mahasiswa bisa mengambil 8 sampai 9 mata kuliah dalam satu semester.

Meski lebih sedikit, beban kuliahnya sama beratnya. Rafa setiap harinya harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan non akademik.

Baca Juga:  Mahasiswi UM Raih The Winner Duta Hijab

Sebab, program IISMA juga banyak melibatkan mahasiswa Indonesia untuk beberapa even internasional. Ada dua kegiatan non akademik yang dilakukan Rafa.

Yakni yang dilakukan secara individu dan secara kelompok. Secara individu, Rafa harus aktif dalam penulisan artikel, IISMA Course Seriess, dan Good Day from Indonesia.

Sementara, untuk kegiatan yang berkelompok, Rafa mengikuti batik challenge. ”Itu kami harus interaksi dengan mahasiswa di sana,” terangnya.

Dia juga ambil bagian dalam program HEROES (Humanity, Diversity, Culture, Beyond Boundaries) challenge. Kegiatan itu berfungsi sebagai ruang untuk merangkul perbedaan antar-bangsa melalui nilai-nilai budaya dan kemanusiaan.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, Rafa menyadari kekayaan budaya Indonesia yang ada. Dia pun makin tertarik untuk mempelajari lebih banyak budaya Indonesia.

Bagi dia, setiap orang Indonesia yang berada di luar negeri adalah duta bagi tanah air. Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya, Rafa menyebut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mendaftar program IISMA. Salah satunya yakni pemilihan mata kuliah di universitas tujuan. (dre/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/