SMS, Kebutuhan Primer Rumah Tangga

Dalam kehidupan sebuah rumah tangga, pada umumnya suami-lah yang bekerja mencari nafkah. Tapi, dalam memberikan nafkah, si suami tidak boleh asal dalam memberikan uang belanja kepada istrinya. Namun, jika terlalu pelit kepada istri, nasibnya akan seperti Markucel, 30, warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang, ini.

Dalam kehidupan sebuah rumah tangga, pada umumnya suami-lah yang bekerja mencari nafkah. Tapi, dalam memberikan nafkah, si suami tidak boleh asal dalam memberikan uang belanja kepada istrinya. Namun, jika terlalu pelit kepada istri, nasibnya akan seperti Markucel, 30, warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang, ini.

Mulanya, rumah tangga Markucel yang dibina bersama Markonah, 29, warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang, itu baik-baik saja. Keduanya tampak happy-happy saja. Bahkan, kebahagiaan yang dirasakan pasangan ini sempat membuat tetangganya iri.

Bahkan, keseharian Markucel dipenuhi dengan Lotre (lembutnya obrolan tentang ranjang enak). Sampai-sampai Markucel dijuluki SBY (selalu bahagia ya) oleh tetangganya.

Perlahan-lahan, kebahagiaan rumah tangga itu sirna seiring sikap Markucel yang tidak memperhatikan kebutuhan Markonah. Karena terpengaruh gaya hidup teman-temannya yang suka bermewah-mewahan, Markucel terlalu asyik dengan dunia otomotif.

Dalam kurun waktu dua tahun, Markucel sudah tiga kali ganti mobil. Sementara Markonah hanya dibelikan motor. Ke mana-mana, Markonah hanya mengendarai motor yang dia anggap tidak terlalu bagus. Sementara Markucel bak eksekutif muda yang selalu mengendarai mobil wah.

Begitu juga dengan handphone-nya, Markucel memiliki HP canggih. Sementara Markonah hanya dibekali HP butut lungsuran dari Markucel. Belum lagi Markonah harus dipusingkan mengatur keuangan yang diberikan Markucel begitu pas-pasan. Padahal, tagihan listrik terus membengkak.

Lama-lama Markonah jengah dengan sikap Markucel. SMS (servis memuaskan sekali) yang sebelumnya selalu didapatkan dari Markonah, perlahan-lahan berkurang. Belum lagi Markonah mulai cerewet setiap Markucel pulang kerja.

Akhirnya kesabaran Markucel habis. Maklum, Markucel tidak ubahnya seperti lelaki lain yang membutuhkan SDSB (sentuhan depan sentuhan belakang). ”Lha aku wis kerjo, kok sek ngomel ae bendino. Lek wes ditinggal ngene iki kapok (Saya yang bekerja kok masih sering dimarahi. Kalau ditinggal seperti ini baru tahu rasa dia),” ujar Markucel saat ditemui di Pengadilan Agama (PA) Kota Malang beberapa waktu lalu.

Pewarta : Fajrus Shiddiq
Penyunting : Mahmudan
Copy Editor : Dwi Lindawati