MALANG – Eskavasi lanjutan di Situs Sekaran oleh tim Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta (Balar DIY) mendapatkan sejumlah data menarik. Dari hasil penggalian yang dimulai sejak 10 April hingga kemarin (15/4), mereka merekomendasikan agar situs tersebut dijadikan museum outdoor. Karena dari temuan yang ada, tempat tersebut sangat layak untuk referensi tentang sejarah Malang di masa lalu.

”Situs Sekaran ini sangat seksi sekali. Siapa pun ingin masuk ke sana. Melakukan kajian, penelitian, dan lain sebagainya,” ungkap Ketua Tim Penelitian Penjajagan Situs Sekaran Balar DIY Herry Priswanto Senin (15/4) kemarin. Lantaran, bangunan dengan struktur batu bata sangat jarang ditemukan di Malang yang kebanyakan bangunan bersejarahnya menggunakan batu andesit.

Dengan menjadikan Situs Sekaran museum outdoor, siapa pun bisa menjadikan tempat tersebut sebagai objek penelitian. ”Meski untuk melakukan penelitian nantinya, tetap harus ada izin dari pemerintah desa. Karena, mereka garda terdepan dalam pengamanan situs itu,” ujarnya.

Selain itu, dirinya juga merekomendasikan agar dalam teknisnya itu nanti ada bantuan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang. Tak hanya itu, pengamanan juga harus dibantu dari pihak PT Jasa Marga Pandaan Malang. ”Disparbud dengan BPCB Jatim menyusun program pengembangan. Sedangkan, Jasa Marga membuat bangunan peneduh untuk mencegah kerusakan struktur bata yang telah terekspos,” ungkapnya.

Dari hasil penelitian lanjutan yang dilakukan, Situs Sekaran diyakini sebagai bangunan kuno yang disucikan masyarakat waktu itu. Namun kondisinya kini hanya menyisakan 4–5 lapis bata saja yang diduga dugaan bangunan gapura, batur, atau fondasi dan pagar. ”Sementara untuk dimensi bata yang kita temukan beragam. Ada yang berukuran panjang 30–36 cm, lebar 19–20 cm, dan tebal 6–8 cm,” ucapnya.

Dia menambahkan, mengacu pada struktur bata yang telah terekspos, pihaknya menyimpulkan situs tersebut merupakan bangunan suci yang mempunyai karakter bangunan berteras. Di mana, lokasi Situs Sekaran merupakan lokasi teras tertinggi atau teras utama. ”Bangunan zaman dahulu kan memang seperti itu. Jadi, Situs Sekaran dimungkinkan adalah bangunan berundak,” tuturnya.

Masih menurut Herry, keberadaan Situs Sekaran tidak bisa dipisahkan dengan beberapa tempat di sekitarnya. Misalnya Sungai Amprong yang merupakan landscape arkeologi yang mempengaruhi masyarakat untuk menentukan lokasi hunian masa lampau. ”Sungai kan biasanya identik dengan sumber kehidupan dan sarana transportasi zaman dahulu. Apalagi, Sungai Amprong ini menjadi bagian dari Sungai Brantas yang tidak kecil peranannya dengan situs-situs yang ada saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Herry membeber sejarah Situs Sekaran yang bisa dibagi menjadi empat fase. Fase pertama, Situs Sekaran digunakan dan dimanfaatkan masyarakat pendukung budaya di masa lalu. Sementara fase kedua, situs tersebut ditinggalkan atau tidak digunakan lagi. Pada fase ketiga, situs tersebut mengalami pengrusakan secara masif, mulai dari akibat pencarian benda-benda kuno, pembuatan semen merah hingga pengolahan lahan mulai tahun 50-an. ”Nah, fase yang keempat ini saat ditemukan kembali atau saat adanya proyek tol itu. Dan masyarakat baru menyadari jika situs sekaran ini merupakan cagar budaya,” imbuhnya.

Dari hasil itu, Herry pun menyimpulkan sementara jika Situs Sekaran ini merupakan cagar budaya berupa struktur cagar budaya yang harus dilestarikan. Dan hal itu menurut dia sudah tercantum dalam Undang-Undang Cagar Budaya No.11 Tahun 2010 pasal 1. ”Perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau kebudayaan. Namun, semua itu melalui proses penetapan,” celetuknya.

Namun, dalam penanggalan Situs Sekaran itu pihaknya mengalami kesulitan. Hal itu karena lokasi Situs Sekaran sudah rusak. Sehingga, butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengungkap secara pasti penanggalannya. ”Makanya, kami juga sudah merekomendasikan kepada pemerintah desa agar siapa pun yang mau meneliti untuk tidak memakai alas atau merokok di lokasi. Karena adanya dua hal itu bisa mengganggu,” celetuknya.

Adanya rekomendasi itu pun disambut baik Disparbud Kabupaten Malang. Di mana, untuk ke depannya memang arah keberadaan Situs Sekaran itu sendiri akan dijadikan museum outdoor. ”Kita kan sudah punya museum indoor, museum Singosari itu kan. Situs Sekaran itu nantinya akan kita coba jadikan museum outdoor,” ujar Kepala Seksi Museum, Sejarah, dan Cagar Budaya Disparbud Kabupaten Malang Anwar Supriyadi.

Dalam teknisnya, akan ada dua tempat yang bisa dikunjungi. Di samping Situs Sekaran itu sendiri, juga ada tempat pameran hasil barang temuan warga. ”Pengunjung atau siapa pun yang ingin tahu maupun meneliti tidak bingung. Situsnya ada, hasil temuannya pun juga ada,” ungkapnya.

Pewarta               : M.Badar Risqullah
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Laoh Mahfud