Siswa SMA Don Bosco Raih Nilai Tertinggi UN Jurusan IPS

Siswa SMA Don Bosco Raih Nilai Tertinggi UN Jurusan IPS

Jessica Taufik, Siswa SMA Don Bosco Padang peraih nilai UNBK IPS tertinggi Se-Sumbar.
(Ryan Darmawan/Padang Ekspres/Jawa Pos Group)

Selama ini tantangan yang berat saat menghadapi ujian nasional (UN) selalu saja dianggap dengan mata pelajaran di jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Semua itu tidak terlepas dari hitung-hitungan dan berbagai macam rumus. Ternyata UN di kelas ilmu pengetahuan sosial (IPS) tidak kalah berat tantangannya.

Intan Suryani, Padang

Jessica Taufik, siswa kelas XII SMA Don Bosco Padang, membuktikan hasil kerja kerasnya. Dia menyadari mendapatkan hasil terbaik di UN tidak bisa dilakukan secara instans. Harus diawali sejak dini. Makanya hobi membaca yang menjadi kebiasaan Jessica membuat tidak canggung menghadapi mata pelajaran (mapel) dengan uraian yang panjang.

“Kalau yang lain bosan dengan mata pelajaran uraian yang panjang, saya malah lebih senang dan tetap fokus,” ungkap Jessica sebagaimana dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Sabtu (5/5).



Alasan Jessica untuk belajar lebih tekun dari awal masa pendidkan karena ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus membebani kedua orang tuanya, Johny Taufik dan Erin Tjandra. Alhasil dia dapat menerima hasilnya dengan meraih nilai UNBK Jurusan IPS tertinggi di tingkat Sumatera Barat. Rinciannya, Bahasa Indonesia 76, Bahasa Inggris 94, Matematika 97,5 dan Ekonomi 90.

Gadis 17 tahun itu sengaja mengambil jurusan IPS. Semua itu untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang akuntan. Hal ini jugalah yang membuat dia fokus menjalani proses pendidikan. Baginya sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu. Tak ada waktu bersantai di sekolah sebelum tugas selesai. Kalau sudah sampai di rumah, pastilah dia tak kan pernah fokus belajar.

“Saya kalau sudah di rumah sudah tak fokus lagi, maka dari itulah saya tak pernah buang waktu. Setiap ada waktu luang saat jam istirahat, pasti saya lebih memilih berdiam diri di kelas,â? ungkapnya.

Begitu pula jika pelajaran sudah dimulai, dia lebih memilih duduk di depan kelas agar tetap fokus mendengarkan penjelasan guru. Jika sudah begitu, dia tak perlu lagi belajar di rumah, palingan saat akan ujian dia hanya mengulang beberapa poin yang dianggap penting. “Saya cuma belajar saat guru menerangkan saja. Saya perhatikan, saya catat yang penting, maka saya akan paham,â? ujarnya.

Soal gemar membaca, hal itulah yang membedakan gadis berkulit kuning langsat itu dengan lain. Di saat siswa lain bosan dengan uraian artikel yang panjang, dia malah tetap fokus mencari ide pokok dari bacaan tersebut. Dan itu berlaku untuk semua bidang studi.

“Yang jelas membaca. Walau seberapa pun kurang pahamnya saya dengan kalimat tersebut, saya tetap baca sampai selesai,” tuturnya.

Baginya belajar itu bukan suatu beban, tapi hobi. Dia tak pernah memaksakan diri untuk belajar terus-menerus. Kalau sudah lelah, dia akan bermain. Terpenting, tugasnya sudah diselesaikan terlebih dahulu. “Saya belajar bukan saat mau ujian. Jauh sebelum ujian saya sudah mengulang-ngulang pelajaran yang diajarkan guru. Jadi, pas mau ujian saya nyantai saja,â? ungkapnya.

Baginya, ilmu ekonomi adalah pelajaran paling favorit. Dia mengaku setiap soal UNBK yang dipaparkan, pasti sudah pernah dia bahas sebelumnya. Saking hobinya membaca, dia tak pernah lelah membahas berbagai bentuk tingkatan soal, mulai soal UNBK tahun lalu sampai soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

“Tak ada yang sulit kalau niat belajar. Saya kalau tidak paham langsung bertanya sama guru pembimbing, jadi semuanya lebih mudah. Kenapa harus cemas, santai saja, yang penting fokus,â? ujarnya.

Dia mengaku tak punya tips khusus untuk menghadapi ujian, sebab semua pelajaran yang sudah dilalui buah hasil kefokusannya sejak kelas X. �Itu gunanya saya serius dan fokus memperhatikan guru menerangkan. Ilmu tersebut akan tetap tertinggal. Mungkin ada sedikit lupa, tapi saya tahu di BAB berapa saja,� ucapnya.

Jessica yang saat ini sudah mendapat beasiswa BCA. Dia akan melanjutkan pendidikan ke BCA Institut, sebuah perguruan tinggi setara S-1 non gelar. “Kalau pendidikan di sini karir terjamin, dapat uang saku juga. Biaya pendidikan gratis. Saya ambil program akuntasi. Impian saya terwujud untuk mandiri,â? ujarnya tersenyum.

Di kesempatan yang sama, Wakil Kepala bidang Kesiswaan SMA Don Bosco, Mardalena menyebutkan, Jessica memang pantas mendapatkan hasil tersebut. “Sewaktu kelas X nilainya sudah tinggi, sehingga saya anjurkan untuk masuk IPA. Tapi dia tidak mau, katanya lebih suka IPS,” ucapnya.


(iil/jpg/JPC)